Rabu, 14 Januari 2015

Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon?

Cerpen Eko Triono (Kompas, 28 April 2013)
Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon ilustrasi Sunadi Doel
SEBELUM kau bertanya, “Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?” hujan lebih dahulu berwarna tembaga.
Merkuri yang tinggi, tegak dan melengkung; berbaris menundukkan kepala di sisi jalan provinsi J, dan kita mengira mereka sedang sibuk, atau mungkin berkabung, pada lalu lintas yang senantiasa bergegas, seperti saat, seperti waktu (yang kerap terlepas dan bersambung). Penerangan dalam bus dimatikan, sejak beberapa jam yang lalu.
Penumpang yang lain sepenuhnya mengantuk; nyaris terlelap, punah dari jaga seolah mereka akan tinggal di bus ini untuk selama-lamanya. Lelehan hujan yang mengalir pada jendela kaca jatuh lebih nyata dari yang semestinya. Dan, entah mengapa, tiba-tiba kita saling bertanya: benarkah di suatu kota, hujan dan gerimis dapat berubah menjadi logam? Dan hari akan bercadar, dan, kita benar akan sampai? *
Kau senyum tipis: jadi logam mulia, atau, logam hina?
Aku mengangkat bahu.
Itu bukan soal.
Kita saling meletakkan pandangan di dalam perasaan masing-masing.
Dan di luar, cuaca saat ini adalah kabut dalam lanskap gelap rawa-rawa pantai. Ada pula nuansa kota-kota yang kita lintasi; lapak-lapak tenda dengan lampu neon 15 watt, tempat isi ulang pulsa, ATM, penjual buah, rumah-rumah dengan beranda, restoran, apotek 24 jam, gambar-gambar kangen di bak truk, pasangan yang saling berbonceng dengan lambat, dan itu, sepotong bulan biskuit yang selalu terlambat 4 menit; bergelantung pada kemiringan 300 di arah Timur.
Dan kau mulai bercerita soal bulan. (Cerita yang tidak kusukai karena alasan pribadi).
Bahwasanya, pada suatu malam yang ceria, hari Sabtu, kalian pernah duduk-duduk di halaman rumah kontrakan. Zafin, putra kecil kalian, begitu menggemaskan. (Aku membayangkan bentuk muka, pakaian, dan gaya sisiran rambutnya). Dan, katamu kemudian, sepotong bulan biskuit, muncul dari semak-semak nyiur, dari arah sungai yang tersembunyi arusnya.
Zafin terpesona melihatnya. Ia kemudian bilang:
“Mama, mengapa malam-malam begini ada matahari?”
“Itu bukan matahari, sayang,” katamu (disertai senyum ingatan geli), “itu bulan.”
Dan kamu tahu? Zafin memandang penuh takjub, tak henti-henti, hingga seluruh sinar bulan itu menggenang di air mukanya. Dan tak kusangka memang, ternyata, ia baru pertama kali lihat yang namanya bulan. Ia pun bertanya lagi, ‘Itu bulan siapa, Ma?’ Kami sempat bingung. Kujawab saja, itu bulan kepunyaan Tuhan, sayang. Dan ia malah lanjut bertanya, ‘Tuhan? Siapa dia? Kakek-kakek nelayan ya? Mengapa dia menaruh bulannya di sana? Rumahnya di seberang sungai ya, Ma? Kita main ke sana yuk! Kita pinjam bulannya, buat dipasang di kamar Zafin.’ Kami terdiam. Antara lucu dan tak mengerti isi pikiran Zafin. Untung ada penjual molen lewat. Zafin suka molen pisang. Dan pertanyaan tadi, ia abaikan dalam seketika.
Aku minta izin padamu untuk merasa gembira, tepuk tangan, dan berkata, bahwa barangkali, putramu itu akan menjadi seorang filsuf, atau, penyair.
(Meski sebenarnya aku muak dengan kebahagiaan kalian, dan, benci mengatakan pujian palsu).
Kusebut-sebut perihal mukjizat yang seringkali terabaikan, teralihkan oleh dorongan menjadi ideal yang lain. Kau menanggapi dengan baik. Malahan, kau menyinggung-nyinggung tentang seorang penyair, yang karena patah hati, lalu memilih jadi relawan di daerah konflik. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di sana, kata dia, hujan malah berubah jadi peluru. Tajam dan seringkali berdarah. Kelaparan, pengungsi, kemah-kemah penuh penyakit, mi instan, dan seterusnya.
Dia masih muda, tapi sayang, cinta yang gagal membuatnya lebih menderita 10 tahun dari usia kebahagiaan yang seharusnya dia miliki. Hari-harinya adalah menulis laporan pembantaian, tinggal di antara orang-orang yang tak lagi paham apa arti merdeka dan tanah air, menghibur seorang ibu yang anaknya ditembus peluru, bernyanyi bagi anak-anak yang kehilangan ayahnya, meneplok nyamuk yang begitu banyak di malam gelap musim hujan, dan seterusnya.
Aku buru-buru menambahkan, “Dan dia selalu merindukan cintanya yang hilang, menulis sajak yang dirahasiakan, dan, menyusun surat cinta yang tak pernah dikirimkan.”
Kau senyum meledek:
“Lalu dia mencoba pulang, entah untuk alasan apa.”
(Kau ini, memang paling bisa).
Dia pulang untuk sesuatu yang masih dirahasiakan, kataku.
Kemudian, dia bertemu dengan cintanya yang membuat menderita itu, yang telah memiliki anak dan rajin bercerita tentang anaknya. Mulai dari ketika dia belajar memanggil ayahnya dengan cadel, sampai soal menyebut bulan sebagai matahari yang datang di malam hari, dan, ingin memindahkannya ke kamar—tentu dengan kemiringan yang sama, 300 dari arah Timur. Mereka berusaha bercakap-cakap seolah tak pernah ada apa-apa; tak pernah mengenali satu sama lain, tak pernah menyentuh satu sama lain.
“Apa pertemuan itu suatu kebetulan?”
Salah satu pertanyaan darinya.
“Kebetulan? Apa itu kebetulan?” Kata si penyair. “Angka dalam lotre murahan yang dijagai lelaki tua di tepi jalan, atau, saat tiba-tiba kita ada dan tiba-tiba tiada?”
“Sayang sekali, sudah tak ada lagi tempat bagimu untuk menyimpan puisi-puisi. Dunia sudah sesak, sudah penuh.”
“Dan sudah menyakitkan bagi perempuan yang baru dicerai; dihapus dari kalimat cinta fiktif.”
Kita diam.
Dendam silih dalam jam digital berwarna merah saga di dekat kondektur yang saling sulih dengan dingin.
Aku menyandarkan punggung, lelah.
Dan kita memang sudah lama tak menyenangkan lagi. Cahaya-cahaya saling berpapas dan melewati. Jalanan berlorong. Berlabirin. Kita seperti melaju dalam pori-pori terumbu karang. Lagu-lagu lambat diayunkan membuat penumpang lain makin lelap. Kita hanya mampu menahan tawa, saat lirik dari Queen seperti sengaja dilemparkan oleh kondektur pada kita: “Too much love, will kill you….” Kita, pada hari yang telah jadi silam, sebenarnya pernah seperti saat ini. Bedanya, ketika itu kau bersandar di bahuku, dan, kadang kau diam-diam mencuri waktu untuk mencium pipiku dan mengatakan:
“Senyummu terlalu manis untuk seorang pemikir yang berlagak serius,” (matamu menggoda).
Dan kita mengisi perjalanan dengan menerka apa-apa yang terjadi di antara rumah pada tepian jalan yang kita lintasi.
“Kamu tahu, anak itu bilang pada ayahnya: Ayah mengapa gula-gula kapas berwarna merah muda?”
Ayahnya bilang, katamu selanjutnya, “Itu karena pedagangnya ingin punya anak perempuan yang cantik, yang punya leher indah.”
“Bukan begitu,” aku merasa tidak setuju, “anak itu justru berkata: Ayah, jangan biarkan aku menjadi dewasa. Kemudian dilahapnya gula-gula kapas itu sambil berdoa agar ia tak lekas menjadi besar. Lihatlah….”
Kau tertawa, mana ada anak kecil secerdas itu. Anggap saja dia pernah mendengar cerita betapa menyakitkannya menjadi dewasa; terbatas dari kebebasan melakukan apa pun, menanyakan apa pun.
Kau menatapku, benarkah kita telah menjadi dewasa? Aku mengangguk. Kita berpelukan. Ada jeda dari musim yang tak mampu kita tahan. Dan kita berganti dari memperhatikan seorang anak dalam gendongan pundak ayahnya, yang sambil menikmati gula-gula kapas merah muda itu, ke seorang nenek keriput yang menjemur padi, dan bukit-bukit.
“Menurutmu, apa yang dikatakan bukit-bukit itu kepada kita?”
Kali itu, giliran aku yang menggodamu, “Beri aku sebuah tanda, kata sang bukit. Beri aku…. sebuah tahi lalat. Sebuah, atau lebih.”
Kau mencubitku, geli.
Kita saling melirik.
“Kalau pohon-pohon itu?”
“Menurutmu?”
“Mmm, apa ya, mungkin, mereka bilang, kalian bisa pergi-pergi, sementara kami, sejak lahir sampai mati berada di sini.”
Kita mengambil waktu untuk memperhatikan mereka. Daun-daunnya bersorak sepi di dekat perlintasan. Entah untuk apa mereka ada, jika tak seorang pun mengakui. Setelah itu, seberapa jarak dari hitungan bulan, kita tak pernah bertemu lagi.
Selain pertanyaanmu yang tiba-tiba melompat: “Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?”
“Kenapa memangnya?”
“Bukankah berbagai pohon dapat tumbuh di tempat yang sama dengan damai?”
“Ya. Kenapa?”
“Ini soal perasaan. Kau tidak akan mengerti.”
Jujur, aku tak tahu harus komentar apa. Kurendahkan sandaran 150 dan mencoba berpikir pada kursi nomor 11, di sebelahmu ini. Hujan pun semakin menembaga.
Dan lampu-lampu lalu lintas memberi tahu lagi, pernikahan kalian memang berbeda agama. Kemudian, berpisah. Zafin dibawa oleh ayahnya.
Bus berhenti sejenak di kota G.
“Aku mengira, seandainya pohon-pohon beragama, hewan-hewan berideologi, dan para jin dan tuyul membuat undang-undang, mendirikan partai, mengendalikan kekuasan, hukum, dan politik, masihkah kita disebut sebagai manusia?”
Seorang penumpang naik.
Perempuan. Tapi tidak sepertimu. Dia mendekat, melihat sana-sini kursi yang kosong.
“Boleh aku duduk di samping Anda?”
“Ini sudah kubeli.”
“Tapi itu kosong?”
“Tidak boleh aku beli kursi kosong?”
“Untuk apa?”
“Ini soal perasaan. Kau tidak akan mengerti.”
“Anda pasti bercanda,” dia senyum, seolah tak percaya. Kutunjukan tiketnya: atas namamu.
“Masih tak percaya?”
Dan dia pun kemudian berlalu, duduk di sebelah kakek-kakek tua, jauh dari tempatku berada dan entah berkata apa.
Sementara jam, masih terus berjalan. (*)


* Menanyakan salah satu baris puisi Goenawan Mohamad, Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam)

15 Menit dan Selanjutnya

Cerpen Eko Triono (Suara Merdeka, 8 Januari 2012)

ASISTEN Sulap amatir, Tonto, mendengar suara tangis dari dalam tas, saat jarum aneh menusuk-nusuk dada kirinya. Angin pektoris, dia tahu, otot-otot jantungnya selalu kekurangan darah setiap dingin, seperti para vampir di musim hujan.
Dia punya 15 menit untuk melawan. Telentang, dia menjinakkan nafasnya sendiri yang mulai liar.
Tangannya meraba-raba meja. Dia butuh nitrogliserin. Atau gejala itu bakal jadi serangan prinzmetal dan dia mati mendadak. Wajahnya pucat, mulutnya nganga. Lima menit membagi tegang. Dan Tonto masih telentang, mejam. Dan suara tangis itu makin mendaraskan kesedihannya yang terkesan paling memilukan seolah jerit prajurit muda yang sebenarnya belum mati, namun ikut dikuburkan secara masal.
“Aku sudah tak jual hantu lagi,” Tonto kesal, “pergilah ke Walijo, tenggara pasar. Dia yang masih kulakan mewarisi bisnisku itu sejak 20 hari yang lalu.”
Tangis itu diam, sebentar, agaknya paham.
100 detik kemudian tersetel lagi. Tonto terus berusaha mengatur komplikasi nafas dan emosi dengan cara sepotong pompa piston pompa di roda sepeda yang kempes, roda dari parunya sendiri.  Pengalaman bergaul dengan hantu membuatnya terbiasa menasihati arwah-arwah tak berwadak yang menyesali keadaan.
“Diam! Jangan ajak aku mati. Mati itu tak abadi. Yang abadi hanyalah hidup. Tapi, jangan menyesal. Semua toh bakal mati sepertimu juga, jadi hantu juga.”
(Tak ada respons)
“Aku tahu kamu sedih,” Tonto menatap eternit kosong, “tapi, bukan di sini tempatnya. Sana, mengadulah pada presiden para hantu.”
(Terdengar lirih, aku mau sekolah)
“Apa katamu? Kau hantu dan ingin sekolah? Terus nangis? Jangan melucu, aku ini pernah jadi komedian,” Tonto mengelus, dadanya agak baik, obat itu agaknya bekerja dengan mujarab.
(Tangis masih terjadi, aku ingin sekolah.)
“Dengar, komedian yang sejati hanya bisa tertawa pada leluconnya sendiri, bukan orang lain. Tak ada sekolah bagi hantu,” Tonto tertawa menghina, “sekolah. Apa itu sekolah?”
(Tangis itu jadi makin keras)
Tonto memiring, menatap tas muasal suara tangis. Tangis yang seakan paling pilu itu seakan berkas cahaya yang muncul memantul-mantul ke segenap sudut kamarnya. Ke pintu, gantungan baju, gordin, potongan gambar artis, ke pajangan rambut-rambut perempuan yang dicurinya dengan sangat profesional hingga angka 588. Lima ratus delapan puluh delapan rambut perempuan dengan catatannya masing-masing; ciri-ciri, tanggal kejadian, dan tanggal kemungkinan menyihir, menjampi, memeletnya untuk jadi tergila-gila pada suatu hari nanti.
“Hantu apa lagi yang jatuh cinta kepadaku,” Tonto bangkit, “kenapa bukan gadis di Malioboro.”
Dengan hati-hati, dipitingnya amplop yang diambil dari dalam tas. Ia letakan ke muka kasur.
Dan suara itu masih tersedu dibarengi halauan angin gila. Dan sesekali ada muncul cericit burung, peluit antar mobil, rem-rem mendadak, juga lagu dangdut dan suara serak lelak perindu yang berdendang tentang alun-alun dan pertemuan saat hujan gerimis memayungi; komposisi suara yang sangat dikenal Tonto setiap berangkat menuju Gedung Societ TB, Yogyakarta tepatnya setelah perempatan.
Di gedung itu, seminggu sekali dia membantu pesulap Hong Ciang Ciang (sebuah nama palsu), keturunan Mandarin, yang mengisi acara malam sabtu dengan sulap-sulap sederhana namun membuat orang bertanya-tanya. Adakalanya Bah Hong mengeluarkan jeruk dalam bentuk utuhnya, setelah sebelumnya ia memakan dan mengunyahnya remuk. Bah Hong akan tertawa-tawa, kemudian melemparkan jeruk yang dikeluarkan dari mulutnya itu ke arah penonton yang riuh bertepuk. Dan, dia akan berkata, inilah yang dilakukan Kumbokarno, anak Wisrawa dan Sukesi, dengan ajinya gedongmengo, dengan menelan dan mengeluarkan makanan kembali saat Duryudana meminta pertanggung jawaban atas apa yang dimakannya selama tinggal di kerajaan.
“O, apakah kita mampu mengembalikan apa yang telah kita makan dari alam, wahai penonton?” Bah Hong berdeklamasi, Tonto hapal selanjutnya puisi paling bodoh itu, puisi paling tak berarti dibandingkan apapun, “apakah kita mampu mengembalikan apa-apa yang kita telan dari Kerajaan Tuhan Semesta Raya ini? Kalau tidak, mengapa kita angkuh, mengapa kita sombong, mengapa kita merasa kaya, mengapa kita merasa memiliki, menindas yang lain, menguasai yang lain, membinasakan yang lain?”
Semua diam. Lampu meredup. Mereka yang meribut lemparan jeruk terkesima, atau, mungkin cuma pura-pura.
Dan saat itulah, pekerjaan Tonto dimulai. Dia menarik tirai setelah gelap, seusai penonton dibiarkan tentatif dengan dirinya sendiri. Diberesinya panggung, lalu disiapkan properti berikutnya. Demikian seterusnya sampai menjelang pukul sebelas malam. Tak jarang ia memilih tidur di sana. Pulang pagi, atau menjelang siang, setelah sarapan dengan soto dekat gudang, dan penjual cendol Banjarnegara, sebelum pasar Bringharjo dari arah Progo.
Dan siang tadi dia menaiki motor bebeknya, berhenti di perempatan, dan memerhatikan tiga warna lampu dengan umpatan dalam hati. Beberapa anak, seperti biasa, menawarkan amplop untuk sumbangan.
Di pipi amplop bertulis; “Mohon bantuannya untuk membeli peralatan sekolah, atau; mohon keikhlasannya menolong ibu saya membelikan obat, atau yang sejenisnya.”
“Makin pandai saja peminta-minta zaman sekarang,” seseorang bicara pada seorang lain yang diboncengnya.
Ada respons, “Di Australia malah ada pengemis terkaya di dunia yang bersitawa pada sudut kota Sidney, di Aceh juga….”
Tonto diam. Dan lampu hijau.
Anak-anak itu bergegas melarut, berlarian, sicepat, menjujal-jujal. Tapi kendaraan selalu lebih tergesa di saat seperti itu. Amplop itu terbawa tangan Tonto.
Dan sekarang, mengeluarkan suara tangis, di saat ia terserang angina pektoris.
“Hantu apa dalam amplop anak jalanan,” Tonto bertanya, ia berpengalaman tentang hantu, ia pebisnis hantu, setidaknya mantan pebisnis, “hei, apa kau bagian dari mereka?” Tonto mengupingnya sebelum dibuka. Semakin dikuping semakin pilu dan menyayat ratapan tangis.
Ratapan kanak kecil yang serasa lima balonnya meletus semua, balon dan butir-butinya.
Tonto memutuskan memindahnya ke meja. Ditekuknya lampu baca. Dia sobek ujungnya. Dia buka. Isinya air. Dia perhatikan dengan seksama; air yang seperti air mata, dilihat dari keruhnya, berbentuk pipih seperi sel darah raksasa yang berkerumpul, berguncang-guncang, dan terus menerus menyuarakan tangis. Di sela-sela tangis itu, ada angin yang sesekali berbagi dingin, cericit burung-burung gereja di kejauhan, peluit antar mobil, rem-rem mendadak, juga lagu dangdut dan suara serak lelaki perindu yang berdendang tentang alun-alun dan pertemuan saat hujan gerimis memayungi. Ada teriakan di sana-sini, ada sela suara memelas, suara malu, lalu suaranya sendiri yang mengumpati cuaca dan musim.
“Kuharap ini bukan mimpi, dan kau adalah hantu air mata berharga tinggi.” Tonto ambil gelas.
Dia tuang dengan cermat. Satu dua gumpal air mata, runtuh, jatuh, menempuh tebing gelas, turun, mengumpul dengan gumpal-gumpal yang enggan mencari pada tepi gelas; aroma keringat, bau got, asap, dan debu, mulai tercium dari lingkaran gelas.
“Apa Bah Hong sedang uji coba sulap terbarunya padaku?” Dia bertanya. Dan jam telah sepuluh malam.
Baru saja dia nyalakan motor, hendak pergi memastikan, ketika dia mendengar suara tangis muncul dari balik pagar rumah kontrakannya. Tangis yang sama persis nada, rintih, giris, dan ngilunya.
Tonto melongok sebalik ruji pagar, dan itu dari arah selatan.
Mungkin orang di selatan juga mendapatkan bungkusan sulap yang sama dari Bah Hong.
Dia menuju arah tangis lain itu, dengan membawa gelas air mata yang terus menerus menangiskan ratapan paling pilu dan suara-suara latar. Belum jauh, dari arah belakang, suara tangis yang sama muncul.
Tak lama, orang-orang sekitar perumahan ke luar dengan wajah ketakutan.
Tangan satu memegang baterai, yang lain lilin, yang lain kitab suci, di tangan lain; ada gelas, pucuk surat, atau cawan. Mereka nampak bertukar wajah dan suara takut, tanya, dan tentu, selalu ada curiga di saat-saat yang tidak menyenangkan.
“Ini dari pesulap Hong!”
“Aih, bukan! Bukan! Aku sudah menghubunginya.”
“Bohong!” sahut yang lain.
“Tunggu, mungkin ini ulah para dukun.”
“O, Tuhan, pengemis menggunakan dukun untuk mengemis. Perampok menggunakan dukun untuk merampok. Pejabat menggunakan dukun untuk menjabat.”
“Husy! Bunda Salma, jangan meracau.”
“Dia takut. Aku takut. Aku penat. Aku tak kuat mendengar ini.”
“O, tangisnya, ratapnya. Aku benci. Aku benci para peratap.”
“Minta sekolah, tak mau kerja, tak mau ngamen. Kau dengar itu juga?”
“Memuakkan! Omong kosong. Sinetron.”
“Kita buang, kita buang saja ke got-got ini!”
“O, Tuhan, kutuklah para peminta.”
“Hush! Anda pun meminta pada Tuhan.”
“Mana?”
“Itu tadi.”
“Maksudku para peminta-minta. Peminta yang mendukunkan air mata ini untuk meneror kebahagiaan hidup kita.”
“Sudah! Jadi bagaimana ini?!”
“Buang!”
“Tuang!”
“Buang, tuang….”
“Lemparkan ke got. Biar tangisnya reda, biar terbawa air, ke sungai, ke laut, dan kita tenang.”
“Buang, tuang… ayo, tetangga-tetangga!”
Tonto makin dekat dengan kerumunan. Disempatkan bertanya pada seseorang.
“Maaf, dari mana Nyonya mendapat air mata yang terus menangis itu?”
“Mana kutahu, sudah ada di dalam mobil! Ah, sudah, ayo tuang!”
“Kalau Anda, Kek?”
“Dari kotak pos, Nak,” Kakek bicara tanpa bijak, “seseorang mengirimkannya pada alamatku. Sungguh, aku tak kuasa mendengar tangis anak kecil. Rasanya seperti melihat kematian di mataku, melihat anak cucuku menangis di samping peti dan proses pemakamanku….”
Tonto menyela, “Kakek akan membuangnya ke got juga? Dan kakek juga yakin semua yang tak mungkin adalah sihir? Barangkali ini hantu, atau apa begitu?”
Mata kakek itu mau nyalak, “Aku tak ingin merasa mati, takut mati sebelum mati; mati dalam teror kematian. Aku mau hidup bertahun lagi. Ayo, Nak, semua sudah menuang dan bergegas kembali. O, aku benci bising, kota ini jadi bising dengan air mata dari dukun murahan.”
Dan 15 menit setelah itu, hujan turun berwarna merah selama 24 jam yang cemas dan mencurigakan. (*)
 .

Jumat, 09 Januari 2015

Kenapa dengan Pulau Evolut?

Cerpen Eko Triono (Media Indonesia, 1 September 2013)

Kenapa dengan Pulau Evolut ilustrasi Pata Areadi
“MEREKA berhasil!” teriak ayah dari sofa. Tidak biasanya ia mengajak bicara. Meski kami serumah, kadang kami lebih mirip orang yang kebetulan bersama. Kebetulan aku sebagai anak, dan ia sebagai ayah.
“Lihat, mereka berhasil!” teriak ayah lagi. Ia menunjuk-nunjuk televisi 19 inci. Kupadamkan kompor dulu, sebelum mendekat padanya di jarak 15 langkah. Aku punya pengalaman buruk menggosongkan panci karena terbius oleh acara sulap. Bukan hanya gosong, panci itu juga lumer, dan setelah dingin bentuknya jadi tak keruan, seperti pulau yang penyot di sana-sini.
“Lihat, Nak, cepat! Tinggalkan pancimu. Ini benar-benar mengagumkan,” tumben ayah menyapaku dengan ‘Nak’. 
Biasanya panggil nama. Itu pun jarang sekali. Sudah kubilang, aku jarang bicara dengannya. Dan pagi ini, aku merasa agaknya ia ingin kembali menjadi ayah, dan aku menjadi anak, atau entah bagaimana. Sekarang, aku sudah di belakangnya. Ia bersandar ke perut sofa krem, menghadap televisi. Ia gemuk, mirip panda yang murung.
Seorang menteri kulihat sedang memegang dua jenis alat kontrasepsi. Ia bicara dengan latar keluarga bahagia. Mengiklankan program KB. Di bawah gambarnya, ada nama dan gelar. Matanya melirik ke kiri. Tidak fokus kamera. Ia menyontek teks. Aktor yang payah. Apa ini yang dimaksud ayah? Bukannya ini iklan layanan masyarakat yang terjadi setiap hari selama bertahun-tahun dengan aktor menteri yang sesuai dengan periodenya?
“Bukan, bukan itu!” katanya. “Kamu telat, Nak. Acaranya kena iklan. Duduklah sini, kita tunggu.”
Aku pun duduk di sisi kanannya. Tidak terlalu dekat. Kami menonton gonta-ganti iklan selama detik-detik yang membosankan. “Ayah mau kopi?” Rasanya ada badai es dalam jantung saat memanggilnya ayah. Mungkin karena terlalu lama tidak melakukannya. Lidah terasa lengket dan 10 gram lebih berat. Ia mengangguk. Ia bilang, segera, jangan sampai ketinggalan acaranya lagi. Aku kembali ke dapur menempuh jarak 15 langkah dengan kecepatan maksimal.
Belum pernah aku merasakan gugupnya mendapatkan pesanan secangkir kopi. Seolah yang memesan di depan itu bukan ayahku, melainkan seorang presiden republik yang mengantuk di pagi hari.
Kalau kupikir-pikir lagi, ketika itu kejadian dan emosinya berkebalikan dengan adegan dalam film tentang kopi dan bom atom. Dalam film itu dikisahkan betapa tenangnya si lelaki tua, tokoh utama. Puluhan pesawat tempur mengerang di luar atap. Satu di antaranya akan menjatuhkan bom atom. Namun, ia tetap saja membuat kopi. Ia digambarkan dengan kesantaian yang rinci; mulai dari caranya mengusir semut-semut di stoples gula dengan ketukan-ketukan lambat di antara gemuruh pesawat dan orang-orang yang berteriak ketakutan, bunyi air mendidih, tingkahnya yang estetik dalam menghirup aroma kopi, sampai caranya menyajikan untuk diri sendiri, sebelum bom atom meledak menyemburkan reaksi fusi yang ngeri, memuncratkan kopi ke arah kamera. Lalu gelap sepenuhnya. Dan muncul teks putih: The End. Bagi lelaki tua itu, seakan perang memang tidak lebih penting dari secangkir kopi pahit.
“Jangan terlalu pahit,” ayah tiba-tiba mengingatkan. “Segera. Ini mau mulai! Kamu harus lihat keberhasilan mereka di Pulau Evolut, Nak.”
“Kenapa dengan Pulau Evolut?” pikirku. Dan sesaat lagi, mungkin aku akan tahu apa yang terjadi di tengah laut itu.
Seandainya aku bisa mengetahui masa depan. Seandainya aku tahu bahwa acara Pulau Evolut yang kutunggu itu akan membuat hari esokku semakin sepi, tentu aku akan melakukan hal-hal seperti ini; mengambil palu, menggodam televisi 19 inci, dan berkata pada ayah, bernapaslah dan tetap di sini, hidup sebagai manusia itu perlu, meski kadang memang tidak menyenangkan. Namun, aku tidak tahu. Aku malah begitu antusias membuatkannya kopi.
Sikap gembira ayah membuatku bahagia sehingga seandainya dari jendela dapur tiba-tiba muncul Cassadra, putri dari Troy yang peramal dalam mitologi Yunani itu, lalu ia berkata bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada ayahku, aku juga tidak akan percaya. Sama seperti orang-orang Yunani, Apollo pun mengutukku. Dan kehilangan akan menyergap lagi. Seluruh benda dapur akan menatapku dengan kelam. Setelah ibu, kini giliran ayah.
Meski jarang bicara, dan terlihat kami seperti kebetulan satu menjadi ayah dan satu menjadi anak, ayah tetap pribadi yang menyenangkan. Ia menyukai Charlie Chaplin. Ia mengoleksi dan menontonnya berkali-kali.
“Dia itu manusiawi,” kata ayah.
Aku pertama lihat sulap juga dari film bisu Chaplin kesukaan ayah, The Circus (1928). Chaplin masuk rombongan sirkus dan pesulap. Ia jatuh cinta dan patah hati sekaligus. Ia memilih ditinggalkan di tengah lapangan gersang. Ayah juga begitu. Ibu selingkuh, minta cerai, dan menikah dengan selingkuhannya. Sirkus hidup dan cinta membuat ayah semakin pendiam, dingin, tak lucu lagi. Tapi kadang ia masih mengajakku menonton sulap di gedung-gedung pertunjukan atau di karnaval tahunan.
“Sulap itu,” jelas ayah suatu ketika, “seperti takdir. Penuh ketidakmungkinan di mata manusia. Orang-orang bilang, itu kecepatan kuasa tangan, padahal sebenarnya adalah kelambatan penonton dalam berpikir, sehingga terlihat ajaib.”
Dan, acara sulap pernah membuatku menggosongkan panci. Di rumah, aku yang masak menggantikan ibu. Di usia yang menginjak 25, aku telah menguasai lebih dari 100 resep asli Nusantara. Wajah ibu seperti wajah penyiar televisi itu. Bulu-bulu matanya runcing, alisnya tebal, bola matanya gelisah.
Kalau tersenyum, selalu terlihat seakan dibuat-buat. Yang menarik darinya adalah suara. Suara ibu sangat merdu seolah tidak ada lagi yang lebih merdu darinya. Aku tidak termasuk orang yang mengalami kesusahan tidur, sebab sejak kecil biasa dininabobokan dengan suara terbaik. Namun, suara itu pula yang membuat ibu jarang pulang dan punya kekasih baru.
“Dia tidak lebih cantik dari ibumu,” ayah seperti tahu apa yang kupikirkan.
Ia kembali meminta fokusku, “Perhatikan bagaimana orang-orang itu berhasil melakukan uji coba di Pulau Evolut.”
Dan aku memperhatikan.
Sepuluh hari setelah itu, aku menjalani hari-hari dengan memasak lebih sedikit dari biasanya. Ayah tidak pulang. Dan mungkin tidak akan pernah pulang. Pulau Evolut menarik hatinya yang sudah terlalu remuk. Ia nekat melakukan sesuatu yang buruk agar bisa tinggal di gumpalan tanah tengah laut itu. Ia menyatakan diri sebagai seorang yang korup di kantor perpajakan tempatnya bekerja. Sesuai hukum terbaru, orang yang mengaku bersalah lebih cepat dieksekusi. Ia pun dibuang.
Ia senang, tulisnya dalam surat. Di pulau ini, mereka benar-benar berhasil! Mereka, para ahli termutakhir, melakukan rehabilitasi penjahat korup dengan menggunakan sarana alam. Koruptor dihukum dengan menjalani hidup seperti kera di sejumlah pulau paling terasing. Salah satunya Pulau Evolut.
“Kami menikmatinya,” aku masih ingat acara itu menampilkan salah satu koruptor, “ini proses panjang menuju pemuliaan.”
Ketika aku menanyakan bagian mana proses pemuliaan itu, ayah membalas dengan surat manual. Nadanya cukup bahagia. Mula-mula, ia menyebut tentang alam dan suara-suaranya yang membersihkan telinga dan ingatan dari kebisingan kota. Selanjutnya, ia menulis dengan begitu santai soal tidak perlunya ia menggosok gigi di pagi hari, mencukur cambang, berganti pakaian, memikirkan pekerjaan, atau memanasi mobil. Ia juga tidak perlu mengangkat telepon atau membalas pesan pendek. Ia bebas dari semua itu.
Pendek kata, tulis ayah, dengan menjadi kera, hidup terasa lebih mudah dan efektif.
“Awalnya, ayah canggung. Tapi mereka, yang lebih dulu di sana, mengajari banyak hal. Baju, celana, dompet, jam tangan dan uang, tidak ada artinya bagi seekor kera. Kami belajar tidak rakus. Cukup buah dan tempat tidur di bawah pohon. Kami belum bisa menguasai cara bergelantungan. Itu sulit. Sama sulitnya saat kami harus menyamakan kegunaan dan kehormatan antara tangan dan kaki.
“Tidak mungkin kan, hormat pakai kaki sama artinya dengan pakai tangan, juga waktu salaman, atau menyapa orang?” Ayah rasa, dalam hal kaki-tangan mereka gagal. Kami pun tidak dimundurkan terlalu jauh. Hanya ke zaman manusia purba. Mengembalikan nurani, rasa sosial, tidak rakus, takut pada pencipta, menghargai semesta alam dan semesta manusia, adalah tujuan dari penemuan rehabilitasi terpidana korup ini, sebelum kami berproses menjadi manusia lagi—seperti penyucian jiwa. Diktum ini tercantum di papan masuk Pulau Evolut.
“Tapi, bukan itu tujuan ayah. Di Evolut, ayah hanya ingin menjauh dari kota, rutinitas, tekanan, kenangan, dan tentu rasa pahit ditinggal ibumu. Ayah ingin menyapih rasa sakit.”
Dan lama-lama, aku mulai merasa terbiasa tanpa ayah, si Chaplin Dingin, si Panda Gemuk itu. Kedudukannya sebagai ‘manusia-purba-baru’ kini membuat jarak kebetulan ayah dan kebetulan anak seolah sedang melintasi fase-fase zaman batu, logam, agraris, industri, lalu informasi.
Tapi, ngomong-ngomong, jam berapa sekarang? Kenapa sepi sekali?
2013
Penulis lahir di Cilacap, 11 Juni 1989. Kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNY. Ia meraih sejumlah penghargaan sastra.

Cerpen Ikan Kaleng

Oleh Eko Triono
 
/1/
Sam tiga hari di Jayapura; dia guru ikatan dinas dari Jawa. Dan tak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, menyadarkannya diam-diam. Ia tersenyum mengingat ini.
Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh legam dan rambut bergelung seperti ujung-ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing”
Sam memahami penggal dua penggal. Dia, seperti yang diajarkan saat micro teaching, mulai mengulai senyum lalu berkata, “Bapak yang baik, kurikulum untuk pendidikan dasar itu keterampilan dasar, matematika, bahasa indonesia, olahraga dan beberapa kerajinan..”
“Ah, omong ko sama dengan dong (dia) di bukit atas! Ayo pulang!”
Kaget. Sam tersentak, belum lagi dia selesai. Dan ini tak pernah diajarkan di pengajaran mikro. Juga di buku diktum bab penerimaan siswa baru. Dia pucat; diraihnya segelas air putih.
Pendaftaran pertama memantik rasa sabar dan sesuatu yang asing dalam dirinya. Ia bersabar menunggu detik berikutnya dari lepas pukul sembilan. Ia mengelap lagi wajahnya. Di meja pendaftaran samping, kosong, Tati belum datang. Cuma ada Markus, Waenuri dan Tirto—teman sekelasnya yang sedang betugas masing-masing di ruang lain; mulai dari siap berkas, mencatat kebutuhan anggaran dan menyiapkan papan tulis. Bismillah, ia mengharap, tepat ketika sebarisan orang-orang legam bertelanjang kaki menjejaki halaman yang setengah becek bertanah merah, dilatari sisa-sisa alat berat dan bekas pengadukan material bangunan itu.
Dan syukurlah, meski dengan penjelasan yang tak kalah berat; setidaknya, tak ada yang seperti orang pertama. Begitu seterusnya sampai Tati tiba membantu. Tapi ia masih penasaran , siapa sebenarnya orang itu. Ia mencoba mencari tahu, hasilnya, ternyata lelaki pertama tadi adalah kepala suku Lat, berada di sekitar pantai sebelah kanan, menembus seratusan rengkuh dayung untuk sampai di kampungnya yang ada di laut. Kira-kira begitu kata orang -orang yang juga ada berasal dari sana.
“Trada perlu risau, dong itu memang keras kepala,” kata di penjelas itu sambil bisik bisik takut ada yang melaporkan omongannya.
/2/
Hari tadi tercatat dua puluh satu siswa terdaftar jadi angkatan baru sekaligus kelas baru buat sekolah itu. Usia mereka beragam. Hari berjalan, minggu silih berganti dan bulan menumpang tindih. Tepat memasuki bulan Agustus, keganjilan itu muncul kembali. Meski sebelumnya pernah terjadi, tapi kali ini semakin sering.
Dua anak itu sering muncul di halaman. Mereka nampak memandangi sesuatu yang mungkin aneh baginya. Teman-teman yang lain menghadapi sebuah tiang dengan bendera dua warna. Berbaris lalu menyanyi-nyanyi. Dari sini Sam merasa iba. Ia dekati. Dan tahu betul mereka itu yang tempo hari dibawa oleh kepala suku Lat.
“Kenapa kalian, ingin seperti mereka?”
“He-eh…” yang satu mengangguk. Ia menatap teman-temannya yang menyanyi-nyayi bersama itu dari sana terbalas, dua tiga melambai ke mereka yang ada di dekat jalan depan sekolah itu.
“Apa ko ini Do! Trada boleh!! Bapa ade bisa marah”
Mereka kemudian menjauh, menurun di bukit-bukit kecil bercadas, berkelok, samar dan hilang bersama suara angin dan pemandangan hijau hutan juga beberapa rumah penduduk dan sekali dua waktu minibus berlalu dengan muatan penuh.
Sam memutuskan sore nanti ia akan mengunjungi rumah anak-anak itu dan memberikan semacam penjelasan.
Dengan dibantu salah seorang wali murid, sampailah dia di rumah lelaki itu. Sam kemudian menyampaikan maksud dan sejumlah penjelasan terutama perihal anak mereka yang sering datang ke sekolah.
“Ko trada perlu ajari torang. Torang dah pu sekolah sendiri. Lihat mari! Justru murid ko yang mari”
Sam, dengan setengah tak percaya mengikuti lelaki itu. Turun dari rumah besar, lalu menuju perahu di antara barisan rumah-rumah, aroma laut menebar, hidungnya disesaki asin dan matanya dipenuhi tatapan aneh dari penduduk sekitar. Dia menuju sebuah rumah yang sama di atas laut dan di sana nampak sudah dua anak lelaki yang menyambanginya siang tadi. Dan, beberapa muridnya yang ia kira sakit, ternyata mereka ada di sana.
Di tempat ini terlihat: barusan dayang-dayung tergantung, tombak bermata tajam, sebuah perahu di tengah ruangan, jala, pisau, sebuah titik-titik dengan cangkang karang yang kemudian Sam tau itu rasi bintang di langit. Lelaki Lat menjelaskan lagi dengan bahasa alihkode semi kacau, bahwa disinilah seklah yang ia dirikan. Sekolah yang diberinama Lat: Sesuai nama suku.
Sebenarnya lelaki tadi tidaklah bodoh terlalu. Ayahnya dulu pernah menyekolahkannya ke “sekolah pemerintah” meski hanya dikelas satu—demikian mereka menyebutnya, namun suatu hal mengganjal.
Ketika kakaknya yang sudah kelas enam di SD Jayapura 2 tak bisa apa-apa ketika harus nenemani kakak mereka yang lebih tua pergi melaut menggantikan ayahnya yang sakit keras. Dia, kakaknya yang SD tersebut, hanya bisa omong dan menyanyi-nyayi, lalu pamer angka-angka tak jelas dalam kertas, tapi tak becus membaca rasi bintang, arah angin, membelah ombak, mengarah tombak, apa lagi mencecap asin air dan jernih gelombang untuk menerka di mana ikan-ikan berkumpul. Dari situ ia benci sekolah—ia benci menghabiskan waktu dengan menyayi dan menggambar tidak jelas. Dan, pelak, ketika ada pembukaan sekolah baru ia selalu mencari sekolah yang mengajarkan anaknya melaut, membelah ombak, mendayung, membaca rasi bintang, menombak ikan paus dan seterusnya. Dan itu tak pernah ada, atau mungkin tak akan pernah ada!
Sam terdiam. Ia paku bagi kelana: semua diktum terkulum gelombang di kaki pancang: berpias-pias.
Dan juga sorenya, sam melihat bahwa cahaya senja senantiasa keemasan sebelum muram menjadi gelap, lelaki itu mengajar dua anaknya dan tiga dari muridnya yang belakangan absen. Dia mengajari cara memegang dayung, menggerakkannya kanan kiri di atas perahu di tengah kelas itu. Dan, tak sekalipun lelaki itu membentak atau bahkan memukul bila salah. Dia selalu berkata,
“Ko pasti bisa! Ko dilahir atas laut, makan ikan laut, garam laut, ko anak laut! Laut ibu torang. Kitorang cintai dayungi dan ciumi angin asin ini. Laut tempat ko makan, laut tempat ko besar nanti, ko paham sa pu nasehat? Ini tujuan ko sekolah di Lat, ko belajar hidup bukan cuma omong kosong menggambar. Ko dititipi laut bapa kitorang”
/3/
Peristiwa dua tahun silam terngiang makin dalam, di meja kelas ketika kini dia mengadapi pesan pendek berisi keluh dari sejumlah kawan di Jogja yang belum juga mendapat kerja. Dia menarik nafas. Untung dia dapat ikatan dinas; meski jauh seperti ini, terpisah dari keluarga.
Dia sedang mengabsen, saat tiba-tiba lelaki kepala suku Lat itu datang mengetuk pintu kelas. Dia izin sebentar pada murid- muridnya yang kini tinggal setengah—sisanya “sekolah” di Lat: memilih belajar membelah ombak dengan benar, membaca rasi bintang dengan sket cangkang dan seterusnya.
“Maaf ada yang bisa sayang bantu Pak?” Sam bertanya, dalam hati ia mengira lelaki itu, yang kini membawa kedua anaknya beserta anak lain, ingin menyekolahkan di tahun ajaran baru yang sebentar lagi tiba.
“Ko orang Jawa, bisa ajar torang buat ini?” Sam mundur sedikit. Ia kaget. Lelaki itu menunjukan ikan kalengan bermerek sarden.
Usut punya usut, setelah bercakap kemudian, sekolah Lat mengalami masalah. Murid-muridnya bertambah banyak, orang-orang Batu Tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sana, yang dalam waktu tak lebih dari setahun dapat membantu menangkap ikan. Yang mengajar juga dari orang mereka sendiri yang berpengalaman. Nah dari sana penghasilan menangkap ikan naik deras. Ketika kepala suku Lat itu pergi ke Jayapura untuk memasarkan ikan, ia melihat ikan kaleng yang ternyata harga sebuahnya setara dengan harga satu kilogram ikan mentah. Dia terkejut. Padahal, menurut si kepala suku Lat itu satu kaleng hanya berisi dua tiga potong. Dari ini dia ingin menemui sekolah yang bisa mengajarkan “murid”-nya membuat ikan kaleng.
Dan sekali lagi Sam menggeleng. Ia menjelaskan kembali tentang standar pengajaran di sekolah, kurikulum, evaluasi, ijasah, menghitung, menghafal nama menteri, Pancasila, Undang-Undang Dasar…
“Ah baiklah. Ko tau tempat buat ini?” kepala suku menegas. Matanya resah. Anak-anak di belakangnya tengah membaur bersama anak-anak dalam kelas. Sam membaca pabrik produksinya yang ternyata itu ada di Banyuwangi Jawa Timur.
“Sa mau ke sana! Ko kasih tau..”
Sam terbengong. Dan ia akan makin kaget, jika tahu bahwa lima hari mendatang akan ada rombongan kecil dengan perahu berlayar sedang, berbekal peta yang ia berikan sewaktu bertanya beduyun megarungi Samudra Hindia menuju Jawa Timur buat belajar cara mengalengkan ikan agar tidak rugi dalam menangkap demikian banyak ikan, agar anak-anak kelak sejahtera, agar listrik penuh, televisi seperti kota, mobil, motor… Tidak ada yang ragu; mereka anak-anak sekolah Lat; yang, membaca angin, gemintang dan asin air laut dan jejak-jejak ikan diantara buih dan gelombang. Jiah! Khiaaak!

HUKUM MENGARANG CERITA FIKSI




Oleh : KH. M. Shidiq Al-Jawi
 
Tanya:
Ustadz, bolehkah mengarang cerita fiksi, seperti cerpen, novel dll?

Jawab :
Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai hukum membuat kisah fiksi (qashsash khayaaliyyah); Pertama, ada ulama yang mengharamkan, karena dianggap membuat kebohongan (al kadzib). Kitab Fatawa Lajnah Da`imah (12/187) menyatakan,“Haram bagi seorang muslim untuk menulis kisah-kisah bohong (fiksi), karena dalam kisah-kisah Al Qur`an dan Hadis Nabi dan yang lainnya yang menceritakan fakta dan merepresentasikan fakta, sudah cukup sebagai pelajaran dan nasehat yang baik.”

Kedua, sebagian ulama membolehkan, seperti Syaikh Ibnu Utsaimin, dengan syarat isi cerita fiksi menggambarkan hal-hal yang boleh (jaiz) menurut syara’, tidak menggambarkan hal-hal yang diharamkan, dan secara jelas menyampaikan kepada pembaca bahwa yang disampaikan adalah fiksi bukan kenyataan, agar tidak jatuh dalam kebohongan. (Lihat : Ibnu Utsaimin, Fatawa Muwazhzhafiin, soal no. 24).

Pendapat yang rajih (kuat), adalah yang membolehkan membuat cerita fiksi asalkan terikat dengan syarat-syarat syar’i agar tidak terjatuh dalam kebohongan atau keharaman.

Dalil yang membolehkan membuat cerita fiksi adalah dalil As Sunnah. Dalam hadits yang menjelaskan bahwa orang yang melakukan yang syubhat (tak tegas halal atau haramnya) dapat terjerumus kepada keharaman, Rasulullah SAW telah membuat perumpamaan dengan bersabda : “Seperti seorang penggembala yang menggembalakan [ternaknya] di sekitar tanah larangan (himaa) yang hampir-hampir dia masuk ke dalam tanah larangan itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,"Di antara faidah hadits ini adalah, bolehnya membuat perumpamaan dalam rangka memperjelas suatu perkara maknawi (tak-konkret) dengan perumpamaan sesuatu yang yang inderawi (konkret). Artinya, menyerupakan sesuatu yang ma’quul (objek pikiran) dengan yang mahsuus (objek terindera) untuk mendekatkan pemahamannya.” (Syaikh Ibnu Utsaimin, Al Arba’uun An Nawawiyyah bi Ta'liqaat Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 4).

Berdasarkan dalil tersebut, boleh hukumnya seorang muslim membuat kisah fiksi. Namun agar tidak terjatuh dalam kebohongan atau keharaman, kebolehan membuat cerita fiksi tersebut terikat dengan 2 (dua) syarat : Pertama, pembuat cerita fiksi wajib menyampaikan kepada pembacanya, baik secara implisit atau eksplisit, bahwa apa yang diucapkan atau ditulisnya adalah cerita fiksi atau khayalan, bukan kenyataan, agar pengarang cerita fiksi tidak jatuh dalam kebohongan. Dalil syarat ini adalah dalil-dalil Al Qur`an atau Al Hadits yang mengharamkan seorang muslim berbohong.
Kedua, kandungan (content) cerita fiksi tidak boleh bertentangan dengan Aqidah atau Syariah Islam. Misalnya berisi ajakan beramar makruf nahi mungkar, berbakti kepada orang tua, bersikap jujur, mendorong berani berjihad di jalan Allah, mendorong berani melawan penguasa yang zalim, dan sebagainya. Sebaliknya haram hukumnya membuat cerita fiksi yang berisi pemikiran-pemikiran kufur, semisal sekularisme, demokrasi, nasionalisme, liberalisme, pluralisme, dsb. Atau kisah-kisah cinta atau cabul yang jauh dari akhlaq Islami. Dalil syarat kedua ini adalah dalil-dalil yang mewajibkan muslim berkata benar sesuai syariah Islam. Misalnya firman Allah SWT (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS Al Ahzab [33] : 70). Juga sabda Rasulullah SAW :“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu a'lam

HUKUM SEPUTAR GAMBAR DAN PATUNG


Oleh : KH. M. Shidiq Al-Jawi





Tanya :
Ustadz, apa hukumnya menggambar makhluk bernyawa dan memanfaatkan gambar tersebut?

Jawab :
Sebelumnya perlu dijelaskan dulu dua istilah fiqih yang terkait hukum gambar atau patung. Pertama, istilah tashwiir, yang berarti perbuatan membuat bentuk sesuatu (rasm shuurah al syai`). Perbuatan yang disebut tashwiir ini tak terbatas membuat bentuk sesuatu yang mempunyai dua dimensi (tak mempunyai bayangan) seperti membuat lukisan, melainkan termasuk juga yang mempunyai tiga dimensi (mempunyai bayangan), seperti membuat patung. Istilah tahswiir juga mencakup pula mengukir/menatah/memahat (Arab : an naht). Namun istilah tashwiir tak mencakup fotografi. Kedua, istilah shuurah (jamaknya shuwar), yang berarti benda hasil dari perbuatan tashwiir, yang tak terbatas pada pengertian “gambar” (dua dimensi), melainkan juga termasuk “patung” (Arab : timtsaal) yang mempunyai tiga dimensi. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakshiyyah Al Islamiyyah, 2/349; Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha`, hlm. 100; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/92-93).

Hukum tashwiir dengan objek makhluk yang bernyawa, seperti manusia atau binatang, yang paling rajih (kuat) adalah haram, baik tashwiir dalam arti membuat patung, maupun dalam arti menggambar, baik objeknya utuh yang memungkinkan hidup, maupun tak utuh yang tak memungkinkan hidup (misal hanya tubuh tanpa kepala). Semuanya haram hukumnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Hambali, dan Syafi’i. Pendapat inilah yang dianggap paling rajih oleh Imam Taqiyuddin An Nabhani, radhiyallahu ‘anhu. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakshiyyah Al Islamiyyah, 2/349; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 12/102).

Dalil keharamannya, adalah keumuman nash-nash hadits yang telah mengharamkan tashwiir. Di antaranya dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi SAW bersabda,”Barangsiapa yang membuat gambar/patung (shuurah), maka Allah akan mengazabnya hingga orang itu mampu meniupkan ruh (nyawa) ke dalam gambar/patung itu, padahal dia tak akan mampu meniupkan ruh selama-lamanya.” (HR Bukhari, no. 2112 & 5618).

Dikecualikan dari haramnya tashwiir ini, adalah membuat boneka untuk anak-anak, karena terdapat hadits-hadits shahih yang membolehkannya. Dari ‘A`isyah RA dia berkata, “Dulu aku pernah bermain boneka-boneka berbentuk anak perempuan di dekat Nabi SAW, waktu itu aku punya beberapa teman perempuan yang suka bermain-main denganku.” (HR Bukhari no. 5779 & Muslim no. 2440)

Adapun meletakkan gambar dengan objek bernyawa, hukumnya sbb :
Pertama, jika diletakkan di tempat ibadah, misalnya menjadi sajadah untuk sholat, atau dijadikan tirai masjid, atau ditempel di papan pengumuman masjid, hukumnya haram. Dalilnya hadits Ibnu Abbas RA bahwa Nabi pernah tak mau masuk ke Ka’bah hingga beliau memerintahkan menghapus gambar-gambar dua dimensi (shuwar) pada Ka’bah. (HR Bukhari no. 3174; Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakshiyyah Al Islamiyyah, 2/350).
Kedua, jika tak diletakkan di tempat ibadah, misalnya di rumah atau kantor, maka ada rinciannya :
(1) hukumnya makruh, jika diletakkan di tempat terhormat, misalnya dijadikan gordin, ditempel di dinding, terdapat di baju (seperti batik). Dalilnya, ada larangan Nabi SAW karena beliau pernah mencabut tirai rumah bergambar yang dipasang ‘A`isyah RA. (HR Muslim no 2107). Namun larangan itu tak jazim/tegas, atau hukumnya makruh, karena malaikat tetap masuk ke dalam rumah yang ada gambarnya (dua dimensi), sesuai sabda Nabi SAW, “Malaikat tak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjingnya atau patungnya,” lalu dalam hadits itu Nabi SAW mengatakan,”Kecuali gambar yang ada pada kain.” (HR Muslim no 2106).
(2) hukumnya mubah jika diletakkan di tempat tak terhormat, misalnya dijadikan keset, sarung bantal, sprei, dsb. Dalilnya hadits ‘A`isyah RA bahwa dia memasang tirai yang ada gambarnya, lalu Nabi SAW masuk rumah dan mencabut tirai itu. ‘A`isyah berkata,’Lalu aku jadikan tirai itu dua bantal dan Nabi bersandar pada keduanya.” (HR Muslim no 2107). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakshiyyah Al Islamiyyah, 2/353-355). Wallahu a’lam.