Sabtu, 22 Maret 2014

terkadang aku terlalu takut untuk mengahadapi sebuah kenyataan. Meski nyatanya itulah jalan yang harus dijalani. Inilah aku, hanya seorang manusia yang mungkin tak berguna, atau belum berguna....??? padahal seringkali aku mengunjungi laut, pernahkah kau perhatikan laut dengan saksama..? Ya, ia selalu bergelombang, begitulah kenyataan hidup kita yang tak pernah luput dari masalah. Hanya saja berteori tak segampang melakukan prakteknya dalam kehidupan. Teori mungkin akan selalu bisa diutarkan oleh siapapun, namun aplikasi dalam kenyataannya lah yang jauh lebih penting. Ketika kita berteori, mungkin akan dengan mudah terlupakan, namun ketika kita mempraktikkan teori tersebut maka disitulah letak penanaman karakter yang kita tumbuhkan. Teori hanya akan jadi sekedar teori, ia bisa terbang dibawa nagin, hanyut oleh riak air dan pergi entah kemana. Hidup ini tidak memerlukan teori yang berlebihan, cukup kau ikuti jalan yang ditunjukkan dalam Kitab Agung yang Ia buat, dan berusaha menjalankannya sedikit mulai sedikit. Karena pada hakikatnya teori-Nya lah yang paling benar. Setiap manusia punya akal, dan dengan itu kita semua bisa berteori, tapi tak ada yang dapat menjamin bahwa premis-premis yang kita hadapi dapat kita simpulkan dengan benar. Kita hanyalah manusia, manusia yang berjalan dalam kehidupan kita masing-masing. Namun kita hanyalah sebatas manusia. Manusia yang bisa berteori, berencana dan bermimpi, namun Allah jualah yang menentukannya. Terkadang kita menganggap apa yang kita rencanakan, apa yang kita pikirkan itulah yang paling benar. Sungguh angkuh, bukan...? Dan ketika Ia tak mengabulkan apa yang kita pinta, kita menganggap Ia sungguh tidak adil. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa sesungguhnya Ia lah Yang Lebih Mengetahui, dan kita tidak mengetahui apa-apa selain dari sedikit saja ilmu yang laksana setetes air diluasnya samudera.. Ia selalu mendengar, tetapi tidak selalu menjadikan apa yang kita inginkan menjadi kenyataan. Mengapa...? Karena apa yang kita inginkan, belumlah tentu terbaik untuk kita. Namun apa yang Ia takdirkan itulah yang terbaik, meski terkadang kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk, semua itu tak lain karena kita hanyalah insan yang lemah yang tidak pernah tau keindahan di atas puncak gunung sebelum mendakinya dengan segala jerih payah dan menerobos rintangan yang menghadang disudut-sudut perjalanan kita....
So, jalani kehidupan ini dengan optimis,,, jangan pernah letih untuk terus berjalan hingga kita sampai ke puncak gunung dimana dari atasnya kita bisa menikmati keindahan yang begitu menakjubkan yang tak bisa dilihat dari bawah oleh orang-orang yang tidak pernah mau mendaki gunung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar