Gerbang yang dicat berwarna biru itu lagi – lagi menyambutku dan
semua siswa – siswi yang berlalu lalang melewatinya, ia tetap berdiri kokoh
seakan tersenyum dalam diamnya. Pohon mangga disisi sebelah kiri tepat didepan
rumah Pak Rizal melambaikan daunnya yang menghijau pertanda ia ikut manyapaku.
Buah – buah kecil bermunculan menambah kebahagiaan pohon yang berusia cukup tua
itu. Sinar mentari perlahan menaiki kaki langit, memanggil umat manusia untuk
bertaqarub pada Rabb-Nya. Sejuknya air wudhu menenangkan kecemasan yang sempat
singgah, menghapus debu yang berserakan dalam jiwa yang rapuh. Tenang, ya itu
yang kini ku rasakan, karena memang Allah selalu berada didekat kita, bahkan
lebih dekat dari urat nadi sekalipun.
Hari ini suasana madrasah lebih
ramai dari biasanya, hari yang ditunggu – tunggu setelah melewati beragam ujian
yang bertubi – tubi menempa kami untuk lebih aktif dan siap terjun ke dunia
luar yang penuh tantangan. Ya, hari ini adalah pengumuman kelulusan. Kelas kami
riuh. Tak banyak yang berubah dari ruangan ini.
Dua buah papan tulis yang selalu menjadi layar yang wajib kami tonton
setiap hari. Terkadang aku melihatnya seperti papan catur, hitam dan putih yang
berdampingan begitu serasi berada tepat didepan sekali seakan menghipnotis kami
untuk selalu meliriknya. Sebuah meja yang ukurannya lebih besar dari meja
lainnya, singgasana para pengajar, guru – guru kami tercinta letaknya tepat di
sisi kanan bagian depan, lalu dihadapannya ada meja – meja yang tersusun rapi
lengkap dengan kursinya. Beberapa kaligrafi ikut menambah nilai estetika dalam
ruangan yang tak terlalu besar ini. Kaligrafi tersebut merupakan prakarya kami
semester yang lalu yang dibingkai sederhana dengan kayu dan dilapisi plastik
bening. Sederhana, namun indah, itulah yang dapat kuartikan dari tiap – tiap
goresan yang meliuk – liuk mengikuti imajinasi para pelukis dari kaligrafi
tersebut.
Di sudut – sudut kelas kami ramai, masing
– masing insan saling berbagi cerita setelah sekian lama tak bersua. Aku
tersenyum melihat setiap detail lukisan kehidupan yang terbentang didepan
mataku. Ah, betapa cepatnya waktu berlalu. Dan, Vera yang melihatku langsung
membuyarkan fokus kornea mataku.
“Makin kurus aja Mut...” Vera
nyeletuk sambil tertawa menyadari kehadiranku. Aku hanya membalasnya dengan
senyuman kecut dan segera mengambil posisi disampingnya. Namanya Vera, perawakannya
tinggi, dengan kulit kuning langsat dan wajah berbentuk oval.
“Gimana Ibu panti yang baru...?”
tanyanya lagi.
“Beda banget, kamu sich gak pernah
main ke panti lagi.”
“Maaf dech, soalnya belakangan ini
aku jagain nenek yang lagi sakit.”
“Diabetesnya nenek kambuh lagi Ra?”
“ Iya..”
“Moga cepet sembuh aja ya..! titip salam buat Tante Rosa.”
Ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang terukir manis
dibibirnya.
Tante Rosa adalah mamanya Vera, wanita
cantik yang lembut dan sangat baik. Awal pertemuanku dengan Vera adalah ketika ia
dan ibunya berkunjung ke panti kami saat ulang tahun Vera. Sejak itu ia sering
berkunjung ke panti dan kedekatan kami semakin kental, apalagi kami satu
sekolah.
Kita
untuk selamanya kepunyaan
Bondan feat fade2black mengalun penuh irama. Membuat kenangan manis selama tiga
tahun terakhir ini seakan direplay dengan slow motion effect secara
otomatis diotakku.
