Rabu, 30 April 2014

Tak perlu mengeluh

Sudahlah, urungkan niatmu untuk terus berkeluh kesah. Kenyataan hidup memang susah, tapi keluhanmu itu sama sekali tak berarti apapun,hanya membuang-buang energi positif dan menjadikanmu lebih menderita. Wahai jiwa yang rapuh, kuatlah, karena sesungguhnya ada banyak orang yang tidak bisa sepertimu. Kau tau bukan..?? Banyak dari mereka yang hidup dijalan kian kesulita sekedar mencari makan. Banyak pula dari mereka kehilangan sanak saudara dan bahkan banyak dari mereka yang lahir dalam keadaan yang tak sesempurna engkau. Mengertilah, cobalah untuk membuka matamu, bahwasanya kau bukanlah satu-satunya orang yang diuji lewat berbagai kesulitan, kau bukanlah mahluk paling sial dimuka bumi ini. Sadarilah itu..!
Sudahkah kau sadar..? Atau hanya sekedar terucap dalam bibir..??
Ah, sudahlah, tak perlu kita bahas lagi. Kau akan baik2 saja dengan semua ini, seperti karang yang tetap kokoh setelah dihantam derasnya ombak.

Perbanyaklah mengingat Allah. jangan katakan " Ya Allah aku punya masalah besar" tapi katkanlah "Wahai masalah, aku punya Allah yang besar.."
Sejujurnya saya sendiri belum bisa menerapkannya, tetapi mengapa saya menulis seperti ini..? Tak lain sebagai motivasi untuk kita, terutama saya sendiri yang masih seringkali melupakan kata2 indah diatas. Dan lagi semua keluh kesah hanya akan memperlambat langkah kita. Melangkahlah, hentikan memprotes kehidupan, tetapi rubahlah, seperti kutipan dibawah ini yang mengatakan bahwa "hidup itu seperti mengendarai sepeda, untuk tetap seimbang, kita mesti terus berjalan. 



Selamat malam sahabat, semoga kita bisa terus memperbaiki diri menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari.
Selamat malam, selamat beristirahat. Mari sejenak melupakan segenap masalah itu, pergilah, jelajahi alam mimpi yang menawarkan keindahan yang menakjubkan sebagi ganti dari kenyataan hidup yang tak selalu sesuai dengan harapan kita. Semoga esok kita masih bisa terbangun dan menyambut cerahnya sinar mentari tuk awali hari yang lebih baik. Good night...

Selasa, 29 April 2014

life's quote


Kebahagian vs kesedihan

Aku tersenyum bukan berarti aku selalu bahagia, aku tertawa bukan berarti semuanya menyenangkan, aku terlihat tegar bukan berarti semuanya ringan. Semua itu hanyalah caraku untuk tidak menunjukkan kerapuhanku, semua itu hanyalah tameng yang terkadang sangat sulit untuk dipakai. Mungkin sebagian orang mengatakannya sebagai kemunafikan. Entahlah, aku tak peduli semua itu. Aku hanya ingin tameng kecerian itu dapat menular ke wajahku yang sebenarnya, atau setidaknya itu dapat mengusir semua kesedihan yang bersarang dalam diri ini...
Ketahuilah, aku tak sekedar apa yang terlihat atau terindra oleh mata dan telinga, aku adalah satu kesatuan dari apa yang tak terlihat dan apa yang terlihat. Aku sama seperti manusia lainnya pernah tersenyum indah dengan tulus atau menangis keras sejadi-jadinya. Tapi aku mencoba menyembunyikan semua itu, aku tak ingin seorangpun tau bahwa aku menangis, bahwa aku kecewa. Biarlah hujan turun dengan sederas-derasnya, agar aku bisa menangis sejadi-jadinya tanpa diketahui oleh orang lain. Bukan karena pengecut atau lainnya, aku tak ingin menambah bban hidup orang lain ketika kesedihan itu kubagi dengan mereka karena ku tau mereka pun mempunyai masalah, sama sepertiku bahkan mungkin menghadapi masalah yang lebih besar dariku. Cukuplah aku menyadari bahwa hidup ini takkan pernah sepi dari ujian, Biarlah aku merenungi semuanya untuk menerka-nerka dan mencari secercah cahaya tuk sinari jalan ini. Biarlah aku memahami bahwasanya tak ada seorangpun yang akan selalu ada untuk kita, bahwasanya tak akan ada kebahagian yang abadi dan bahwasanya tak ada kesedihan yang abadi pula. Semuanya diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah. Pasangan kesedihan adlah kebahagian.Semuanya tercipta dalam kadar yang seimbang. Hanya saja ketika kesedihan menghampiri kita terkadang terlalu banyak bekeluh kesah sehingga semua terasa begitu berat sedangkan ketika bahagia datang, kita terkadang lupa untuk berucap syukur padanya. Jernihkan pikiranmu, bersihkan hatimu percayailah firman-Nya yang tak pernah salah "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"\Janganlah bersedih terlalu lama, karena yakinlah dibalik kesediahn itu akan ada kebahagian. Begitupun sebaliknya janganlah berbahagia terlalu lama, persiapkan dirimu bahwa maslah akan segera datang kembali untuk memberimu pelajaran dan menempa diri menjadi dewasa.

Bangkitlah,,,,

Saya benar-benar ingin menangis hari ini. Entahlah. Mungkin inilah hidup. Hidup yang tak selalu sesuai dengan keinginan kita bahkan mungkin sangat bertentangan dengan apa yang kita inginkan. Terlahir dalam kondisi keluarga yang berantakan adalah masalah terbesar yang tak pernah selesai. Aku terus terluka dan terluka lagi oleh puing-puing reruntuhan itu yang sangat menyakitkan. Sejak kecil aku terlalu terbiasa dengan semua penderitaan ini, hanya saja dulu aku masih terlalu polos sehingga tak begitu merasakan tusukan-tusukan itu. Aku hampir mati, ata mungkin separuhnya sudah mati karena tindasan kekejaman hidup ini. Aku bukan orang yang sempurna, tetapi selalu saja dituntut menjadi sempurna. Apalah dayaku...?Aku hanya insan biasa yang sungguh dhoif dan jauh dari kata sempurna. Sempurna..? Ah, hakikatnya saja aku tak benar-benar mengerti. Yang ku tau kesempurnaan itu hanyalah milik Allah, bukan milik insan yang bernama manusia, lalu mengapa kata sempurna masih menjadi tuntutan...? Sungguh sangat naif sekali....
Semua perasaan saya bercampur aduk, antara marah, kecewa, kesal, putus asa dan segala stigma negatif tentang hidup berkeliaran diotak saya. Saya tau hidup ini berat, tapi tak adakah sedikit ruang untuk bisa bernafas lega, menghirup segarnya udara sambil bermanja pada belaian angin...? Apakah semua itu hanya ilusi bagiku..? Aku sendiri tak pernah mengerti akan lika-liku hidupku yang kian terjal dan terkadang licin, hingga aku berulangkali jatuh dan terperosok ke dalam keputusasaan. Jangan salahkan aku jika aku berwatak keras kepala, itu karena aku terlalu bosan melihat penindasan hidup yang terjadi padaku. Aku ingin sedikit saja menghirup hawa kebebasan untuk menentukan jalanku. Lalu mengapa kalian terus saja mencerca ku dengan segala vonis yang begitu menyakitkan...? Apa kalian pikir aku ini robot yang tak bernurani...? Aku manusia, punya hati dan perasaan. Punya hati yang bisa terluka oleh semua pedang kata yang kalian luncurkan, aku punya ego yang bisa muncul ketika seringkali kalian bertindak semena-mena padaku. Aku manusia...! Bisa marah, kesal kecewa dan putus asa. Aku punya semua itu. Aku telah etih mendengarkan semua ocehan kalian, menuruti semua titah kalian, tapi pernahkah sekali saja kalian mendengarkanku, memberikan pilihan kepadaku, dan sesekali menuruti inginku. Sama sekali tidak pernah. Kalian pikir aku ini apa..??
Tetes-tetes airmata itu lagi-lagi jatuh. Hanya lewat tulisan ini aku bisa bercerita dan menuangkan keluh kesahku, agar aku bisa sedikit lebih tenang bernafas. Biarlah air mata itu menjadi saksi akan pahitnya hidup yang ku jalani. Biarlah air mata itu menjadi kekuatan yang memberiku ketegaran, karena sesungguhnya tak semua airmata itu tanda kelemahan, bagi seorang wanita air mata adalah kekuatan yang akan sedikit memberi ketenangan jiwa setelah dihantam bertubi-tubi masalah. Kuatlah wahai diri yang lemah, yakinlah kau bisa melampaui semua rintangan dan bangkit dari keterpurukan yang mendalam itu. Karena bahkan dalam novel sekalipun happy ending itu selalu ada dihalaman terkahir....

Senin, 28 April 2014

Sebuah Kepercayaan

Gelap mengurungku dalam kesepian. Ah, aku tidak sedang bermajas kawan, ya malam ini listrik padam. Peristiwa yang sangat tidak ku harapkan. Rumah kecil kami hanya diterangi beberapa lilin yang hampir sekarat. Benar – benar tidak bersahabat padahal besok ada ulangan biologi dan kuis Bahasa Inggris.
            “Arghhh.....” aku merutuk sendiri.
Aku hanya membolak – balik catatanku, berusaha untuk membacanya dengan cahaya dari handphoneku. Nihil, aku tidak mendapatkan apa – apa.
                                                                        ***
            Jam pelajaran kedua dimulai. Biologi. Kertas putih yang dipenuhi dengan tulisan itu dibagikan satu persatu kepada kami. Aku menghela nafas, mencari sedikit ketenangan, namun tak ku jumpai hal itu. Bismillahirrahmanirrahim. Hanya satu kata itu yang terucap. Soal – soal berbaris rapi diatas kertas putih tadi, dan semuanya berjumlah 50 soal seakan siap bertarung di alam pikiranku. Search, find.. aku berusaha mengingat materi yang telah kami pelajari, namun soal – soal yang berjejer ini begitu sulit tuk ditaklukkan. Suci tak kalah pusingnya, aku bisa menangkap itu dari air mukanya. Kami saling bertatapan dalam diam seakan berkata “ Susah banget yah...”
            30 menit berlalu. Hanya setengahnya yang bisa kujawab. Aku benar – benar merasa kalah, bahkan sebelum waktunya usai. Kesunyian dalam kelas mulai pecah, dan ritual wajib itu pun dimulai dengan segera. Apalagi kalau bukan pencontekan masal...? Hatiku teriris melihat realita pendidikan tepat didepan mataku. Dengan santainya mereka mencabik – cabik kehormatan dari sebuah ilmu pengetahuan dengan aksi nakalnya.
            “Inikah pendidikan...?, lalu dimana harga sebuah kejujuran..?” aku hanya bertanya dalam hati, meski jawaban yang kucari tak kunjung kutemui. Pendidikan sekan menjadi formalitas belaka, dan nilai adalah suatu tujuan, tak heran jika segala carapun kemudian dihalalkan. Menurutku, seorang siswi yang bodoh ini, pendidikan bukanlah masalah kuantitas atau nilai semata kawan, namun masalah kualitas dan ilmu yang kita dapati. Jika langkah awal yang kita mulai saja sudah diwarnai dengan sebuah kecurangan, maka lama kelamaan kecurangan itu terus membututi dan semakin bertambah jika kita tidak berusaha mengubahnya. Kebohongan yang menumpuk membuat kita tak lagi segan melakukan kebohongan yang lebih besar lagi, lihatlah orang – orang terhormat disana yang masih bisa tersenyum didepan media setelah mencuri harta rakyatnya. Ah, sungguh memalukan.
***
        Kamis, 12 September 2013
        Seperti dugaan, nilai ulanganku seperti sebuah apel yang dibelah dua. Aku hanya menatap kosong ke kertas itu.
        “Pinjem catatan mtk Kier..” Riris mengejutkanku.
        “Eh, nich...” jawabku seraya memberikan buku berwarna hijau itu.
        “Ngelamun mulu...” tambahnya berkata dengan nada juteknya. Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Ia membolak – balik halaman buku yang aku pinjami.
        “Huh, sombong amat sich Kier..” ucapnya tiba – tiba.
        “Maksudnya..? “ aku berusaha mencerna perkataannya yang tiba – tiba.
        “Ulangan masih remedial aja belagu mau masuk kampus ternama di Jogja, tinggi banget impian loe..”
Aku hanya terdiam. Mungkin ia benar. Aku tak membalasnya, karena takkan ada gunanya. Duarrrr....! Seketika itu aku seperti dijatuhi bom atom yang meluluh lantakkan rasi impianku dalam hitungan detik.
***
        “Lesu amat sich..” Suci seakan bisa menebak perasaanku. Aku tak menjawabnya. Ia tahu, akan percuma menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ia membuka agendaku, dan ya itu masalahnya. Ia tersenyum kepadaku. Senyum yang seakan memberiku kepercayaan. Ia menatapku lama.
        “ Yakinlah, yang kamu butuhkan bukanlah rasa kepercayaan dari orang lain, bukan pula rasa percayamu kepada orang lain. Yang harus kamu percayai hanyalah dirimu sendiri.”
                                                                                                            Bintang.

untitled




Untuk semua teman-teman terutama kelas XII IPA 1 dan semua angkatan tahun 2014. Semoga kita lulus maksimal 100%. Terimakasih untuk semua guru-guruku di MAN Model Pangkalpinang. I love you all...

Aku, Rya, dan Fai duduk santai di bawah pohon ketapang  yang tak terlalu rindang itu. Menikmati sepoi angin di tengah rerumputan yang menghijau. Rya masih asyik menulis di buku hariannya. Fai yang sedikit jahil hanya mencabut rumput disekitarnya. Aku tertawa melihatnya. Benar-benar konyol..!
“Gak nyangka ya kita udah kelas 3..” ucapku memecah kesunyian.
“Rasanya baru aja dulu kelas X...!” sambung Fai
“Biasa tanda-tanda akhir zaman, waktu akan terasa semakin cepat berlalu..” sahut Rya yang masih setia dengan pena ditangannya.
Aku menatap lurus ke arah kelasku. Ruangan yang tidak terlalu besar yang di cat berwarna biru muda, lalu ku alihkan pandanganku mengitari sekeliling Madrasah karena kelas kami tepat berada ditengah. Ada begitu banyak kenangan dan pelajaran disini. Di Madrasah ini. Madrasah Aliyah Negeri  (MAN) Model Pangkalpinang
            Pertama kali masuk kesini ada rasa kecewa yang sangat mendalam dalam diriku. “Ah, yang benar saja aku harus masuk MAN..? Tak ada seorangpun temanku yang mendaftar disini...!” aku benar-benar merasa putus asa. Sebenarnya, aku ingin masuk ke SMAN 1 Pemali, tapi ide tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh ibuku. Kemudian aku berniat masuk SMKN 2 mengambil jurusan multimedia, tapi lagi-lagi aku mendapat penolakan yang sama dengan berbagai alasan yang tak bisa kuterima. Aku benar-benar merasa kesal..! Dan akhirnya mengikuti titah mereka untuk masuk kesini, walaupun sebenarnya aku tak menerima keputusan ini dengan sepenuhnya. Aku hanya lelah jika harus terus berdebat dengan apa yang mereka inginkan, dan terpaksa menurutinya. Hari-hari pertama di Madrasah kurasakan sangat membosankan, mungkin karena aku masih setengah hati disini, ditambah lagi dengan pelajaran bahasa Arab yang sukses membuatku pusing 7 keliling karena memang tak memiliki dasar pengetahuan bahasa Arab sedikitpun, wajar saja karena aku berasal dari SMP, bukan MTs yang notabenenya memang mendalami ilmu agama.
            Tiga bulan berlalu, aku merasa cukup baikan dari semua rasa kesalku selama ini. Aku punya cukup banyak teman yang membuatku merasa nyaman, dan mulai bisa beradaptasi dengan banyaknya pelajaran yang disuguhkan, kecuali bahasa Arab yang belum ada kemajuannya. Tapi satu hal yang cukup mengejutkan adalah disini aku mulai menyukai pelajaran Bahasa Inggris, pelajaran yang sedari dulu menjadi musuhku. Benar-benar aneh. Mungkin benar adanya pepatah yang mengatakan “Janganlah kamu terlalu mencintai sesuatu, karena bisa jadi suatu hari nanti kami akan membencinya, dan janganlah kamu terlalu membenci sesuatu bisa jadi suatu hari nanti kamu justru mencintainya.”
Dari beragam eksul yang ada disekolah, aku hanya bergabung dalam ekskul jurnalis, karena aku memang senang menulis. Aku mendapatkan banyak teman dari ekskul jurnalis, karena disini kami bisa bertemu dan kenal dengan banyak orang dalam kegiatan peliputan berita. Tak heran meskipun hanya aktif diekskul jurnalis aku punya banyak kenalan di eskul rohis, marching band, teater maupun ekskul lainnya atau dengan siswa-siswa berprestasi yang biasa menjuarai berbagai perlombaan. Benar-benar menyenangkan,lama kelamaan aku merasa bahwa MAN tidaklah seperti apa yang kubayangkan dulu, MAN punya banyak keunggulan yang tidak dimiliki sekolah umum seperti SMA, dan aku benar-benar merasa beruntung menjadi bagian dari Madrasah ini. Aku juga menemunkan guru-guru yang sangat baik dan sabar disini, ada juga guru yang sangat senang bercerita dan memotivasi kami. Ah, pokoknya seru dech..!
Di kelas XI dan XII aku menemukan teman-teman yang sangat menyenangkan dengan beragam sifat dan karakter, tapi kami selalu kompak dalam berbagai hal. Persaingan yan ketat, senda gurau, kenakalan dan tingkah konyol lainnya mewarnai persahabatan kami yang hampir berjalan 2 tahun. Ah, ada begitu banyak kenangan yang terukir disetiap sudut-sudut madrasah ini, keributan didalam kelas, bolos ke kantin, ataupun sorak-sorakkan dilapangan olahraga saat pertandingan class meeting semuanya menjadi momen tersendiri yang mungkin akan sangat kami rindukan nantinya.
“ Ngelamunin apaan Zhie...?” tanya Rya yang melihatku bengong sedari tadi.
“ Gak ada, aku sayang kalian...!” aku melempar senyuman ke arah Fai dan Rya.
“ Lebay....!” protes Fai yang memang suka asal.
“Hhaahaaa...!’ kami tertawa bersama dibawah lukisan biru yang terhampar begitu luas, jauh diketinggian sana.
Ada sejuta kenangan disini, ada begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan, pengalaman, persahabatan dan juga cinta yang menghiasi masa putih abu-abu di Madrasah ini. Semuanya terasa kian sempurna. Bersyukurlah karena hari ini kita masih menikmati masa-masa akhir dikelas 3 aliyah. Masa-masa yang menjadi penentuan masa depan kita nantinya. Aku kembali teringat wejangan mengenai Ujian Nasional dari guru-guru diminggu pertama ini. “Belajarlah jika ingin lulus, yakinlah Allah itu Maha Adil. Ia akan memberikan yang terbaik atas apa yang kita usahakan...”


                                                                                                            Rizky Rahmayani
                                                                                                            10 Januari 2014

Obsesi



Siska. Ya itulah namaku . Aku hanyalah seorang anak desa . Seorang anak yang terlahir  dari keluaga yang serba kekurangan . Ayahku telah lama pergi ketika aku berusia 3 tahun . Aku bahkan belum puas menikmati belaian kasih dari seorang ayah . Sepulang sekolah aku biasa membantu ibu berjualan makanan di warung kecil peninggalan ayahku .
 Dari kecil aku bercita – cita menjadi seorang dokter. Tetapi ibu selalu mematahkan semangatku . Ibu menganggap cita – citaku itu terlalu mengada – ada . “Jangan bermimpi terlalu tinggi nak, tidak perlu menjadi dokter , asal kau bisa tamat SMA saja itu sudah cukup membuat ibu bahagia . “  Kata-kata itu selalu menjadi iringan setiap kali aku mengutarakan keinginanku pada ibu. Sama seperti saat ini ketika aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta dengan beasiswa yang kuterima .
“ Nggak bu’ .. aku akan tetap pergi. Aku nggak ingin hanya pasrah menerima nasib untuk selamanya menjadi orang desa. Apa gunanya selama ini aku menuntut ilmu bertahun-tahun hanya kalau aku tetap tidak bisa menjadi orang sukses …” tandasku panjang lebar .
“Keras kepalamu itu mirip sekali dengan ayahmu, nak….ibu tidak tahu lagi harus berkata apa! “
Jawabnya dengan nada lemah .Aku tahu raut wajahnya tak menginginkan aku pergi
            Ayam jantan  tlah berkokok.Kusambut hari ini dengan sebuah seyuman. Sepotong semangat  perubahan . Usai shalat shubuh, kuseret koper lusuh berisikan barang-barang itu. Aku pergi dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibu. Aku tak ingin  ibu terus menghalangi langkahku. Dengan segenggam keyakinan aku menapaki jalan yang masih lengang menuju halte.
Suara kondektur tua itu menbuat aku terjaga. Sekarang aku benar-benar berada di kota metropolitan . Dengan beragam gedung pencakar langit yang menghiasi sudut-sudut keramaian. Begitu beda dengan pemandangan yang selalu kulalui saat di desa. Hanya gunung dan persawahan penduduk yang menghiasi lika-liku jalan yang becek .
Hari demi hari ku jalani .Dengan pahit manisnya kehidupan sebagai mahasiswa. Sepulang kuliah aku bekerja paruh waktu di restaurant yang terletak tak jauh dari kampusku. Aku juga sering  mengerjakan tugas kuliah teman-temanku demi mencukupi biaya kuliahku. Berbeda dengan teman kostan ku yang selalu berhura-hura dan menghabiskan waktunya untuk nongkrong ditempat-tempat ramai dikinjungi oleh muda-mudi lainnya.
Tanpa terasa hari berganti bulan.Bulan berganti tahun. Tujuh tahun sudah aku menjalani hidup dikota Jakarta dengan bermacam lika- liku yang mewarnai langkahku. Menghadang langkahku. Sampai tibalah hari ini . Hari dimana aku akan diwisuda dengan gelar S2 kedokteran. Hari yang begitu kunanti-nanti sejak lama. Inilah puncak perjuanganku selama ini. Hari ini akan kubuktikan pada dunia.Pada semua mata yang dulu merendahkanku. Bahwa aku BISA….!!!
Seraut wajah yang khas dengan lesung pipinya itu terngiang dibenakku.
 “Bagaimana kabarnya?” gumamku dalam hati . Aku rindu sekali dengan ibu. Orang yang selalu mencurahkan segala kasihnya padaku. Ku akui aku memang salah tlah pergi tanpa berpamitan padanya dahulu . Tapi sekarang aku bakal menebus semua itu .
Kupandangi sekelilingku penuh dengan para orangtua yang mengagung-agungkan keberhasilan anaknya penuh dengan suka cita … aku hanya sendiri ,,tak ada yang membanggakanku..menungguku atau memelukku… hampa rasanya…
Setelah serangkaian acara selesai ,,aku menangis haru, antara sedih dan senang… kupeluk erat tubuh sahabatku yang sedari tadi menemaniku, sahabat yang selama ini menenaniku menghabiskan hari-hari yang melelahkan , penuh pengorbanan, dan selingan kekonyolan…
Aku segera berlari menuju halte bis . tak sabar rasanya  untuk kembali ke kampung halaman  yang telah sekian lama ku tinggalkan ..sekelebat rasa rindu merasuk jauh kedalam tulang rusukku  bersama hembusan angin yang terasa menusuk..
Kulangkahkan kaki ini dengan cepat menuju  rumah yang tak jauh dari warung kecil tempat bunda biasa berjualan..namun semua terlihatbtlah berbeda, tak ada lagi gubuk kecil yang dulu berdiri dengan anggunnya didepan pohon rambutan yang rindang itu.. kemana???
“Bundaaaaaaaaaaaaaa……………….” Teriakku sekencang mungkin, namun yang kudapati bukanlah sosok yang kucari itu, melainkan sesosok pria angkuh dengan nadanya yang kasar
“Kurang kerjaan apa loe .. teriak-teriak depan rumah orang, pergi sana!” bentaknya.
Bulir-bulir bening mengalir dari kelopak mata ini,,, 
“Bunda dimana,, bunnn???”  bisikku lirih  dalam hati.
Seorang perempuan  dengan kerudung putih yang membalut wajahnya melintas didepanku.  
“Maaf bu, gubuk yang dulu disini sekarang orangnya pindah kemana ya ? “ Tanyaku pada perempuan itu..
“Orang yang tinggal di gubuk itu ,udah meniggal setahun yang lalu de’..” jawabnya  singkat.
“Nggak mungkinnnnnnnnnnnnnn……bundaaaaa,…!!! “ teriakku tak percaya.
Kususuri rumah-rumah berukuran 2x1 yang berjejer dikelilingi pohon kamboja putih itu. Begitu sepi, daun-daun putih berguguran menjadi kecoklatan..menimpa nisan yang tampak terpaku.Seperti jiwa yang rapuh menerima semua kenyataan yang terbentang didepan mataku….Hadiah yang telah kubingkiskan ini terasa sia-sia, tak berguna, bila kau telah tiada…bundaaa

Bertepuk Sebelah Tangan



           
Bulan sabit yang benderang tersenyum kearahku, dari kejauhan ku lihat setitik cahaya yang berkilau, ya sang bintang yang malam ini tak seramai biasanya. Entah mengapa aku selalu mengagumi langit dan semua yang bertahta disinggasananya yang megah. Indah dan memesona, hingga mataku tak pernah lelah tuk memandangnya.
            “Gak ada kerjaan lain apa selain liatin langit..?” Rena mengusik aku yang sedang asyik.
            Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
            “ Lebih baik tidur, yang ada juga cuma hitam doank dilangit..”
            “ Tidur aja duluan...” jawabku.
            Aku mengalihkan pandangan ke arah Rena. Wajahnya terlihat lebih kusut dari biasanya.
            “ Setrika kek tu muka, kusut amat...”
            “ Tau, pusing gw Za”
            “Oke,,oke.. trus..? lagi galau nich ceritanya..?”
            Ia bercerita panjang lebar, membagi kegundahan yang bersarang didadanya.  Seperti dugaanku. Ini tentang cinta, satu rasa yang pasti ada dalam diri anak manusia. Entahlah aku kurang mengerti tentang yang satu ini, yang ku tahu sahabatku ini tengah diserang virus merah jambu yang menginfeksi hatinya. Fall in love, mungkin itu bahasa latinnya. Telah lama ia menyimpan rapat – rapat rasanya itu pada seorang pangeran tampan yang selalu ia dambakan disetiap mimpinya. Namanya Noki. Orang yang bahkan tak pernah memperdulikannya sedikitpun. Sedingin batu es yang sulit tuk dicairkan, bahkan untuk mendapat posisi sebagai sahabat dihati pangerannya itu pun terlalu sulit. Entahlah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Penuh tanda tanya dan sulit dimengerti, mungkin lebih kompleks dari rumus fisika atau matematika sekalipun.
            “Aku emang gak ngerti tentang cinta, tapi jangan biarkan itu merubahmu atau bahkan membuatmu menjadi lemah...” kataku seraya memberikan senyuman kearahnya.
            “Gak semudah itu Za..”
            “Susah bukan berarti harus nyerah kan...?”
Ia berusaha untuk tersenyum, meski ku tahu bimbang masih menyelimuti hantinya. Langit – langit kamar hanya diam membisu. Aku mematikan lampu dan kami mulai berlayar ke alam mimpi, dunia yang begitu indah yang mungkin bisa sedikit menghibur kehidupan nyata yang tak selalu indah.
                                                            ******
            Disekolah..
Bunyi bel terdengar merdu. Aku, Rena dan Fei duduk santai menikmati semilir angin yang bertiup lembut dibawah pohon mangga yang terletak didepan kelas. Pohon tersebut tidak terlalu besar, namun cukup untuk memberi sedikit keteduhan. Aku masih asyik membaca poket biologiku. Fei masih sibuk membolak – balikkan buku agenda Rena, membaca puisi – puisi yang ditulis Rena untuk menuangkan apa yang ia rasakan. Rena tertunduk dan merebahkan kepalanya ke pundak Fei. Air matanya jatuh membasahi buku yang ku pegang. Aku berada tepat disampingnya. Aku dan Fei menoleh ke arah Rena bersamaan. Ada gelagat muram yang ku tangkap dari sorot matanya. Ku alihkan pandanganku mengitari sekeliling, mencari sumber permasalahnnya. Tap.. aku terkesiap mendapati sebuah potret dua anak manusia didepan kelasku. Itu dia masalahnya. Noki sedang bersenda gurau dengan Chefa. Tak pernah ku lihat ia tersenyum seperti itu. Wajah cuek dan yang selalu ia jajakan kepada kami beubah 180 derajat, yang lebih menyakitkan lagi, Chefa adalah teman dekat Rena sendiri. Ah, terlalu naif rasanya...! Menggerogoti teman diam – diam.
“Menangislah kalo emang itu bisa ngebuat kamu sedikit lebih baik...” ucapku padanya.
“Tapi Cuma boleh lima menit aja ya, abis itu langsung senyum lagi..” tambah Fei
Rena hanya terdiam. Ia masih larut dalam pikirannya.