Minggu, 30 Maret 2014

Ran's quote




Muhasabah

Aku tak tau apa yang akan terjadi esok hari. Apakah masih dapat ku hirup udara yang bersih dan menenangkan, apakah masih bisa ku rasakan belaian angin yang datang dengan tiba-tiba, apakah masih dapat ku lihat cerahnya mentari pagi yang menyilaukan, atau kerlip bintang ditengah gelapnya langit malam. Ah, aku memang hanya seorang insan yang naif. Insan yang berlumur dosa, yang seringkali lalai dengan amanah dakwah atau perintahmu lainnya, yang terkadangmudahterhasut oleh bujuk rayu setan yang memperdayaku. Entah sudah berapa banyak waktu yang ku buang sia-sia, entah sudah berapa banyak tinta hitam ku tumpahkan dalam kanvas kehidupan ini. Aku malu pada-Mu Ya Rabb. Engkau yg selalu saja mau menerima sujud hambamu yang kotor ini. Ampuni hamba-Mu ini Ya Rabb, hamba yang tak berdaya dan tak tau apa-apa, dan kiranya tunjukkanlah diri ini ke dalam cahayamu, dan berikanlah keistiqamahan dalam jalan tersebut, jalan yg akan membuatku sampai di jannahmu, meski hanya di surga terakhir, karena aku sadar sekali bahwa surga firdaus tidaklah layak bagiku. aku hanya berharap terhindar dari pedihnya azabmu, panasnya nar dan kesengsaraan didalam neraka. Hanya itu Ya Rabb, karena aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang hamba yang sungguh lalai.

Rabu, 26 Maret 2014

?

Sejujurnya aku bingung.. bingung dengan semua yang akan ku hadapi nanti. Apa itu masa depan...? lalu bagaimana masa depanku kelak...? aku sendiri tak tahu, sampai nanti waktu menjawabnya, menggelarkan kenyataan dihadapanku. Aku hanya bisa berjalan saat ini. Berjalan sambil terus mencari jalan yg nanti akan menjadi tujuanku. Meski semua tanda tanya itu terus mengepungku, aku tak kuasa untuk menjawabnya, tak kuasa jika nanti jawaban yang ku harapkan, tak kunjung ku harapkan. Inilah kehidupan yang memang penuh tanda tanya. Dan, lagi-lagi aku belum menemukan cahaya terang, setitik cahaya yang akan menunjukkan jalan untukku........

Minggu, 23 Maret 2014

A DREAM

Jika ditanya masih berharap, saya sangat berharap akan itu. Mimpi untuk kuliah di sana. Meski tak ada yang tahu apakah hal itu mungkin terjadi. Sejujurnya selama ini aku gak pernah minta apa-apa baru kali ini aku dengan keukeh menginnginkan sesuatu itu Sesuau yang  sangat ku idam-idamkan. apaakah itu salah...? Nampaknya mereka berpikir bahwa itu sesuatu yang salah. Lihatlah, ketika kebanyakan temanku mengendarai motor yang bagus, aku tak pernah merengek untuk itu, begitupun ketika mereka asyik dengan smartphone ny aku tidak pernah ingin seperti mereka. Aku hanya ingin kuliah disana..! Entah untuk yang keberapa kalinya aku merasakan hal yang serupa ketika butiran mimpi yang q genggam erat-erat, dipaksa untuk lepas dari tangan ini, ya mereka merenggut milikku yang berharga. Sebuah mimpi yang selalu memberiku keyakinan bahwa aku bisa melakukannnya. Sebuah mimpi yang membuatku akan terus mencoba melampaui terjalnya bebatuan yang menghadang jalan ini. Sekarang, ketika mimpi itu tlah menjad serpihan, maka semua semangat untuk memanjat kaki langit serasa begitu berat. Aku bahkan kehilangan kepercayaan diri dalam belajar. Aku bahkan bermalas-malasan karena beranggapan bahwa percuma saja aku belajar jika akhirnya mimpi itu telah dirampas dariku. Semua harapanku musnah seketika. Tapi, meski mimpi itu telah dirampas dariku, dalam bilik hati yang terkecil ini  sepihan mimpi itu masih melekat jelas disana, dan bahkan masih terus terngiang dalam pikiranku. Aku hanya berharap mimpi itu akan menjadi nyata. Ya, hanya itu. Aku ingin kuliah disana.Aku sendiri tak tau kelanjutan dari potongan mozaikku, bisakah aku seperti Andrea Hirata yang berhasiil menggapai mimpinya, ataukah aku hanya akan menjadi seperti Alif dalam kisah Trilogi Negeri 5 Menara....

Sabtu, 22 Maret 2014

Tentang pagi

Selamat pagi dunia...! Happy sunday...! Aku selalu mneyukai keindahan dipagi hari, keindahan yang masih alami dan belum terusik oleh manusia. Dipagi hari aku bisa menikmati cahaya matahari yang baru muncul dengan malu-malu, semburat jingganya terlihat begitu cantik menghiasi langit yang putih-kebiruan. Selain itu aku juga bisa menikmati senandung burung gereja yang bermain diranting-ranting pepohonan, lalu terbang bersama koloninya, atau kokok ayam yang membangunkan umat manusia. Jika aku tidak telat berangkat sekolah, aku juga bisa melihat gerombolan merpati yang biasanya turun ke tanah saat diberi makan oleh pemiliknya, dan ketika aku lewat, dengan cepat mereka naik ke atap, memperhatikanku dengan sedikit kanehan yang mungkin berkata " mengapa kau menggangguku pagi-pagi begini...?" dan aku hanya tersenyum kecil menangggapinya. Di pagi ini, rembulan yang bentuknya masih seperempat dari sempurna itu terlihat pucat, hampir tersamarkan oleh cahaya matahari, namun masih juga kelihatan. Dan hal yang paling indah dipagi hari adlah dimana aku bisa menikmati udara segar yang menyejukkan, udara yang belum terkontaminasi oleh asap kendaraan, udara yang ketika menghirupnya membuatku merasa sangat nyaman.
Morning is beatiful...

untitled

Udah lama gak nulis diary, sehingga saya begitu bersemangat untuk menulis diblog ini...
sebenernya dulu udah punya blog juga, tapi karena lupa sandi dan emailnya, jadi gak bisa dibuka deh... Ini nih habits buruk gw, tulalit...lit...lit... (berbahaya...Jangan tiru adegan ini dirumah anda...!) blog ini berisi apa saja yang ingin saya tulis, apa yang saya pikirkan dan ya apa yang ingin jari saya ketik saja... ya iyalah masak ngetik pake kaki... gubrak... !!
Kayaknya gw bakal betah jadiin blog ini diary gw biar hemat kertas,,, (hihihi..) maklum anak sekolah maunya yang irit kalo bisa gratisan.... hoalah...???
Diaryku, jangan pernah bosan yah dengerin aku ngomong... ups salah maksudnya jangan pernah rewel kalo aku mau nulis apapun, kan emang begitu fungsi diary...
sebagai temen dalam keadaan apapun, sebagai tempat mencurahkan apapun asal jangan air aja yang ditumpahin kesini bisa berabe jadi nya XD,,,
terkadang aku terlalu takut untuk mengahadapi sebuah kenyataan. Meski nyatanya itulah jalan yang harus dijalani. Inilah aku, hanya seorang manusia yang mungkin tak berguna, atau belum berguna....??? padahal seringkali aku mengunjungi laut, pernahkah kau perhatikan laut dengan saksama..? Ya, ia selalu bergelombang, begitulah kenyataan hidup kita yang tak pernah luput dari masalah. Hanya saja berteori tak segampang melakukan prakteknya dalam kehidupan. Teori mungkin akan selalu bisa diutarkan oleh siapapun, namun aplikasi dalam kenyataannya lah yang jauh lebih penting. Ketika kita berteori, mungkin akan dengan mudah terlupakan, namun ketika kita mempraktikkan teori tersebut maka disitulah letak penanaman karakter yang kita tumbuhkan. Teori hanya akan jadi sekedar teori, ia bisa terbang dibawa nagin, hanyut oleh riak air dan pergi entah kemana. Hidup ini tidak memerlukan teori yang berlebihan, cukup kau ikuti jalan yang ditunjukkan dalam Kitab Agung yang Ia buat, dan berusaha menjalankannya sedikit mulai sedikit. Karena pada hakikatnya teori-Nya lah yang paling benar. Setiap manusia punya akal, dan dengan itu kita semua bisa berteori, tapi tak ada yang dapat menjamin bahwa premis-premis yang kita hadapi dapat kita simpulkan dengan benar. Kita hanyalah manusia, manusia yang berjalan dalam kehidupan kita masing-masing. Namun kita hanyalah sebatas manusia. Manusia yang bisa berteori, berencana dan bermimpi, namun Allah jualah yang menentukannya. Terkadang kita menganggap apa yang kita rencanakan, apa yang kita pikirkan itulah yang paling benar. Sungguh angkuh, bukan...? Dan ketika Ia tak mengabulkan apa yang kita pinta, kita menganggap Ia sungguh tidak adil. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa sesungguhnya Ia lah Yang Lebih Mengetahui, dan kita tidak mengetahui apa-apa selain dari sedikit saja ilmu yang laksana setetes air diluasnya samudera.. Ia selalu mendengar, tetapi tidak selalu menjadikan apa yang kita inginkan menjadi kenyataan. Mengapa...? Karena apa yang kita inginkan, belumlah tentu terbaik untuk kita. Namun apa yang Ia takdirkan itulah yang terbaik, meski terkadang kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk, semua itu tak lain karena kita hanyalah insan yang lemah yang tidak pernah tau keindahan di atas puncak gunung sebelum mendakinya dengan segala jerih payah dan menerobos rintangan yang menghadang disudut-sudut perjalanan kita....
So, jalani kehidupan ini dengan optimis,,, jangan pernah letih untuk terus berjalan hingga kita sampai ke puncak gunung dimana dari atasnya kita bisa menikmati keindahan yang begitu menakjubkan yang tak bisa dilihat dari bawah oleh orang-orang yang tidak pernah mau mendaki gunung...
Embedded image permalink

TAJAM HUJANMU


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

SIHIR HUJAN


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

SAJAK SUBUH


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.
"Jangan bermimpi!" gertak mereka.
Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan bermimpi! "
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan .....

KEPOMPONG ITU


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga
dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

HATIKU SELEMBAR DAUN


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

PERTAPA


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

DI ATAS BATU


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling : matahari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sin

CERMIN, 1


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI


Oleh :
Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

AKULAH SI TELAGA


Oleh :
Sapardi Djoko Damono
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,

AKU INGIN

AKU INGIN

Oleh :
Sapardi Djoko Damono


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Corat-coret

Aku adalah aku. Aku hanyalah seorang anak manusia yang punya mimpi. Meski telah berkali-kali jatuh. Aku berusaha untuk bangkit, meski terkadang perasaan jenuh menghampiriku. Mengapa hidup ini begitu rumit..? mungkin pertanyaan seperti itu sangat sering terlontarkan oleh kita, termasuk saya. Hidup ini memang rumit dan akan menjadi lebih rumit lagi jika kita terus mengeluhkannya. Maka dari itu jalani saja. Ya, jalani saja hidup ini, karena dengan terus berjalan kita akan sampai pada tujuan kita. Bukan dengan mengeluh yang justru akan menghambat perjalanan kita dan menghabiskan waktu menjadi sia-sia. Aku punya mimpi, dan karena itu aku terus bertahan. Mimpi bahwa esok aku akan bisa menjadi lebih berarti, mimpi bahwa esok aku ingin membahagiakan orang-orang yang kucintai. Teruslah berjalan, meski peluh mungkin bercucuran membuatmu merasa amat letih.. Yakinlah bahwa langit tak selamanya mendung. Malam tak selamanya gelap. Mentari kan bersinar untuk menyambutmu setelah kegelapan malam mengungkungmu dalam pekatnya dunia. Ya seperti kalam-Nya yang berbunyi "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Al-Insyirah:5)

Bintang Impian



Gerbang yang dicat berwarna biru itu lagi – lagi menyambutku dan semua siswa – siswi yang berlalu lalang melewatinya, ia tetap berdiri kokoh seakan tersenyum dalam diamnya. Pohon mangga disisi sebelah kiri tepat didepan rumah Pak Rizal melambaikan daunnya yang menghijau pertanda ia ikut manyapaku. Buah – buah kecil bermunculan menambah kebahagiaan pohon yang berusia cukup tua itu. Sinar mentari perlahan menaiki kaki langit, memanggil umat manusia untuk bertaqarub pada Rabb-Nya. Sejuknya air wudhu menenangkan kecemasan yang sempat singgah, menghapus debu yang berserakan dalam jiwa yang rapuh. Tenang, ya itu yang kini ku rasakan, karena memang Allah selalu berada didekat kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi sekalipun.
            Hari ini suasana madrasah lebih ramai dari biasanya, hari yang ditunggu – tunggu setelah melewati beragam ujian yang bertubi – tubi menempa kami untuk lebih aktif dan siap terjun ke dunia luar yang penuh tantangan. Ya, hari ini adalah pengumuman kelulusan. Kelas kami riuh. Tak banyak yang berubah dari ruangan ini.  Dua buah papan tulis yang selalu menjadi layar yang wajib kami tonton setiap hari. Terkadang aku melihatnya seperti papan catur, hitam dan putih yang berdampingan begitu serasi berada tepat didepan sekali seakan menghipnotis kami untuk selalu meliriknya. Sebuah meja yang ukurannya lebih besar dari meja lainnya, singgasana para pengajar, guru – guru kami tercinta letaknya tepat di sisi kanan bagian depan, lalu dihadapannya ada meja – meja yang tersusun rapi lengkap dengan kursinya. Beberapa kaligrafi ikut menambah nilai estetika dalam ruangan yang tak terlalu besar ini. Kaligrafi tersebut merupakan prakarya kami semester yang lalu yang dibingkai sederhana dengan kayu dan dilapisi plastik bening. Sederhana, namun indah, itulah yang dapat kuartikan dari tiap – tiap goresan yang meliuk – liuk mengikuti imajinasi para pelukis dari kaligrafi tersebut.
            Di sudut – sudut kelas kami ramai, masing – masing insan saling berbagi cerita setelah sekian lama tak bersua. Aku tersenyum melihat setiap detail lukisan kehidupan yang terbentang didepan mataku. Ah, betapa cepatnya waktu berlalu. Dan, Vera yang melihatku langsung membuyarkan fokus kornea mataku.
            “Makin kurus aja Mut...” Vera nyeletuk sambil tertawa menyadari kehadiranku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecut dan segera mengambil posisi disampingnya. Namanya Vera, perawakannya tinggi, dengan kulit kuning langsat dan wajah berbentuk oval.
            “Gimana Ibu panti yang baru...?” tanyanya lagi.
            “Beda banget, kamu sich gak pernah main ke panti lagi.”
            “Maaf dech, soalnya belakangan ini aku jagain nenek yang lagi sakit.”
            “Diabetesnya nenek kambuh lagi Ra?”
            “ Iya..”
“Moga cepet sembuh aja ya..! titip salam buat Tante Rosa.”
Ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang terukir manis dibibirnya.
            Tante Rosa adalah mamanya Vera, wanita cantik yang lembut dan sangat baik. Awal pertemuanku dengan Vera adalah ketika ia dan ibunya berkunjung ke panti kami saat ulang tahun Vera. Sejak itu ia sering berkunjung ke panti dan kedekatan kami semakin kental, apalagi kami satu sekolah.
Kita untuk selamanya kepunyaan Bondan feat fade2black mengalun penuh irama. Membuat kenangan manis selama tiga tahun terakhir ini seakan direplay dengan slow motion effect secara otomatis diotakku.
 Bergegaslah kawan, sambut masa depan                                                                                                tetap berpegeng tangan saling berpelukan                                                                                                Berikan senyuman sebuah perpisahan                                                                                      kenanglah sahabat, kita untuk selamanya
Aku larut dalam melodinya, meresapi lirik yang sarat akan makna.
*******
Pukul 09.00 WIB
            Suasana hening, iringan musik telah berhenti. Derap langkah itu menambah cepat degupan jantungku. Bu Fazya menatap lekat dengan senyuman yang tak bisa ku terjemahkan. Ia lantas memasuki kelas dengan papan nama XII IPA 1. Kami hanya bisa menanti penuh harap dengan rasa cemas yang menggelayuti hati. Orangtua dan wali murid telah duduk rapi dikelas. Setelah berbasa – basi sedikit, antrian yang menegangkan itupun dimulai. Satu persatu nama kami dipanggil, tampaknya aku harus bersabar karena namaku berinisial M, dan itu berarti jaraknya masih cukup jauh. Lelaki berbadan tegap itu keluar, membawa amplop bertuliskan nama anaknya Arya Fandi Maulana. Arya langsung menghampiri ayahnya dan membuka amplop penuh tanda tanya itu. Kami mengerubunginya, tak kalah penasarannya dari sang pemilik, seperti semut yang mengelilingi gula. Ia membukanya perlahan, berusaha menetralkan degupan jantungnya yang tak keruan. Yap, ia melompat girang mendapati lima huruf yang ditulis kapital LULUS. Detak jarum jam seakan melambat. Aku mencoret kertas putih yang hanya diam membisu didalam agendaku. Penaku bergerak tanpa arah, seperti rasa penasaran yang tak keruan mengisi hatiku. Ku hirup dalam – dalam segarnya oksigen dan menghembuskan karbondioksida perlahan – lahan. Dan kini Bunda Sarah meghampiri meja yang menjadi saksi bisu ketegangan hari ini. Satu...dua...tiga..aku memeluknya yang baru saja keluar kelas, ia hanya berdiri terdiam, tak membalas dekapanku.  Aku merenggangkan pelukanku dan mundur teratur secara perlahan.
            “Ini nilai kamu, saya gak punya banyak waktu dan harus segera pulang”
Aku terdiam dan mengangguk pelan. Sosok yang satu ini benar – benar berbeda dengan Bunda Alya yang selalu bersikap hangat kepada kami. Sudah sebulan terakhir, sejak Bunda Alya berpulang, suasana panti menjadi begitu berbeda. Dingin, dan tak seceria dulu. Bunda Sarah justru sering memarahi kami hanya karena hal – hal sepele. Aku tak tahu, apa ini hanya perasaanku, atau kami yang mungkin belum bisa beradaptasi. Entahlah. Aku membuang jauh – jauh prsangka itu bersama hembusan nafasku. Ia berjalan menjauh dan kini benar – benar hilang dari pandangan mataku.
            Aku rindu ayah, rindu bunda. Rindu mereka yang bahkan wajahnya tak pernah ku lihat meski hanya dari foto yang telah usang. Dulu, Bunda Alya sudah cukup untuk menjadi pelita yang menerangi gelap malamku, namun kini semua berubah, aku benar – benar merindukannya..
*******
             Siswa – siswi berhamburan seperti semut yang bertebaran. Bau pylox yang menyengat hidung menyebar kemana – mana karena ritual antik tak bermakna telah dimulai dengan menyemprotkan bermacam warna pylox ke seragam putih abu – abu yang mereka kenakan. Tertawa riang, lepas semua beban dan membubuhi tanda tangan di setiap baju yang mereka kenali pemiliknya serta mengabadikan momen yang tak terlupakan ini dengan kamera poket. Alat elektronik itu hanya menurut saja saat diminta untuk menyimpan wajah – wajah anak manusia yang sedang bersuka ria itu. Aku menjadi seorang penonton ditribun paling kanan, tepat di bawah pohon ketapang yang terletak disamping kelas kami, karena memang tak berniat mengikuti perayaan tersebut. Aku menatap birunya langit yang terbentang. Biru adalah lambang ketenangan dan kedamaian bagiku, itulah mengapa aku sangat menyukai saat – saat seperti ini. Menikmati sajian alam sambil membiarkan sang pena menari – nari diatas kertas. Huruf – huruf yang terpatri diotakku membaur begitu saja menjadi kata – kata yang kemudian terangkai menjadi sebuah kalimat yang tak bisa berdiri, karena itu kalimat – kalimat berikutya meluncur begitu saja mengisi baris – baris berikutnya. Ah, meraka tak pernah berselisih karena keegoisan itu tak dimilikinya. Mereka semua hadir untuk saling melengkapi membentuk tulisan yang indah.
             “Kamu masih aja seneng nulis...?” suara itu mengagetkanku.
             “Pak Heri...?” tanyaku dalam hati. Aku berbalik, dan benar seperti dugaanku. Badannya atletis, dengan kumis yang dicukur tipis dan kacamata menghiasi matanya yang sudah minus.
             “ Eh, iyaaa pak...” aku hanya menjawab seadanya.
             “Masih inget, dulu kamu pernah tidur saat pelajaran saya.”
 Duar, aku seperti dilempari bom waktu yang meledak dalam hitungan detik. Kata – katanya yang to the point seketika itu juga menohokku. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Peristiwa itu kembali terulang dalam otakku.
             Kamis, 8 November 2012
             Jarum jam seakan berjalan malas – malasan, hingga rasa bosan menghampiriku. Aku benar – benar merasa kalah setiap kali berhadapan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Entah mengapa rasanya rentetan alfabet yang tak keruan itu menurunkan kadar oksigen yang disuplai ke otakku hingga datanglah sekutu si bosan yang bernama si kantuk.
             “ Mutia..! mana puisi kamu...?!” Suara Pak Heri terdengar meninggi menghampiri mejaku dibarisan kedua dari depan. Vera menyikut lenganku dan aku segera kembali ke alam sadar.
             “ Eh ya, ini pak...” aku mengulurkan buku tulisku.
             “ Kamu tidur lagi...?” ia kembali bertanya seakan menginterogasi aku yang menjadi tersangka dihadapannya.
             “ Emmm...” aku hanya bergumam pelan.
Ia memegangi buku biru itu, terlihat mencerna huruf demi huruf tulisanku yang lebih mirip dengan steno. Aku hanya menatap lurus  ke arah papan tulis, mencoba menepis kesalahan yang bukan pertama kali ku buat. Ia menghela nafas panjang.
             “Kata – katamu membuat saya tidak jadi menghukummu, puisi ini bagus...”
             “Hore...aku menang...” hatiku menlonjak kian girang.
Mengingat kejadian itu membuatku merasa bodoh dan ingin tertawa.
             “Mau ngambil jurusan apa kuliah nanti..?” Suara Pak Heri seakan menekan tombol pause atau tombol stop yang menghentikan lamunaku yang sedang berkelana ke masa hampir tiga tahun silam.
             “Biologi murni Pak...!”
             “ Kenapa gak ambil sastra aja Mut...?”
             “Takut tragedi yang dulu terulang lagi Pak...”
             Ia tertawa, dan berlalu meninggalkaku. Begitulah Pak Heri, ramah, meski terkadang terlihat keras, mungkin lebih tepatnya beliau adalah seorang guru yang disiplin dan tegas serta selalu peduli pada anak didiknya, sekalipun murid tersebut bertingkah seperti aku.
*******
             Dengan berat hati, aku memecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu. Celengan berbentuk doraemon tempat aku menyisihkan uangku, menyemai harapanku untuk masa depan. Di sisi badan celengan tersebut aku menuliskan kampus idamanku dan cita – citaku. Berharap sedikit rupiah itu bisa membantuku dalam perjalanan meraih impian tersebut.
Kini, aku menengadah ke langit yang menghitam pekat dari jendela kamar, memandangi ribuan bintang kecil yang bertaburan mengusir gelap dengan cahayanya yang benderang. Letaknya begitu tinggi, jauh dari pandangan mata seperti mimpi – mimpi yang ku gantungkan teralu tinggi, hingga banyak yang memberi cap sang pemimpi kepadaku. Aku tak peduli, karena semua berawal dari mimpi, dan akan ku bayar harga yang terlalu tinggi itu dengan segenap usaha dan kerja keras tuk menggapai impian yang telah lama didambakan. Alhamdulillah, pintu gerbang impian itu mulai terbuka. Aku berhasil lolos SNMPTN di Universitas Gadjah Mada, kampus ternama di Jogjakarta yang selalu menjadi cita – citaku selama ini.
             Tok, tok, tok.. Aku mengetuk pintu ruangan Bunda Sarah.
             “Siapa...?” tanya suara itu dari dalam.
             “Mutia bun...”
             “Masuk...”
             Senyap. Tak ada angin yang datang tuk menggerakkan kekakuan yang tercipta. Semua terdiam seakan dibungkam oleh pekatnya sang malam.  Aku bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, karena aku belum dekat dengannya.
             “Ada apa malam – malam begini...?”
             “Hemm, gini Bun, alhamdulillah aku lulus SNMPTN, dan insyaAllah tanggal 30 Mei nanti aku akan berangkat ke Jogja.”
             “ Bisa apa kamu...? hidup diluar sana gak semudah yang kamu bayangkan”
             “Aku tahu bun, tapi hidup dalam ketakutan yang berlebihan juga lebih menakutkan”
             “Bagus, sudah pintar ngelawan kamu ya, jadi ini balasan kamu untuk panti ini, setelah dibesarkan bertahun – tahun. Lulus sekolah tinggal pergi begitu saja, bukannya mengabdi di panti ini”
             “Bukan begitu bun, tapi aku ingin menggapai impianku dan nanti aku juga bekerja dan sebagian hasilnya akan ku kirim ke panti...”
             “Omong kosong, gak usah belagu kamu, “
             Aku terdiam mendapati sangkalan yang begitu mengejutkan. Hatiku ingin menangis. Dan....bulir bening yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh. Aku benar – benar kalut, tak tahu harus berbuat apa lagi.
             “ Dasar cengeng, baru begini saja udah nangis lalu mau pergi merantau...? Halah, sombong kamu..”
             Tangisanku pecah, menghapus kesunyian malam. Hujan yang sedari tadi turun seakan ikut berduka bersamaku. Deret kata yang ku susun rapi kini berhamburan tanpa ampun.
             “ Pergilah, kejar impianmu dan kemasi barangmu sekarang juga”
Aku tertegum mendengar perkataannya. Wajahnya memerah, amarahnya membuncah.
             “Maafkan aku bunda...”
             “Pergilah...” suaranya semakin tinggi, ia menyeretku ke kamar dan menyuruhku mengemasi semua barang – barangku. Hitam menyergapku, sekan siap menerkamku yang terkungkung dalam dimensi yang tak pernah ku mengerti. Genangan airmata serasa tumpah ruah membasahi wajahku yang sekusut benang yang tak lagi beraturan. Semua terasa sepahit kopi, dan tenggorokanku dipaksa untuk menelannya seketika itu juga. Aku tak kuasa melawannya atau bertahan lebih lama lagi dalam gejolak emosional ini, dan terpaksa mengikuti titahnya. Bukan ini yang ku inginkan, namun bila inilah jalannya, sesulit apapun aku berusaha untuk menapakinya.
*******
             Aku berjalan ditengah rinai hujan yang semakin lebat. Langkahku mulai melambat, menahan dingin yang merasuk ke dalam tubuhku. Ku biarakn air hujan membasahi wajahku, bersenandung mencari jawaban ditengah kegundahan yang menyelimuti, hingga bukan tubuhku saja yang merasa dingin, namun dingin itu juga merayap memasuki bilik hatiku. Aku tersadar, sudah begitu banyak keindahan yang selama ini ku dapatkan dan hidup adalah keseimbangan, mungkin inilah saat kepahitan itu kembali kurasakan. Tak apa, karena hidup penuh dengan pemandangan yang patut disyukuri dan memberi tantangan yang wajib tuk kita taklukan. Tersenyum adalah obat yang cukup mujarab, untuk sedikit menyembuhkan kepedihan yang bersemayam, meski mungkin senyuman tersebut hanyalah sebuah tameng.
             Sambungan teleponku tak juga diangkat oleh Vera, hanya bunyi tuttt....tutt...tut... yang terdengar sumbang.
             “Halo, sorry aku baru kebangun..”
             “Aku didepan rumah kamu sekarang, bisa bukain pintu...?”
             “Hujan – hujan begini...? “
             Vera memelukku dan merangkulku menuju kamarnya. Badanku serasa beku. Setelah mengganti bajuku yang basah, cerita mengalir begitu saja dari mulutku yang masih menggigil.
             “Gak usah sedih, Jogjakarta sudah menanti kita, dan kamu tau..? mama udah beli tiketnya untuk kamu sekalian..”
             Aku memeluknya erat. Sebuah kebahagian yang begitu dalam kini ku rasakan. Mungkin benar, terkadang kehidupan ini terasa seperti meneguk kopi, terasa pahit memang, namun jika kita mau menikmatinya sedikit demi sedikit, sensasi manis itu akan terasa diujungnya. Ya, seperti apa yang ku rasakan saat ini.
*******
             Gundukan tanah itu masih basah karena hujan kemarin. Aku enggan membaca tulisan dinisan itu, rasanya baru saja ia menenangkan kami dengan senyuman lembutnya. Dengan sabar, ia tak kenal lelah mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Alya Sofia. Aku tertunduk lemas menyadari kenyataan yang begitu menyakitkan. Bagiku ialah mentari yang menyinari pagi dan bulan yang menghapus kegelapan. Meski kami tak ada hubungan darah, bagiku ia segalanya, karena aku tak pernah mengenal bahkan melihat wajah malaikat kehidupanku, ibu dan ayahku.
             “Bunda, aku kangen bunda...” air mataku tumpah tanpa bisa ditahan. Sebuah rasa rindu yang memburu menyusup masuk ke dalam sanubari.
             “Bunda tau, berkat dukungan bunda, aku lulus SNMPTN di PTN favoritku bun, ya Universitas Gadjah Mada yang selalu aku impikan, dan aku gak sendiri bun ada Vera juga. Ini semua berkat do’a bunda...” Suaraku terisak...
             “Bunda bakal sedih kalo liat kamu nangis begini..” Vera menimpali dari belakang.
             Ku usap air mata ini, namun tak juga kunjung reda.
             “Terimakasih bunda, insyaAllah besok kami akan berangkat ke Jogjakarta...”

31 Mei 2013
             Dingin mendekap dalam kesunyian malam yang sebentar lagi berganti dengan fajar, kereta progo yang kami naiki terasa semakin lambat saja atau mungkin ini hanya perasaanku. Vera tidur dengan pulasnya. Wajahnya begitu polos, mungkin benar kata sebagian orang, jika ingin melihat wajah yang paling jujur lihatlah wajah orang saat tidur.  Tetes embun hinggap di kaca jendela. Perlahan, gelap menghilang dari pandangan mata dan birunya langit mulai terlihat pertanda fajar telah menyingsing. Segarnya udara pagi begitu menyejukkan.
             Jogjakarta. Ya, hari ini kami benar – benar berada di kota impian kami. Semilir angin membelai lembut wajahku. Hari ini, kerja kerasku terbayar sudah. Impian yang terlalu tinggi itu kini ada didepan mata dan gravitasi yang mereka sebut sebagai kemustahilan telah luruh.
             “UGM, i’m coming...
             Wajah haru dan senang tak dapat tergambar lagi diwajah kami. Tak ada kata – kata yang tepat untuk menggambarkan kebahagian ini, mungkin senandung lagu bisa menjelaskannya. Bersama sinar mentari yang masih malu – malu kami bersenandung riang.


   Jika kita mau mempercayai sebuah mimpi dan berusaha meraihnya, sekalipun mimpi itu setinggi bintang diangkasa, tak perlu berputus asa. Tatap bintang impianmu dan jangan pernah membiarkan langit yang temaram menghapus setitik sinar bintang itu. Bintang impian kan ada digenggaman jika kau percaya bahwa tak ada yang namanya kemustahilan.