Bergegaslah kawan, sambut masa
depan tetap
berpegeng tangan saling berpelukan Berikan
senyuman sebuah perpisahan kenanglah
sahabat, kita untuk selamanya
Aku
larut dalam melodinya, meresapi lirik yang sarat akan makna.
*******
Pukul
09.00 WIB
Suasana hening, iringan musik telah
berhenti. Derap langkah itu menambah cepat degupan jantungku. Bu Fazya menatap
lekat dengan senyuman yang tak bisa ku terjemahkan. Ia lantas memasuki kelas
dengan papan nama XII IPA 1. Kami hanya bisa menanti penuh harap dengan
rasa cemas yang menggelayuti hati. Orangtua dan wali murid telah duduk rapi
dikelas. Setelah berbasa – basi sedikit, antrian yang menegangkan itupun
dimulai. Satu persatu nama kami dipanggil, tampaknya aku harus bersabar karena
namaku berinisial M, dan itu berarti jaraknya masih cukup jauh. Lelaki
berbadan tegap itu keluar, membawa amplop bertuliskan nama anaknya Arya
Fandi Maulana. Arya langsung menghampiri ayahnya dan membuka amplop penuh
tanda tanya itu. Kami mengerubunginya, tak kalah penasarannya dari sang
pemilik, seperti semut yang mengelilingi gula. Ia membukanya perlahan, berusaha
menetralkan degupan jantungnya yang tak keruan. Yap, ia melompat girang
mendapati lima huruf yang ditulis kapital LULUS. Detak jarum jam seakan
melambat. Aku mencoret kertas putih yang hanya diam membisu didalam agendaku. Penaku
bergerak tanpa arah, seperti rasa penasaran yang tak keruan mengisi hatiku. Ku
hirup dalam – dalam segarnya oksigen dan menghembuskan karbondioksida perlahan
– lahan. Dan kini Bunda Sarah meghampiri meja yang menjadi saksi bisu
ketegangan hari ini. Satu...dua...tiga..aku memeluknya yang baru saja keluar kelas,
ia hanya berdiri terdiam, tak membalas dekapanku. Aku merenggangkan pelukanku dan mundur teratur
secara perlahan.
“Ini nilai kamu, saya gak punya
banyak waktu dan harus segera pulang”
Aku
terdiam dan mengangguk pelan. Sosok yang satu ini benar – benar berbeda dengan
Bunda Alya yang selalu bersikap hangat kepada kami. Sudah sebulan terakhir,
sejak Bunda Alya berpulang, suasana panti menjadi begitu berbeda. Dingin, dan
tak seceria dulu. Bunda Sarah justru sering memarahi kami hanya karena hal –
hal sepele. Aku tak tahu, apa ini hanya perasaanku, atau kami yang mungkin
belum bisa beradaptasi. Entahlah. Aku membuang jauh – jauh prsangka itu bersama
hembusan nafasku. Ia berjalan menjauh dan kini benar – benar hilang dari
pandangan mataku.
Aku rindu ayah, rindu bunda. Rindu
mereka yang bahkan wajahnya tak pernah ku lihat meski hanya dari foto yang
telah usang. Dulu, Bunda Alya sudah cukup untuk menjadi pelita yang menerangi
gelap malamku, namun kini semua berubah, aku benar – benar merindukannya..
*******
Siswa – siswi
berhamburan seperti semut yang bertebaran. Bau pylox yang menyengat hidung menyebar
kemana – mana karena ritual antik tak bermakna telah dimulai dengan menyemprotkan
bermacam warna pylox ke seragam putih abu – abu yang mereka kenakan. Tertawa
riang, lepas semua beban dan membubuhi tanda tangan di setiap baju yang mereka
kenali pemiliknya serta mengabadikan momen yang tak terlupakan ini dengan
kamera poket. Alat elektronik itu hanya menurut saja saat diminta untuk
menyimpan wajah – wajah anak manusia yang sedang bersuka ria itu. Aku menjadi
seorang penonton ditribun paling kanan, tepat di bawah pohon ketapang yang
terletak disamping kelas kami, karena memang tak berniat mengikuti perayaan
tersebut. Aku menatap birunya langit yang terbentang. Biru adalah lambang
ketenangan dan kedamaian bagiku, itulah mengapa aku sangat menyukai saat – saat
seperti ini. Menikmati sajian alam sambil membiarkan sang pena menari – nari
diatas kertas. Huruf – huruf yang terpatri diotakku
membaur begitu saja menjadi kata – kata yang kemudian terangkai menjadi sebuah
kalimat yang tak bisa berdiri, karena itu kalimat – kalimat berikutya meluncur
begitu saja mengisi baris – baris berikutnya. Ah, meraka tak pernah berselisih
karena keegoisan itu tak dimilikinya. Mereka semua hadir untuk saling
melengkapi membentuk tulisan yang indah.
“Kamu masih aja seneng nulis...?” suara
itu mengagetkanku.
“Pak Heri...?” tanyaku dalam hati. Aku
berbalik, dan benar seperti dugaanku. Badannya atletis, dengan kumis yang
dicukur tipis dan kacamata menghiasi matanya yang sudah minus.
“ Eh, iyaaa pak...” aku hanya
menjawab seadanya.
“Masih inget, dulu kamu pernah
tidur saat pelajaran saya.”
Duar, aku seperti dilempari bom waktu yang
meledak dalam hitungan detik. Kata – katanya yang to the point seketika
itu juga menohokku. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Peristiwa itu
kembali terulang dalam otakku.
Kamis, 8 November 2012
Jarum jam seakan berjalan malas –
malasan, hingga rasa bosan menghampiriku. Aku benar – benar merasa kalah setiap
kali berhadapan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Entah mengapa rasanya
rentetan alfabet yang tak keruan itu menurunkan kadar oksigen yang disuplai ke
otakku hingga datanglah sekutu si bosan yang bernama si kantuk.
“ Mutia..! mana puisi kamu...?!”
Suara Pak Heri terdengar meninggi menghampiri mejaku dibarisan kedua dari depan.
Vera menyikut lenganku dan aku segera kembali ke alam sadar.
“ Eh ya, ini pak...” aku
mengulurkan buku tulisku.
“ Kamu tidur lagi...?” ia kembali
bertanya seakan menginterogasi aku yang menjadi tersangka dihadapannya.
“ Emmm...” aku
hanya bergumam pelan.
Ia memegangi buku biru itu, terlihat mencerna huruf demi huruf
tulisanku yang lebih mirip dengan steno. Aku hanya menatap lurus ke arah papan tulis, mencoba menepis
kesalahan yang bukan pertama kali ku buat. Ia menghela nafas panjang.
“Kata – katamu
membuat saya tidak jadi menghukummu, puisi ini bagus...”
“Hore...aku
menang...” hatiku menlonjak kian girang.
Mengingat kejadian itu membuatku merasa bodoh dan ingin tertawa.
“Mau ngambil
jurusan apa kuliah nanti..?” Suara Pak Heri seakan menekan tombol pause atau
tombol stop yang menghentikan lamunaku yang sedang berkelana ke masa hampir
tiga tahun silam.
“Biologi murni
Pak...!”
“ Kenapa gak
ambil sastra aja Mut...?”
“Takut tragedi
yang dulu terulang lagi Pak...”
Ia tertawa, dan
berlalu meninggalkaku. Begitulah Pak Heri, ramah, meski terkadang terlihat
keras, mungkin lebih tepatnya beliau adalah seorang guru yang disiplin dan
tegas serta selalu peduli pada anak didiknya, sekalipun murid tersebut
bertingkah seperti aku.
*******
Dengan berat
hati, aku memecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu. Celengan
berbentuk doraemon tempat aku menyisihkan uangku, menyemai harapanku untuk masa
depan. Di sisi badan celengan tersebut aku menuliskan kampus idamanku dan cita
– citaku. Berharap sedikit rupiah itu bisa membantuku dalam perjalanan meraih
impian tersebut.
Kini, aku menengadah ke langit yang menghitam pekat dari jendela
kamar, memandangi ribuan bintang kecil yang bertaburan mengusir gelap dengan
cahayanya yang benderang. Letaknya begitu tinggi, jauh dari pandangan mata
seperti mimpi – mimpi yang ku gantungkan teralu tinggi, hingga banyak yang
memberi cap sang pemimpi kepadaku. Aku tak peduli, karena semua berawal dari
mimpi, dan akan ku bayar harga yang terlalu tinggi itu dengan segenap usaha dan
kerja keras tuk menggapai impian yang telah lama didambakan. Alhamdulillah,
pintu gerbang impian itu mulai terbuka. Aku berhasil lolos SNMPTN di
Universitas Gadjah Mada, kampus ternama di Jogjakarta yang selalu menjadi cita
– citaku selama ini.
Tok, tok, tok..
Aku mengetuk pintu ruangan Bunda Sarah.
“Siapa...?” tanya
suara itu dari dalam.
“Mutia bun...”
“Masuk...”
Senyap. Tak ada
angin yang datang tuk menggerakkan kekakuan yang tercipta. Semua terdiam seakan
dibungkam oleh pekatnya sang malam. Aku
bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, karena aku belum dekat dengannya.
“Ada apa malam –
malam begini...?”
“Hemm, gini Bun,
alhamdulillah aku lulus SNMPTN, dan insyaAllah tanggal 30 Mei nanti aku akan
berangkat ke Jogja.”
“ Bisa apa
kamu...? hidup diluar sana gak semudah yang kamu bayangkan”
“Aku tahu bun,
tapi hidup dalam ketakutan yang berlebihan juga lebih menakutkan”
“Bagus, sudah
pintar ngelawan kamu ya, jadi ini balasan kamu untuk panti ini, setelah dibesarkan
bertahun – tahun. Lulus sekolah tinggal pergi begitu saja, bukannya mengabdi di
panti ini”
“Bukan begitu
bun, tapi aku ingin menggapai impianku dan nanti aku juga bekerja dan sebagian
hasilnya akan ku kirim ke panti...”
“Omong kosong,
gak usah belagu kamu, “
Aku terdiam
mendapati sangkalan yang begitu mengejutkan. Hatiku ingin menangis. Dan....bulir
bening yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh. Aku benar – benar kalut, tak
tahu harus berbuat apa lagi.
“ Dasar cengeng,
baru begini saja udah nangis lalu mau pergi merantau...? Halah, sombong kamu..”
Tangisanku pecah,
menghapus kesunyian malam. Hujan yang sedari tadi turun seakan ikut berduka
bersamaku. Deret kata yang ku susun rapi kini berhamburan tanpa ampun.
“ Pergilah, kejar
impianmu dan kemasi barangmu sekarang juga”
Aku tertegum mendengar perkataannya. Wajahnya memerah, amarahnya
membuncah.
“Maafkan aku
bunda...”
“Pergilah...”
suaranya semakin tinggi, ia menyeretku ke kamar dan menyuruhku mengemasi semua
barang – barangku. Hitam menyergapku, sekan siap menerkamku yang terkungkung
dalam dimensi yang tak pernah ku mengerti. Genangan airmata serasa tumpah ruah
membasahi wajahku yang sekusut benang yang tak lagi beraturan. Semua terasa
sepahit kopi, dan tenggorokanku dipaksa untuk menelannya seketika itu juga. Aku
tak kuasa melawannya atau bertahan lebih lama lagi dalam gejolak emosional ini,
dan terpaksa mengikuti titahnya. Bukan ini yang ku inginkan, namun bila inilah
jalannya, sesulit apapun aku berusaha untuk menapakinya.
*******
Aku berjalan
ditengah rinai hujan yang semakin lebat. Langkahku mulai melambat, menahan
dingin yang merasuk ke dalam tubuhku. Ku biarakn air hujan membasahi wajahku, bersenandung
mencari jawaban ditengah kegundahan yang menyelimuti, hingga bukan tubuhku saja
yang merasa dingin, namun dingin itu juga merayap memasuki bilik hatiku. Aku
tersadar, sudah begitu banyak keindahan yang selama ini ku dapatkan dan hidup
adalah keseimbangan, mungkin inilah saat kepahitan itu kembali kurasakan. Tak
apa, karena hidup penuh dengan pemandangan yang patut disyukuri dan memberi
tantangan yang wajib tuk kita taklukan. Tersenyum adalah obat yang cukup
mujarab, untuk sedikit menyembuhkan kepedihan yang bersemayam, meski mungkin
senyuman tersebut hanyalah sebuah tameng.
Sambungan
teleponku tak juga diangkat oleh Vera, hanya bunyi tuttt....tutt...tut... yang terdengar
sumbang.
“Halo, sorry aku
baru kebangun..”
“Aku didepan
rumah kamu sekarang, bisa bukain pintu...?”
“Hujan – hujan
begini...? “
Vera memelukku
dan merangkulku menuju kamarnya. Badanku serasa beku. Setelah mengganti bajuku
yang basah, cerita mengalir begitu saja dari mulutku yang masih menggigil.
“Gak usah sedih, Jogjakarta
sudah menanti kita, dan kamu tau..? mama udah beli tiketnya untuk kamu
sekalian..”
Aku memeluknya
erat. Sebuah kebahagian yang begitu dalam kini ku rasakan. Mungkin benar,
terkadang kehidupan ini terasa seperti meneguk kopi, terasa pahit memang, namun
jika kita mau menikmatinya sedikit demi sedikit, sensasi manis itu akan terasa
diujungnya. Ya, seperti apa yang ku rasakan saat ini.
*******
Gundukan tanah itu
masih basah karena hujan kemarin. Aku enggan membaca tulisan dinisan itu,
rasanya baru saja ia menenangkan kami dengan senyuman lembutnya. Dengan sabar,
ia tak kenal lelah mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Alya Sofia.
Aku tertunduk lemas menyadari kenyataan yang begitu menyakitkan. Bagiku ialah mentari
yang menyinari pagi dan bulan yang menghapus kegelapan. Meski kami tak ada
hubungan darah, bagiku ia segalanya, karena aku tak pernah mengenal bahkan
melihat wajah malaikat kehidupanku, ibu dan ayahku.
“Bunda, aku
kangen bunda...” air mataku tumpah tanpa bisa ditahan. Sebuah rasa rindu yang
memburu menyusup masuk ke dalam sanubari.
“Bunda tau, berkat
dukungan bunda, aku lulus SNMPTN di PTN favoritku bun, ya Universitas Gadjah
Mada yang selalu aku impikan, dan aku gak sendiri bun ada Vera juga. Ini semua
berkat do’a bunda...” Suaraku terisak...
“Bunda bakal
sedih kalo liat kamu nangis begini..” Vera menimpali dari belakang.
Ku usap air mata
ini, namun tak juga kunjung reda.
“Terimakasih
bunda, insyaAllah besok kami akan berangkat ke Jogjakarta...”
31 Mei 2013
Dingin mendekap
dalam kesunyian malam yang sebentar lagi berganti dengan fajar, kereta progo yang
kami naiki terasa semakin lambat saja atau mungkin ini hanya perasaanku. Vera
tidur dengan pulasnya. Wajahnya begitu polos, mungkin benar kata sebagian
orang, jika ingin melihat wajah yang paling jujur lihatlah wajah orang saat
tidur. Tetes embun hinggap di kaca
jendela. Perlahan, gelap menghilang dari pandangan mata dan birunya langit
mulai terlihat pertanda fajar telah menyingsing. Segarnya udara pagi begitu
menyejukkan.
Jogjakarta. Ya,
hari ini kami benar – benar berada di kota impian kami. Semilir angin membelai
lembut wajahku. Hari ini, kerja kerasku terbayar sudah. Impian yang terlalu
tinggi itu kini ada didepan mata dan gravitasi yang mereka sebut sebagai
kemustahilan telah luruh.
“UGM, i’m
coming...”
Wajah haru dan senang
tak dapat tergambar lagi diwajah kami. Tak ada kata – kata yang tepat untuk
menggambarkan kebahagian ini, mungkin senandung lagu bisa menjelaskannya. Bersama
sinar mentari yang masih malu – malu kami bersenandung riang.
Jika kita mau mempercayai sebuah mimpi dan berusaha meraihnya, sekalipun mimpi itu setinggi bintang diangkasa, tak perlu berputus asa. Tatap bintang impianmu dan jangan pernah membiarkan langit yang temaram menghapus setitik sinar bintang itu. Bintang impian kan ada digenggaman jika kau percaya bahwa tak ada yang namanya kemustahilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar