Senin, 15 Desember 2014

Redupnya Cahaya Pendidikan




            Dunia pendidikan yang seharusnya membawa cahaya, kini telah redup. Berubah menjadi gelap gulita. Hal ini bisa kita lihat dari menjamurnya kasus-kasus penyimpangan yang dilakukan oleh para pelajar. Berikut beberapa kasus yang marak terjadi dikalangan pelajar :
a.      Tawuran
Salah satu masalah krusial yang paling sering terjadi adalah tawuran pelajar. Tawuran atau perkelahian antar pelajar baik satu sekolah maupun  dengan sekolah lain seringkali timbul dari masalah-masalah sepele seperti saling ejek, atau sekedar tradisi tahunan yang diwarisi dari generasi ke generasi. Menurut data dari KPAI, jumlah tawuran pelajar pada tahun 2012 yakni sebanyak 147 kasus, dan terus meningkat bahkan pada tahun 2013 mencapai 255 kasus.
b.     Narkoba
Masalah  lainnya yang juga menghantui pelajar saat ini adalah merebaknya narkoba dikalangan pelajar. Pemakaian narkoba yang awalnya hanya iseng dan coba-coba berujung pada kecanduan dan kematian yang sia-sia. Menurut BNN jumlah pemakai narkoba dikalangan pelajar mencapai 50–60 % dari  total keseluruhan pemakai narkoba yang berjumlah 3,8–4,2 juta (detikHealth, 6/6/2012) .


C. Free Sex
Modernisasi yang kini terjadi, banyak sekali membawa dampak buruk berupa life style barat yang dianggap lumrah dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang lagi faktor agama. Mulai dari pola konsumerisme, hedonisme hingga free sex  menjadi suguhan yang ditawarkan media kepada masyarakat luas, terutama kepada pelajar yang notabene nya masih berada dalam usia remaja, sehingga mudah sekali untuk dipengaruhi. Wajar saja, jika kini free sex  merebak luas dikalangan pelajar. Menurut survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar selama tahun 2007 diperoleh fakta bahwa 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan serta 21,2% remaja SMU pernah aborsi. (khabarislam.wordpress.com).
Lalu apa yang menyebabkan pendidikan kehilangan fungsinya sebagai cahaya penerang bagi manusia khususnya kaum pelajar , sehingga melahirkan begitu banyak problema ...?.
Akar dari permasalahan pendidikan ini adalah  adanya dehumanisasi pendidikan yang lahir dari sistem pendidikan sekuler. Lalu apa sebenarnya dehumanisasi dan sekulerisasi pendidikan ...?
Sekulerisasi Pendidikan
Pendidikan saat ini dibangun diatas asas sekulerisme yakni pemisahan agama dari kehidupan. Menurut pandangan sekulerisme pendidikan hanya bertujuan untuk mencerdaskan manusia, dan mengabaikan pembentukan karakter manusia secara utuh, serta mengesampingkan adanya peran agama dalam kehidupan. Sehingga muncullah dikotomi dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, misalnya saja ada sekolah yang dikhususkan untuk mendalami ilmu agama seperti pesantrean, MAN, dan ada pula sekolah yang dikhususkan untuk mempelajari ilmu dunia seperti SMA dan SMK. Ilmu pengetahuan pun dipisahkan menjadi ilmu agama dan ilmu dunia (Ilmu Alam & ilmu sosial). Dikotomi tersebut menjadikan manusia hanya cerdas saja atau beriman saja sesuai dengan pilihannya. Sehingga dapat kita lihat ada banyak orang cerdas yang tidak paham agama, seperti para pejabat yang tidak amanah, anggota legislatif yang hanya bisa korupsi, atau hakim yang curang. Disisi lain orang-orang yang paham agama banyak yang tidak menguasai iptek, sehingga perkataannya hanya didengar di mimbar-mimbar masjid, dan akan segera hilang ketika jama’ah meninggalkan masjid.
Dehumanisasi Pendidikan
Dehumanisasi adalah proses penidakmanusiaan manusia, dimana manusia diperlakukan tidak sesuai dengan fitrahnya. Manusia hanya diukur berdasarkan tolak ukur tertentu yang mengesampingkan harkat dan martabat manusia. Dehumanisasi pendidikan ini sendiri lahir dari sekulerisasi pendidikan yang  menghilangkan peran agama dalam kehidupan, dan justru menistakan martabat manusia.  
Indikasi dehumanisasi dalam bidang pendidikan bisa kita lihat dengan lahirnya teori educational production process dalam pendidikan yang memandang proses pendidikan sama dengan proses produksi di sebuah pabrik. Anak didik dipandang sebagai masukan kasar (raw input), sekolah adalah sebagai pabriknya, sedang guru, kurikulum, buku, dan fasilitas pendidikan lainnya sebagai masukan instrumental (instrumental input), kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan aspek pertahanan keamanan merupakan masukan lingkungan (environmental input). Semua masukan kasar dan instrumental tersebut akan mempengaruhi keluaran yang diharapkan (output) dan hasilnya (outcomes).
Konsep ini memandang pendidikan sama halnya dengan mekanisme produksi, dimana pelajar dijadikan objek produksi yang cukup diberi asupan materi akademik tanpa adanya penanaman nilai-nilai religius dan pembentukan kepribadian. Jadi wajarlah jika hari ini kita lihat bahwa pendidikan justru melahirkan manusia yang krisis moral dan krisis kepribadian. Pendidikan kini hanya berorientasi pada nilai-nilai akademik untuk mendapatkan ijazah dan memperoleh pekerjaan yang layak untuk   meraih tujuan akhirnya mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya.
Pendidik sebagai instrumen pendidikan kini telah kehilangan fungsi pentingnya sebagai pendidik. Guru dan dosen kini hanya fokus mengajarkan materi, materi dan materi untuk kemudian dievaluasi dalam bentuk penilaian. Sehingga proses mendidik manusia menjadi insan yang berkepribadian luhur luput dari proses pendidikan. Titik pentingnya hanyalah penguasaan materi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang seringkali juga berubah-ubah, namun tak pernah membawa perubahan positif yang signifikan. Sebut saja kurikulum 2013 yang kini diterapkan, dengan visinya pendidikan berkarakter, nyatanya malah menjadikan pelajar merasa bosan dengan sekolah yang seakan-akan menjadikan mereka robot terdidik yang tidak diperdulikan lagi perasaannya.  
Fenomena dehumanisasi di dunia pendidikan juga diperkuat dengan tingkat kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Dari laporan media massa, tahun 2008 misalnya, terjadi 1.736 kasus kekerasan terhadap anak dan tahun 2009 sebanyak 1.998 kasus.
Solusi
            Setelah menganalisis fakta yang terjadi, bisa kita simpulkan bahwa akar masalah dari problematika pendidikan yang kini terjadi adalah penerapan sistem kapitalisme yang berasaskan sekulerisme.  Paham ini telah menginfeksi semua sendi kehidupan umat islam, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial maupun politik. Let’s open your eyes and your mind, semua kerusakan yang disebabkan oleh sistem kapitalisme telah tampak begitu nyata dihadapan kita. Lalu apalagi yang masih kita harapkan dari sistem bobrok ini..?
            Dengan semua kerusakan yang terjadi akibat penerapan sistem kapitalisme ini, kita seharusnya sadar, bahwa sistem ini hanya bisa memberikan harapan-harapan palsu tentang kesejahteraan dan kita mesti segera move on dari sistem kapitalisme yang melahirkan dehumanisasi di bidang pendidikan. Mari kembali pada islam, karena islam-lah yang memberikan solusi komprehensif untuk semua permasalahan umat manusia, termasuk dalam masalah pendidikan . Adapun solusi islam untuk mencetak generasi-generasi emas yang mumpuni dalam berbagai bidang keilmuan, yakni sebagi berikut :

1.      Asas Pendidikan
Pendidikan seharusnya dibangun berdasarkan aqidah islam, yang menjadi dasar:
ü  Penentuan arah dan tujuan pendidikan,
ü  Penyusunan kurikulum dan standar nilai
ü  Proses belajar mengajar,
ü  Penentuan kualifikasi pengajar
ü  Budaya kampus
2.      Orientasi Pendidikan
Orientasi pendidikan haruslah diluruskan. Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzhamul Islam hal. 189 menyebutkan ”Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian islam serta membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Metode penyampaian pelajaran dirancang untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut dilarang.“ (Rancangan UUD pasal 171).        Jika dideskripsikan lebih detilnya orientasi keluaran (output) dari sistem pendidikan islam yakni berupa keseimbangan pada tiga unsur pendidikan (syakhsiyah Islam, tsaqofah Islam, ilmu kehidupan).
3.      Keterpaduan 3 Unsur Pelaksana Pendidikan
Didalam islam proses pendidikan tidak hanya terjadi dalam lingkup sekolah atau kampus melainkan harus ada keterpaduan antara unsur-unsur pelaksana pendidikan yakni rumah (keluarga) yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak-anaknya, sekolah sebagai institusi pelaksana pendidikan formal, dan masyarakat sebagai pengontrol untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang islami dengan cara amar ma’ruf nahi munkar.
            Ketiga solusi diatas tentunya hanya bisa terlaksana secara sempurna dibawah naungan Negara Islam yang menjadi induk dari sistem pendidikan islam dan sistem-sistem islam lainnya. Negara yang menjadikan islam sebagai ideologi negaranya dan menerapkan hukum syari’at islam secara kaffah. Dengan penerapan sistem islam yang menaungi sistem pendidikan islam, pendidikan akan kembali membawa cahaya perubahan, cahaya yang akan menghapus kejahiliyahan dan mengantarkan manusia pada kegemilangan peradaban islam yang memuliakan manusia sebagaimana layaknya manusia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar