Sabtu, 22 Maret 2014

Bintang Impian



Gerbang yang dicat berwarna biru itu lagi – lagi menyambutku dan semua siswa – siswi yang berlalu lalang melewatinya, ia tetap berdiri kokoh seakan tersenyum dalam diamnya. Pohon mangga disisi sebelah kiri tepat didepan rumah Pak Rizal melambaikan daunnya yang menghijau pertanda ia ikut manyapaku. Buah – buah kecil bermunculan menambah kebahagiaan pohon yang berusia cukup tua itu. Sinar mentari perlahan menaiki kaki langit, memanggil umat manusia untuk bertaqarub pada Rabb-Nya. Sejuknya air wudhu menenangkan kecemasan yang sempat singgah, menghapus debu yang berserakan dalam jiwa yang rapuh. Tenang, ya itu yang kini ku rasakan, karena memang Allah selalu berada didekat kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi sekalipun.
            Hari ini suasana madrasah lebih ramai dari biasanya, hari yang ditunggu – tunggu setelah melewati beragam ujian yang bertubi – tubi menempa kami untuk lebih aktif dan siap terjun ke dunia luar yang penuh tantangan. Ya, hari ini adalah pengumuman kelulusan. Kelas kami riuh. Tak banyak yang berubah dari ruangan ini.  Dua buah papan tulis yang selalu menjadi layar yang wajib kami tonton setiap hari. Terkadang aku melihatnya seperti papan catur, hitam dan putih yang berdampingan begitu serasi berada tepat didepan sekali seakan menghipnotis kami untuk selalu meliriknya. Sebuah meja yang ukurannya lebih besar dari meja lainnya, singgasana para pengajar, guru – guru kami tercinta letaknya tepat di sisi kanan bagian depan, lalu dihadapannya ada meja – meja yang tersusun rapi lengkap dengan kursinya. Beberapa kaligrafi ikut menambah nilai estetika dalam ruangan yang tak terlalu besar ini. Kaligrafi tersebut merupakan prakarya kami semester yang lalu yang dibingkai sederhana dengan kayu dan dilapisi plastik bening. Sederhana, namun indah, itulah yang dapat kuartikan dari tiap – tiap goresan yang meliuk – liuk mengikuti imajinasi para pelukis dari kaligrafi tersebut.
            Di sudut – sudut kelas kami ramai, masing – masing insan saling berbagi cerita setelah sekian lama tak bersua. Aku tersenyum melihat setiap detail lukisan kehidupan yang terbentang didepan mataku. Ah, betapa cepatnya waktu berlalu. Dan, Vera yang melihatku langsung membuyarkan fokus kornea mataku.
            “Makin kurus aja Mut...” Vera nyeletuk sambil tertawa menyadari kehadiranku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecut dan segera mengambil posisi disampingnya. Namanya Vera, perawakannya tinggi, dengan kulit kuning langsat dan wajah berbentuk oval.
            “Gimana Ibu panti yang baru...?” tanyanya lagi.
            “Beda banget, kamu sich gak pernah main ke panti lagi.”
            “Maaf dech, soalnya belakangan ini aku jagain nenek yang lagi sakit.”
            “Diabetesnya nenek kambuh lagi Ra?”
            “ Iya..”
“Moga cepet sembuh aja ya..! titip salam buat Tante Rosa.”
Ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang terukir manis dibibirnya.
            Tante Rosa adalah mamanya Vera, wanita cantik yang lembut dan sangat baik. Awal pertemuanku dengan Vera adalah ketika ia dan ibunya berkunjung ke panti kami saat ulang tahun Vera. Sejak itu ia sering berkunjung ke panti dan kedekatan kami semakin kental, apalagi kami satu sekolah.
Kita untuk selamanya kepunyaan Bondan feat fade2black mengalun penuh irama. Membuat kenangan manis selama tiga tahun terakhir ini seakan direplay dengan slow motion effect secara otomatis diotakku.
 Bergegaslah kawan, sambut masa depan                                                                                                tetap berpegeng tangan saling berpelukan                                                                                                Berikan senyuman sebuah perpisahan                                                                                      kenanglah sahabat, kita untuk selamanya
Aku larut dalam melodinya, meresapi lirik yang sarat akan makna.
*******
Pukul 09.00 WIB
            Suasana hening, iringan musik telah berhenti. Derap langkah itu menambah cepat degupan jantungku. Bu Fazya menatap lekat dengan senyuman yang tak bisa ku terjemahkan. Ia lantas memasuki kelas dengan papan nama XII IPA 1. Kami hanya bisa menanti penuh harap dengan rasa cemas yang menggelayuti hati. Orangtua dan wali murid telah duduk rapi dikelas. Setelah berbasa – basi sedikit, antrian yang menegangkan itupun dimulai. Satu persatu nama kami dipanggil, tampaknya aku harus bersabar karena namaku berinisial M, dan itu berarti jaraknya masih cukup jauh. Lelaki berbadan tegap itu keluar, membawa amplop bertuliskan nama anaknya Arya Fandi Maulana. Arya langsung menghampiri ayahnya dan membuka amplop penuh tanda tanya itu. Kami mengerubunginya, tak kalah penasarannya dari sang pemilik, seperti semut yang mengelilingi gula. Ia membukanya perlahan, berusaha menetralkan degupan jantungnya yang tak keruan. Yap, ia melompat girang mendapati lima huruf yang ditulis kapital LULUS. Detak jarum jam seakan melambat. Aku mencoret kertas putih yang hanya diam membisu didalam agendaku. Penaku bergerak tanpa arah, seperti rasa penasaran yang tak keruan mengisi hatiku. Ku hirup dalam – dalam segarnya oksigen dan menghembuskan karbondioksida perlahan – lahan. Dan kini Bunda Sarah meghampiri meja yang menjadi saksi bisu ketegangan hari ini. Satu...dua...tiga..aku memeluknya yang baru saja keluar kelas, ia hanya berdiri terdiam, tak membalas dekapanku.  Aku merenggangkan pelukanku dan mundur teratur secara perlahan.
            “Ini nilai kamu, saya gak punya banyak waktu dan harus segera pulang”
Aku terdiam dan mengangguk pelan. Sosok yang satu ini benar – benar berbeda dengan Bunda Alya yang selalu bersikap hangat kepada kami. Sudah sebulan terakhir, sejak Bunda Alya berpulang, suasana panti menjadi begitu berbeda. Dingin, dan tak seceria dulu. Bunda Sarah justru sering memarahi kami hanya karena hal – hal sepele. Aku tak tahu, apa ini hanya perasaanku, atau kami yang mungkin belum bisa beradaptasi. Entahlah. Aku membuang jauh – jauh prsangka itu bersama hembusan nafasku. Ia berjalan menjauh dan kini benar – benar hilang dari pandangan mataku.
            Aku rindu ayah, rindu bunda. Rindu mereka yang bahkan wajahnya tak pernah ku lihat meski hanya dari foto yang telah usang. Dulu, Bunda Alya sudah cukup untuk menjadi pelita yang menerangi gelap malamku, namun kini semua berubah, aku benar – benar merindukannya..
*******
             Siswa – siswi berhamburan seperti semut yang bertebaran. Bau pylox yang menyengat hidung menyebar kemana – mana karena ritual antik tak bermakna telah dimulai dengan menyemprotkan bermacam warna pylox ke seragam putih abu – abu yang mereka kenakan. Tertawa riang, lepas semua beban dan membubuhi tanda tangan di setiap baju yang mereka kenali pemiliknya serta mengabadikan momen yang tak terlupakan ini dengan kamera poket. Alat elektronik itu hanya menurut saja saat diminta untuk menyimpan wajah – wajah anak manusia yang sedang bersuka ria itu. Aku menjadi seorang penonton ditribun paling kanan, tepat di bawah pohon ketapang yang terletak disamping kelas kami, karena memang tak berniat mengikuti perayaan tersebut. Aku menatap birunya langit yang terbentang. Biru adalah lambang ketenangan dan kedamaian bagiku, itulah mengapa aku sangat menyukai saat – saat seperti ini. Menikmati sajian alam sambil membiarkan sang pena menari – nari diatas kertas. Huruf – huruf yang terpatri diotakku membaur begitu saja menjadi kata – kata yang kemudian terangkai menjadi sebuah kalimat yang tak bisa berdiri, karena itu kalimat – kalimat berikutya meluncur begitu saja mengisi baris – baris berikutnya. Ah, meraka tak pernah berselisih karena keegoisan itu tak dimilikinya. Mereka semua hadir untuk saling melengkapi membentuk tulisan yang indah.
             “Kamu masih aja seneng nulis...?” suara itu mengagetkanku.
             “Pak Heri...?” tanyaku dalam hati. Aku berbalik, dan benar seperti dugaanku. Badannya atletis, dengan kumis yang dicukur tipis dan kacamata menghiasi matanya yang sudah minus.
             “ Eh, iyaaa pak...” aku hanya menjawab seadanya.
             “Masih inget, dulu kamu pernah tidur saat pelajaran saya.”
 Duar, aku seperti dilempari bom waktu yang meledak dalam hitungan detik. Kata – katanya yang to the point seketika itu juga menohokku. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Peristiwa itu kembali terulang dalam otakku.
             Kamis, 8 November 2012
             Jarum jam seakan berjalan malas – malasan, hingga rasa bosan menghampiriku. Aku benar – benar merasa kalah setiap kali berhadapan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Entah mengapa rasanya rentetan alfabet yang tak keruan itu menurunkan kadar oksigen yang disuplai ke otakku hingga datanglah sekutu si bosan yang bernama si kantuk.
             “ Mutia..! mana puisi kamu...?!” Suara Pak Heri terdengar meninggi menghampiri mejaku dibarisan kedua dari depan. Vera menyikut lenganku dan aku segera kembali ke alam sadar.
             “ Eh ya, ini pak...” aku mengulurkan buku tulisku.
             “ Kamu tidur lagi...?” ia kembali bertanya seakan menginterogasi aku yang menjadi tersangka dihadapannya.
             “ Emmm...” aku hanya bergumam pelan.
Ia memegangi buku biru itu, terlihat mencerna huruf demi huruf tulisanku yang lebih mirip dengan steno. Aku hanya menatap lurus  ke arah papan tulis, mencoba menepis kesalahan yang bukan pertama kali ku buat. Ia menghela nafas panjang.
             “Kata – katamu membuat saya tidak jadi menghukummu, puisi ini bagus...”
             “Hore...aku menang...” hatiku menlonjak kian girang.
Mengingat kejadian itu membuatku merasa bodoh dan ingin tertawa.
             “Mau ngambil jurusan apa kuliah nanti..?” Suara Pak Heri seakan menekan tombol pause atau tombol stop yang menghentikan lamunaku yang sedang berkelana ke masa hampir tiga tahun silam.
             “Biologi murni Pak...!”
             “ Kenapa gak ambil sastra aja Mut...?”
             “Takut tragedi yang dulu terulang lagi Pak...”
             Ia tertawa, dan berlalu meninggalkaku. Begitulah Pak Heri, ramah, meski terkadang terlihat keras, mungkin lebih tepatnya beliau adalah seorang guru yang disiplin dan tegas serta selalu peduli pada anak didiknya, sekalipun murid tersebut bertingkah seperti aku.
*******
             Dengan berat hati, aku memecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu. Celengan berbentuk doraemon tempat aku menyisihkan uangku, menyemai harapanku untuk masa depan. Di sisi badan celengan tersebut aku menuliskan kampus idamanku dan cita – citaku. Berharap sedikit rupiah itu bisa membantuku dalam perjalanan meraih impian tersebut.
Kini, aku menengadah ke langit yang menghitam pekat dari jendela kamar, memandangi ribuan bintang kecil yang bertaburan mengusir gelap dengan cahayanya yang benderang. Letaknya begitu tinggi, jauh dari pandangan mata seperti mimpi – mimpi yang ku gantungkan teralu tinggi, hingga banyak yang memberi cap sang pemimpi kepadaku. Aku tak peduli, karena semua berawal dari mimpi, dan akan ku bayar harga yang terlalu tinggi itu dengan segenap usaha dan kerja keras tuk menggapai impian yang telah lama didambakan. Alhamdulillah, pintu gerbang impian itu mulai terbuka. Aku berhasil lolos SNMPTN di Universitas Gadjah Mada, kampus ternama di Jogjakarta yang selalu menjadi cita – citaku selama ini.
             Tok, tok, tok.. Aku mengetuk pintu ruangan Bunda Sarah.
             “Siapa...?” tanya suara itu dari dalam.
             “Mutia bun...”
             “Masuk...”
             Senyap. Tak ada angin yang datang tuk menggerakkan kekakuan yang tercipta. Semua terdiam seakan dibungkam oleh pekatnya sang malam.  Aku bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, karena aku belum dekat dengannya.
             “Ada apa malam – malam begini...?”
             “Hemm, gini Bun, alhamdulillah aku lulus SNMPTN, dan insyaAllah tanggal 30 Mei nanti aku akan berangkat ke Jogja.”
             “ Bisa apa kamu...? hidup diluar sana gak semudah yang kamu bayangkan”
             “Aku tahu bun, tapi hidup dalam ketakutan yang berlebihan juga lebih menakutkan”
             “Bagus, sudah pintar ngelawan kamu ya, jadi ini balasan kamu untuk panti ini, setelah dibesarkan bertahun – tahun. Lulus sekolah tinggal pergi begitu saja, bukannya mengabdi di panti ini”
             “Bukan begitu bun, tapi aku ingin menggapai impianku dan nanti aku juga bekerja dan sebagian hasilnya akan ku kirim ke panti...”
             “Omong kosong, gak usah belagu kamu, “
             Aku terdiam mendapati sangkalan yang begitu mengejutkan. Hatiku ingin menangis. Dan....bulir bening yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh. Aku benar – benar kalut, tak tahu harus berbuat apa lagi.
             “ Dasar cengeng, baru begini saja udah nangis lalu mau pergi merantau...? Halah, sombong kamu..”
             Tangisanku pecah, menghapus kesunyian malam. Hujan yang sedari tadi turun seakan ikut berduka bersamaku. Deret kata yang ku susun rapi kini berhamburan tanpa ampun.
             “ Pergilah, kejar impianmu dan kemasi barangmu sekarang juga”
Aku tertegum mendengar perkataannya. Wajahnya memerah, amarahnya membuncah.
             “Maafkan aku bunda...”
             “Pergilah...” suaranya semakin tinggi, ia menyeretku ke kamar dan menyuruhku mengemasi semua barang – barangku. Hitam menyergapku, sekan siap menerkamku yang terkungkung dalam dimensi yang tak pernah ku mengerti. Genangan airmata serasa tumpah ruah membasahi wajahku yang sekusut benang yang tak lagi beraturan. Semua terasa sepahit kopi, dan tenggorokanku dipaksa untuk menelannya seketika itu juga. Aku tak kuasa melawannya atau bertahan lebih lama lagi dalam gejolak emosional ini, dan terpaksa mengikuti titahnya. Bukan ini yang ku inginkan, namun bila inilah jalannya, sesulit apapun aku berusaha untuk menapakinya.
*******
             Aku berjalan ditengah rinai hujan yang semakin lebat. Langkahku mulai melambat, menahan dingin yang merasuk ke dalam tubuhku. Ku biarakn air hujan membasahi wajahku, bersenandung mencari jawaban ditengah kegundahan yang menyelimuti, hingga bukan tubuhku saja yang merasa dingin, namun dingin itu juga merayap memasuki bilik hatiku. Aku tersadar, sudah begitu banyak keindahan yang selama ini ku dapatkan dan hidup adalah keseimbangan, mungkin inilah saat kepahitan itu kembali kurasakan. Tak apa, karena hidup penuh dengan pemandangan yang patut disyukuri dan memberi tantangan yang wajib tuk kita taklukan. Tersenyum adalah obat yang cukup mujarab, untuk sedikit menyembuhkan kepedihan yang bersemayam, meski mungkin senyuman tersebut hanyalah sebuah tameng.
             Sambungan teleponku tak juga diangkat oleh Vera, hanya bunyi tuttt....tutt...tut... yang terdengar sumbang.
             “Halo, sorry aku baru kebangun..”
             “Aku didepan rumah kamu sekarang, bisa bukain pintu...?”
             “Hujan – hujan begini...? “
             Vera memelukku dan merangkulku menuju kamarnya. Badanku serasa beku. Setelah mengganti bajuku yang basah, cerita mengalir begitu saja dari mulutku yang masih menggigil.
             “Gak usah sedih, Jogjakarta sudah menanti kita, dan kamu tau..? mama udah beli tiketnya untuk kamu sekalian..”
             Aku memeluknya erat. Sebuah kebahagian yang begitu dalam kini ku rasakan. Mungkin benar, terkadang kehidupan ini terasa seperti meneguk kopi, terasa pahit memang, namun jika kita mau menikmatinya sedikit demi sedikit, sensasi manis itu akan terasa diujungnya. Ya, seperti apa yang ku rasakan saat ini.
*******
             Gundukan tanah itu masih basah karena hujan kemarin. Aku enggan membaca tulisan dinisan itu, rasanya baru saja ia menenangkan kami dengan senyuman lembutnya. Dengan sabar, ia tak kenal lelah mendidik kami dengan penuh kasih sayang. Alya Sofia. Aku tertunduk lemas menyadari kenyataan yang begitu menyakitkan. Bagiku ialah mentari yang menyinari pagi dan bulan yang menghapus kegelapan. Meski kami tak ada hubungan darah, bagiku ia segalanya, karena aku tak pernah mengenal bahkan melihat wajah malaikat kehidupanku, ibu dan ayahku.
             “Bunda, aku kangen bunda...” air mataku tumpah tanpa bisa ditahan. Sebuah rasa rindu yang memburu menyusup masuk ke dalam sanubari.
             “Bunda tau, berkat dukungan bunda, aku lulus SNMPTN di PTN favoritku bun, ya Universitas Gadjah Mada yang selalu aku impikan, dan aku gak sendiri bun ada Vera juga. Ini semua berkat do’a bunda...” Suaraku terisak...
             “Bunda bakal sedih kalo liat kamu nangis begini..” Vera menimpali dari belakang.
             Ku usap air mata ini, namun tak juga kunjung reda.
             “Terimakasih bunda, insyaAllah besok kami akan berangkat ke Jogjakarta...”

31 Mei 2013
             Dingin mendekap dalam kesunyian malam yang sebentar lagi berganti dengan fajar, kereta progo yang kami naiki terasa semakin lambat saja atau mungkin ini hanya perasaanku. Vera tidur dengan pulasnya. Wajahnya begitu polos, mungkin benar kata sebagian orang, jika ingin melihat wajah yang paling jujur lihatlah wajah orang saat tidur.  Tetes embun hinggap di kaca jendela. Perlahan, gelap menghilang dari pandangan mata dan birunya langit mulai terlihat pertanda fajar telah menyingsing. Segarnya udara pagi begitu menyejukkan.
             Jogjakarta. Ya, hari ini kami benar – benar berada di kota impian kami. Semilir angin membelai lembut wajahku. Hari ini, kerja kerasku terbayar sudah. Impian yang terlalu tinggi itu kini ada didepan mata dan gravitasi yang mereka sebut sebagai kemustahilan telah luruh.
             “UGM, i’m coming...
             Wajah haru dan senang tak dapat tergambar lagi diwajah kami. Tak ada kata – kata yang tepat untuk menggambarkan kebahagian ini, mungkin senandung lagu bisa menjelaskannya. Bersama sinar mentari yang masih malu – malu kami bersenandung riang.


   Jika kita mau mempercayai sebuah mimpi dan berusaha meraihnya, sekalipun mimpi itu setinggi bintang diangkasa, tak perlu berputus asa. Tatap bintang impianmu dan jangan pernah membiarkan langit yang temaram menghapus setitik sinar bintang itu. Bintang impian kan ada digenggaman jika kau percaya bahwa tak ada yang namanya kemustahilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar