Pemuda, ditangannya-lah sebuah perubahan akan terlaksana,
dipundaknya harapan-harapan untuk masa
depan yang lebih baik harus ia pikul. Ya, karena begitu luarbiasanya peran
pemuda dalam kehidupan ini, bahkan Soekarno dengan lantangnya menyebutkan “Beri
aku 10 pemuda, maka akan ku goncangkan dunia..!” Sebuah steatment yang sangat menantang.
So, mengapa Soekarno tidak mampu menggoncangkan dunia ini dengan perubahan yang
lebih baik, bukankah Indonesia memiliki jutaan bahkan puluhan juta pemuda..?
Ada apa gerangan..? Sungguh ini menjadi tanda tanya besar yang belum terjawab. Pemuda,
begitu banyak orang yang menyanjungnya dengan branding sebagai agent
of change, pemuda sebagai intellectuall people atau pemuda sebagai pemimpin
masa depan. Tapi apa yang terjadi..? . Agaknya ungkapan diatas hanya menjadi
stempel tanpa makna, tanpa harga dan tanpa aplikatif yang nyata.
Hari ini, pemuda yang katanya intellectuall people
justru melakukan aksi tawuran dimana-mana, menyontek saat ujian menjadi
kebiasaan dan benih awal seorang pembohong hingga tak usah heran jika pemimpin
yang lahir adalah pemimpin yang korup dan gampang sekali mengucapkan
janji-janji kosong yang berisi tipu muslihat dan dengan berbagai macam dalih membohongi
rakyatnya lewat kebijakan-kebijakan yang tak sedikitpun memihak kepada rakyat. Belum
lagi seabrek penyimpangan sosial lainnya seperti narkoba, free sex, dan
kembaran-kembarannya yang lain.
Hari ini, pemuda yang digaung-gaungkan sebagai agent
of change, justru hanya diam, diam dengan berbagai problematika yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat. Seakan buta dengan kezaliman yang semakin
merajarela, seakan tuli dengan tangisan rakyat yang semakikn tercekik dan bisu
untuk menyuarakan kebenaran, bisu untuk mengoreksi kebijakan pemerintah, hingga
keadaan semakin memburuk, karena banyak yang hanya diam, banyak yang tidak mau
berubah dan menyuarakan perubahan. Pemuda lagi-lagi hanya diam. Sibuk dengan
dunianya yang gemerlap, sibuk dengan konser berbau ikhtilat, life style
yang tidak keru-kerauan bahkan membuka aurat tanpa rasa malu sedikitpun. Sibuk
dengan gadget dan dunia maya, hingga melupakan dunia nyata tempat dimana
ia sebenarnya hidup. Pikirannya semakin pragmatis, ogah memikirkan masalah umat
yang dianggap ribet. Inikah yang disebut agent of change...?
Dan lagi, masih di hari yang sama. Ya, hari ini pemuda
yang diharapkan menjadi The Next leader bahkan tak lagi bisa memimpin
dirinya dengan benar, tak lagi mampu memimpin dirinya dengan akal dan keimanan.
Mereka hanya menjadi budak dari nafsunya sehingga mudah sekali terjerumus dalam
lubang-lubang kemaksiatan yang banyak
sekali jumlahnya.
Ada apa gerangan dengan semua ini...? Pemuda yang
memiliki brand yang ‘waw’ dengan trisakti nya sebagai intellectual people,
agent of change dan The next leader nyatanya hanya menjadi PHP
(Pemberi Harapan Palsu) yang bukan hanya tidak memberikan cahaya penerang
tetapi juga membuat permasalahan ditengah masyarakat semakim kronis. Sakitnya
tuh disana (nunjuk pemuda) . Bila kita lihat dengan saksama permasalahan yang
terjadi dikalangan pemuda bukan hanya berasal dari internal, tetapi juga dari
faktor-faktor eksternal yang mengungkungnya. Yuk intip penjelasannya,
cekidot...!
Faktor internal yakni, faktor-faktor yang berasal dari
dalam diri pemuda itu sendiri misalnya sikap apatis, pragmatis, egois dan is
is lainnya yang membuat pemuda tidak peduli dengan lingkungannya. Hal
ini juga bisa ditimbulkan karena kurangnya pemahaman pemuda tentang hakikat kehidupan,
yakni dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup dan akan kemana nantinya setelah
hidup ini. Ketika ia bisa menjawab tiga pertanyaan besar ini dengan benar maka ia
akan tahu who is he. Inilah yang akan menjadi pondasi pemikirannya yang akan
melahirkan pemahaman tentang kehidupan, pemaknaan kehidupan serta penyikapan diri
dalam meghadapi kehidupan dengan benar.
Sedangkan faktor eksternal yakni,
faktor-faktor lain diluar dirinya yang turut mempengaruhinya. Meskipun berasal
dari luar dirinya, tetapi faktor eksternal adalah sesuatu yang sistematis yang
memiliki pengaruh besar terhadap permasalahan pemuda ini. Hal ini terkait
dengan sistem atau tatanan kehidupan dalam masyarakat, seperti pendidikan, interaksi
masyarakat (sistem sosial) maupun menyangkut sistem hukum yang digunakan.
Misalnya saja pendidikan yang hari ini masih berkiblat pada Barat, pendidikan
yang tidak mendidik karena justru melahirkan generasi cacat akibat adanya
pemisahan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Sehingga adalah sangat wajar
ketika para intelektual saat ini jauh dari islam. Mereka bahkan menganggap
bahwa kehidupan di dunia ini ya harus diatur dengan konsep manusia, sedangkan
konsep agama cukup diterapkan di masjid-masjid atau dalam rutinitas ibadah
semata.
Tak jauh berbeda dengan pendidikan, sistem sosial
dimasyarakat juga memberi efek buruk dalam upaya konstruktif generasi muda. Sistem
sosial ibarat tanah dan generasi muda
adalah tanaman yang tumbuh diatasnya, maka ketika sistem sosialnya rusak akibat
tidak adanya aktivitas amar ma’ruf nahi munkar maka pemuda yang tumbuh
dalam sistem sosial inipun ikut rusak dan menghasilkan generasi yang gagal
panen, ya gagal memanen sebuah masa depan yang lebih baik.
Begitupun dengan sistem hukum yang saat ini digunakan,
hukum pisau yang tajam kebawah dan tumpul ke atas. Hukum yang diproduksi oleh manusia-manusia lemah
yang memiliki modus tertentu yang tidak menyelesaikan masalah secara adil. Hukum
mandul yang gagal mencegah manusia dari berbuat maksiat, karena tidak memiliki
efek jera dan dapat dibayar dengan murah.
Untuk bisa tumbuh menjadi generasi harapan umat kita
harus memangkas faktor-faktor penghambat seperti yang telah kita obrolkan
bersama sebelumnya. Faktor internal bisa
diatasi melalui pembinaan para pemuda untuk membentuk pemuda berkepribadian
utuh yang memiliki jati diri yang kokoh sehingga tidak mudah terpengaruh oleh bisikan-bisikan
manis para ‘manusia bertanduk’ yang menghias dunia dengan manik-manik keindahan
yang palsu. Sedangkan mengatasi faktor
eksternal yang merusak pemuda haruslah dilakukan upaya yang sistematis yakni
dengan mengganti sistem/tatananan kehidupan yang rusak dengan tatanan kehidupan
yang lebih baik. Kenapa mesti
diganti...? Let’s open your eyes and your mind. Yuk toleh kanan-kiri, dimana-mana
berserakan kerusakan mulai dari kemiskinan, pergaulan remaja yang amburadul,
pendidikan yang menghasilkan generasi yang tidak terdidik yang sibuk dengan tawuran,
yang hanya bisa noleh –kanan-kiri saat ujian tapi gak pernah noleh kanan-kiri
lingkungan sekitarnya. Semuanya menjadi gambaran nyata akan kebobrokan sistem kehidupan
saat ini. Gimana mau bener coba kalo yang buat sistemnya juga sama aja. Sama-sama
lemah dan punya banyak modus, sehingga sistem yang tercipta bersifat subjektif
dan tidak bisa menciptakan keteraturan yang baik. Yuk move on, berpindah ke
lain hati, eh salah, berpindah ke lain sistem maksudnya... hehe. Yap, ke sistem
yang lebih mantap dan lebih baik tentunya. Sistem yang memberikan solusi
komprehensif akan problematika masyarakat kita yang telah terinfeksi oleh
virus-virus pemikiran barat yang menjauhkan kita dari sebuah solusi gemilang yang
bersumber dari Yang Maha dari Segala Maha, yakni Allah Swt. Solusi ini bisa
kita temukan dalam sebuah petunjuk yang tak pernah usang, sebuah mukjizat yang tak
lekang dimakan waktu yakni Al-Qur’an plus As-Sunnah. Yuk, back to islam
kaffah...! , Yup, islam yang menyeluruh yang segala sesuatunya disandarkan
pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar