Jumat, 09 Januari 2015

Rekonstruksi Peran Pemuda






Pemuda, ditangannya-lah sebuah perubahan akan terlaksana, dipundaknya  harapan-harapan untuk masa depan yang lebih baik harus ia pikul. Ya, karena begitu luarbiasanya peran pemuda dalam kehidupan ini, bahkan Soekarno dengan lantangnya menyebutkan “Beri aku 10 pemuda, maka akan ku goncangkan dunia..!”  Sebuah steatment yang sangat menantang. So, mengapa Soekarno tidak mampu menggoncangkan dunia ini dengan perubahan yang lebih baik, bukankah Indonesia memiliki jutaan bahkan puluhan juta pemuda..? Ada apa gerangan..? Sungguh ini menjadi tanda tanya besar yang belum terjawab. Pemuda, begitu banyak orang yang menyanjungnya dengan branding sebagai agent of change, pemuda sebagai intellectuall people atau pemuda sebagai pemimpin masa depan. Tapi apa yang terjadi..? . Agaknya ungkapan diatas hanya menjadi stempel tanpa makna, tanpa harga dan tanpa aplikatif yang nyata.
Hari ini, pemuda yang katanya intellectuall people justru melakukan aksi tawuran dimana-mana, menyontek saat ujian menjadi kebiasaan dan benih awal seorang pembohong hingga tak usah heran jika pemimpin yang lahir adalah pemimpin yang korup dan gampang sekali mengucapkan janji-janji kosong yang berisi tipu muslihat dan dengan berbagai macam dalih membohongi rakyatnya lewat kebijakan-kebijakan yang tak sedikitpun memihak kepada rakyat. Belum lagi seabrek penyimpangan sosial lainnya seperti narkoba, free sex, dan kembaran-kembarannya yang lain.
Hari ini, pemuda yang digaung-gaungkan sebagai agent of change, justru hanya diam, diam dengan berbagai problematika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Seakan buta dengan kezaliman yang semakin merajarela, seakan tuli dengan tangisan rakyat yang semakikn tercekik dan bisu untuk menyuarakan kebenaran, bisu untuk mengoreksi kebijakan pemerintah, hingga keadaan semakin memburuk, karena banyak yang hanya diam, banyak yang tidak mau berubah dan menyuarakan perubahan. Pemuda lagi-lagi hanya diam. Sibuk dengan dunianya yang gemerlap, sibuk dengan konser berbau ikhtilat, life style yang tidak keru-kerauan bahkan membuka aurat tanpa rasa malu sedikitpun. Sibuk dengan gadget dan dunia maya, hingga melupakan dunia nyata tempat dimana ia sebenarnya hidup. Pikirannya semakin pragmatis, ogah memikirkan masalah umat yang dianggap ribet. Inikah yang disebut agent of change...?
Dan lagi, masih di hari yang sama. Ya, hari ini pemuda yang diharapkan menjadi The Next leader bahkan tak lagi bisa memimpin dirinya dengan benar, tak lagi mampu memimpin dirinya dengan akal dan keimanan. Mereka hanya menjadi budak dari nafsunya sehingga mudah sekali terjerumus dalam lubang-lubang kemaksiatan  yang banyak sekali jumlahnya.
Ada apa gerangan dengan semua ini...? Pemuda yang memiliki brand yang ‘waw’ dengan trisakti nya sebagai intellectual people, agent of change dan The next leader nyatanya hanya menjadi PHP (Pemberi Harapan Palsu) yang bukan hanya tidak memberikan cahaya penerang tetapi juga membuat permasalahan ditengah masyarakat semakim kronis. Sakitnya tuh disana (nunjuk pemuda) . Bila kita lihat dengan saksama permasalahan yang terjadi dikalangan pemuda bukan hanya berasal dari internal, tetapi juga dari faktor-faktor eksternal yang mengungkungnya. Yuk intip penjelasannya, cekidot...!
            Faktor internal yakni, faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pemuda itu sendiri misalnya sikap apatis, pragmatis, egois dan is is lainnya yang membuat pemuda tidak peduli dengan lingkungannya. Hal ini juga bisa ditimbulkan karena kurangnya pemahaman pemuda tentang hakikat kehidupan, yakni dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup dan akan kemana nantinya setelah hidup ini. Ketika ia bisa menjawab tiga pertanyaan besar ini dengan benar maka ia akan tahu who is he. Inilah yang akan menjadi pondasi pemikirannya yang akan melahirkan pemahaman tentang kehidupan, pemaknaan kehidupan serta penyikapan diri dalam meghadapi kehidupan dengan benar.
            Sedangkan faktor eksternal yakni, faktor-faktor lain diluar dirinya yang turut mempengaruhinya. Meskipun berasal dari luar dirinya, tetapi faktor eksternal adalah sesuatu yang sistematis yang memiliki pengaruh besar terhadap permasalahan pemuda ini. Hal ini terkait dengan sistem atau tatanan kehidupan dalam masyarakat, seperti pendidikan, interaksi masyarakat (sistem sosial) maupun menyangkut sistem hukum yang digunakan. Misalnya saja pendidikan yang hari ini masih berkiblat pada Barat, pendidikan yang tidak mendidik karena justru melahirkan generasi cacat akibat adanya pemisahan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Sehingga adalah sangat wajar ketika para intelektual saat ini jauh dari islam. Mereka bahkan menganggap bahwa kehidupan di dunia ini ya harus diatur dengan konsep manusia, sedangkan konsep agama cukup diterapkan di masjid-masjid atau dalam rutinitas ibadah semata.
Tak jauh berbeda dengan pendidikan, sistem sosial dimasyarakat juga memberi efek buruk dalam upaya konstruktif generasi muda. Sistem sosial ibarat tanah  dan generasi muda adalah tanaman yang tumbuh diatasnya, maka ketika sistem sosialnya rusak akibat tidak adanya aktivitas amar ma’ruf nahi munkar maka pemuda yang tumbuh dalam sistem sosial inipun ikut rusak dan menghasilkan generasi yang gagal panen, ya gagal memanen sebuah masa depan yang lebih baik.
Begitupun dengan sistem hukum yang saat ini digunakan, hukum pisau yang tajam kebawah dan tumpul ke atas. Hukum  yang diproduksi oleh manusia-manusia lemah yang memiliki modus tertentu yang tidak menyelesaikan masalah secara adil. Hukum mandul yang gagal mencegah manusia dari berbuat maksiat, karena tidak memiliki efek jera dan dapat dibayar dengan murah.
Untuk bisa tumbuh menjadi generasi harapan umat kita harus memangkas faktor-faktor penghambat seperti yang telah kita obrolkan bersama sebelumnya.  Faktor internal bisa diatasi melalui pembinaan para pemuda untuk membentuk pemuda berkepribadian utuh yang memiliki jati diri yang kokoh sehingga tidak mudah terpengaruh oleh bisikan-bisikan manis para ‘manusia bertanduk’ yang menghias dunia dengan manik-manik keindahan yang palsu.  Sedangkan mengatasi faktor eksternal yang merusak pemuda haruslah dilakukan upaya yang sistematis yakni dengan mengganti sistem/tatananan kehidupan yang rusak dengan tatanan kehidupan yang lebih baik.  Kenapa mesti diganti...? Let’s open your eyes and your mind. Yuk toleh kanan-kiri, dimana-mana berserakan kerusakan mulai dari kemiskinan, pergaulan remaja yang amburadul, pendidikan yang menghasilkan generasi yang tidak terdidik yang sibuk dengan tawuran, yang hanya bisa noleh –kanan-kiri saat ujian tapi gak pernah noleh kanan-kiri lingkungan sekitarnya. Semuanya menjadi gambaran nyata akan kebobrokan sistem kehidupan saat ini. Gimana mau bener coba kalo yang buat sistemnya juga sama aja. Sama-sama lemah dan punya banyak modus, sehingga sistem yang tercipta bersifat subjektif dan tidak bisa menciptakan keteraturan yang baik. Yuk move on, berpindah ke lain hati, eh salah, berpindah ke lain sistem maksudnya... hehe. Yap, ke sistem yang lebih mantap dan lebih baik tentunya. Sistem yang memberikan solusi komprehensif akan problematika masyarakat kita yang telah terinfeksi oleh virus-virus pemikiran barat yang menjauhkan kita dari sebuah solusi gemilang yang bersumber dari Yang Maha dari Segala Maha, yakni Allah Swt. Solusi ini bisa kita temukan dalam sebuah petunjuk yang tak pernah usang, sebuah mukjizat yang tak lekang dimakan waktu yakni Al-Qur’an plus As-Sunnah. Yuk, back to islam kaffah...! , Yup, islam yang menyeluruh yang segala sesuatunya disandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar