Dunia
pendidikan yang seharusnya membawa cahaya, kini telah redup. Berubah menjadi
gelap gulita. Hal ini bisa kita lihat dari menjamurnya kasus-kasus penyimpangan
yang dilakukan oleh para pelajar. Berikut beberapa kasus yang marak terjadi
dikalangan pelajar :
a.
Tawuran
Salah
satu masalah krusial yang paling sering terjadi adalah tawuran pelajar. Tawuran
atau perkelahian antar pelajar baik satu sekolah maupun dengan sekolah lain seringkali timbul dari
masalah-masalah sepele seperti saling ejek, atau sekedar tradisi tahunan yang
diwarisi dari generasi ke generasi. Menurut data dari KPAI, jumlah tawuran
pelajar pada tahun 2012 yakni sebanyak 147 kasus, dan terus meningkat bahkan
pada tahun 2013 mencapai 255 kasus.
b.
Narkoba
Masalah
lainnya yang juga menghantui pelajar
saat ini adalah merebaknya narkoba dikalangan pelajar. Pemakaian narkoba yang
awalnya hanya iseng dan coba-coba berujung pada kecanduan dan kematian yang
sia-sia. Menurut BNN jumlah pemakai narkoba dikalangan pelajar mencapai 50–60 %
dari total keseluruhan pemakai narkoba
yang berjumlah 3,8–4,2 juta (detikHealth, 6/6/2012) .
C. Free Sex
Modernisasi yang kini
terjadi, banyak sekali membawa dampak buruk berupa life style barat yang
dianggap lumrah dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang lagi faktor agama. Mulai
dari pola konsumerisme, hedonisme hingga free sex menjadi suguhan yang ditawarkan media kepada
masyarakat luas, terutama kepada pelajar yang notabene nya masih berada dalam
usia remaja, sehingga mudah sekali untuk dipengaruhi. Wajar saja, jika kini free
sex merebak luas dikalangan pelajar.
Menurut survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di
12 kota besar selama tahun 2007 diperoleh fakta bahwa 62,7% remaja SMP sudah
tidak perawan serta 21,2% remaja SMU pernah aborsi. (khabarislam.wordpress.com).
Lalu apa yang menyebabkan pendidikan kehilangan fungsinya
sebagai cahaya penerang bagi manusia khususnya kaum pelajar , sehingga
melahirkan begitu banyak problema ...?.
Akar dari permasalahan
pendidikan ini adalah adanya dehumanisasi
pendidikan yang lahir dari sistem pendidikan sekuler. Lalu apa sebenarnya
dehumanisasi dan sekulerisasi pendidikan ...?
Sekulerisasi Pendidikan
Pendidikan saat ini dibangun diatas asas sekulerisme
yakni pemisahan agama dari kehidupan. Menurut pandangan sekulerisme pendidikan hanya
bertujuan untuk mencerdaskan manusia, dan mengabaikan pembentukan karakter
manusia secara utuh, serta mengesampingkan adanya peran agama dalam kehidupan.
Sehingga muncullah dikotomi dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan,
misalnya saja ada sekolah yang dikhususkan untuk mendalami ilmu agama seperti
pesantrean, MAN, dan ada pula sekolah yang dikhususkan untuk mempelajari ilmu
dunia seperti SMA dan SMK. Ilmu pengetahuan pun dipisahkan menjadi ilmu agama
dan ilmu dunia (Ilmu Alam & ilmu sosial). Dikotomi tersebut menjadikan manusia
hanya cerdas saja atau beriman saja sesuai dengan pilihannya. Sehingga dapat
kita lihat ada banyak orang cerdas yang tidak paham agama, seperti para pejabat
yang tidak amanah, anggota legislatif yang hanya bisa korupsi, atau hakim yang
curang. Disisi lain orang-orang yang paham agama banyak yang tidak menguasai
iptek, sehingga perkataannya hanya didengar di mimbar-mimbar masjid, dan akan
segera hilang ketika jama’ah meninggalkan masjid.
Dehumanisasi Pendidikan
Dehumanisasi adalah proses penidakmanusiaan manusia, dimana
manusia diperlakukan tidak sesuai dengan fitrahnya. Manusia hanya diukur
berdasarkan tolak ukur tertentu yang mengesampingkan harkat dan martabat
manusia. Dehumanisasi pendidikan ini sendiri lahir dari sekulerisasi pendidikan
yang menghilangkan peran agama dalam kehidupan,
dan justru menistakan martabat manusia.
Indikasi dehumanisasi dalam bidang pendidikan bisa kita
lihat dengan lahirnya teori educational production process dalam
pendidikan yang memandang proses pendidikan sama dengan proses produksi di
sebuah pabrik. Anak didik dipandang sebagai masukan kasar (raw input),
sekolah adalah sebagai pabriknya, sedang guru, kurikulum, buku, dan fasilitas
pendidikan lainnya sebagai masukan instrumental (instrumental input),
kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan aspek pertahanan keamanan
merupakan masukan lingkungan (environmental input). Semua masukan kasar
dan instrumental tersebut akan mempengaruhi keluaran yang diharapkan (output)
dan hasilnya (outcomes).
Konsep ini memandang pendidikan
sama halnya dengan mekanisme produksi, dimana pelajar dijadikan objek produksi
yang cukup diberi asupan materi akademik tanpa adanya penanaman nilai-nilai religius
dan pembentukan kepribadian. Jadi wajarlah jika hari ini kita lihat bahwa pendidikan
justru melahirkan manusia yang krisis moral dan krisis kepribadian. Pendidikan
kini hanya berorientasi pada nilai-nilai akademik untuk mendapatkan ijazah dan
memperoleh pekerjaan yang layak untuk meraih tujuan akhirnya mengumpulkan materi
sebanyak-banyaknya.
Pendidik sebagai instrumen pendidikan kini telah
kehilangan fungsi pentingnya sebagai pendidik. Guru dan dosen kini hanya fokus mengajarkan
materi, materi dan materi untuk kemudian dievaluasi dalam bentuk penilaian. Sehingga
proses mendidik manusia menjadi insan yang berkepribadian luhur luput dari
proses pendidikan. Titik pentingnya hanyalah penguasaan materi yang sesuai
dengan tuntutan kurikulum yang seringkali juga berubah-ubah, namun tak pernah
membawa perubahan positif yang signifikan. Sebut saja kurikulum 2013 yang kini
diterapkan, dengan visinya pendidikan berkarakter, nyatanya malah menjadikan
pelajar merasa bosan dengan sekolah yang seakan-akan menjadikan mereka robot
terdidik yang tidak diperdulikan lagi perasaannya.
Fenomena dehumanisasi di dunia
pendidikan juga diperkuat dengan tingkat kekerasan yang terjadi di lembaga
pendidikan. Dari laporan media massa, tahun 2008 misalnya, terjadi 1.736 kasus
kekerasan terhadap anak dan tahun 2009 sebanyak 1.998 kasus.
Solusi
Setelah menganalisis fakta yang
terjadi, bisa kita simpulkan bahwa akar masalah dari problematika pendidikan
yang kini terjadi adalah penerapan sistem kapitalisme yang berasaskan
sekulerisme. Paham ini telah menginfeksi
semua sendi kehidupan umat islam, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial maupun
politik. Let’s open your eyes and your mind, semua kerusakan yang
disebabkan oleh sistem kapitalisme telah tampak begitu nyata dihadapan kita. Lalu
apalagi yang masih kita harapkan dari sistem bobrok ini..?
Dengan semua kerusakan yang terjadi akibat penerapan
sistem kapitalisme ini, kita seharusnya sadar, bahwa sistem ini hanya bisa
memberikan harapan-harapan palsu tentang kesejahteraan dan kita mesti segera move
on dari sistem kapitalisme yang melahirkan dehumanisasi di bidang pendidikan.
Mari kembali pada islam, karena islam-lah yang memberikan solusi komprehensif untuk
semua permasalahan umat manusia, termasuk dalam masalah pendidikan . Adapun solusi
islam untuk mencetak generasi-generasi emas yang mumpuni dalam berbagai bidang
keilmuan, yakni sebagi berikut :
1.
Asas
Pendidikan
Pendidikan seharusnya dibangun
berdasarkan aqidah islam, yang
menjadi dasar:
ü Penentuan arah dan
tujuan pendidikan,
ü Penyusunan
kurikulum dan standar nilai
ü Proses belajar
mengajar,
ü Penentuan
kualifikasi pengajar
ü Budaya kampus
2.
Orientasi
Pendidikan
Orientasi pendidikan haruslah
diluruskan. Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzhamul Islam hal. 189
menyebutkan ”Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian islam serta
membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan
kehidupan. Metode penyampaian pelajaran dirancang untuk menunjang tercapainya tujuan
tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut
dilarang.“ (Rancangan UUD pasal 171). Jika dideskripsikan lebih detilnya orientasi
keluaran (output) dari sistem pendidikan islam yakni berupa keseimbangan
pada tiga unsur pendidikan (syakhsiyah Islam, tsaqofah Islam, ilmu kehidupan).
3.
Keterpaduan
3 Unsur Pelaksana Pendidikan
Didalam islam proses
pendidikan tidak hanya terjadi dalam lingkup sekolah atau kampus melainkan
harus ada keterpaduan antara unsur-unsur pelaksana pendidikan yakni rumah
(keluarga) yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak-anaknya, sekolah
sebagai institusi pelaksana pendidikan formal, dan masyarakat sebagai
pengontrol untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang islami dengan cara amar
ma’ruf nahi munkar.
Ketiga solusi diatas tentunya hanya bisa terlaksana
secara sempurna dibawah naungan Negara Islam yang menjadi induk dari sistem
pendidikan islam dan sistem-sistem islam lainnya. Negara yang menjadikan islam
sebagai ideologi negaranya dan menerapkan hukum syari’at islam secara kaffah. Dengan
penerapan sistem islam yang menaungi sistem pendidikan islam, pendidikan akan
kembali membawa cahaya perubahan, cahaya yang akan menghapus kejahiliyahan dan
mengantarkan manusia pada kegemilangan peradaban islam yang memuliakan manusia
sebagaimana layaknya manusia.