Cerpen Eko Triono (Suara Merdeka, 8 Januari 2012)
ASISTEN Sulap amatir, Tonto, mendengar
suara tangis dari dalam tas, saat jarum aneh menusuk-nusuk dada kirinya.
Angin pektoris, dia tahu, otot-otot jantungnya selalu kekurangan darah
setiap dingin, seperti para vampir di musim hujan.
Dia punya 15 menit untuk melawan. Telentang, dia menjinakkan nafasnya sendiri yang mulai liar.
Tangannya meraba-raba meja. Dia butuh nitrogliserin.
Atau gejala itu bakal jadi serangan prinzmetal dan dia mati mendadak.
Wajahnya pucat, mulutnya nganga. Lima menit membagi tegang. Dan Tonto
masih telentang, mejam. Dan suara tangis itu makin mendaraskan
kesedihannya yang terkesan paling memilukan seolah jerit prajurit muda
yang sebenarnya belum mati, namun ikut dikuburkan secara masal.
“Aku sudah tak jual hantu lagi,” Tonto kesal, “pergilah
ke Walijo, tenggara pasar. Dia yang masih kulakan mewarisi bisnisku itu
sejak 20 hari yang lalu.”
Tangis itu diam, sebentar, agaknya paham.
100 detik kemudian tersetel lagi. Tonto terus berusaha
mengatur komplikasi nafas dan emosi dengan cara sepotong pompa piston
pompa di roda sepeda yang kempes, roda dari parunya sendiri. Pengalaman
bergaul dengan hantu membuatnya terbiasa menasihati arwah-arwah tak
berwadak yang menyesali keadaan.
“Diam! Jangan ajak aku mati. Mati itu tak abadi. Yang
abadi hanyalah hidup. Tapi, jangan menyesal. Semua toh bakal mati
sepertimu juga, jadi hantu juga.”
(Tak ada respons)
“Aku tahu kamu sedih,” Tonto menatap eternit kosong, “tapi, bukan di sini tempatnya. Sana, mengadulah pada presiden para hantu.”
(Terdengar lirih, aku mau sekolah)
“Apa katamu? Kau hantu dan ingin sekolah? Terus nangis?
Jangan melucu, aku ini pernah jadi komedian,” Tonto mengelus, dadanya
agak baik, obat itu agaknya bekerja dengan mujarab.
(Tangis masih terjadi, aku ingin sekolah.)
“Dengar, komedian yang sejati hanya bisa tertawa pada
leluconnya sendiri, bukan orang lain. Tak ada sekolah bagi hantu,” Tonto
tertawa menghina, “sekolah. Apa itu sekolah?”
(Tangis itu jadi makin keras)
Tonto memiring, menatap tas muasal suara tangis. Tangis
yang seakan paling pilu itu seakan berkas cahaya yang muncul
memantul-mantul ke segenap sudut kamarnya. Ke pintu, gantungan baju,
gordin, potongan gambar artis, ke pajangan rambut-rambut perempuan yang
dicurinya dengan sangat profesional hingga angka 588. Lima ratus delapan
puluh delapan rambut perempuan dengan catatannya masing-masing;
ciri-ciri, tanggal kejadian, dan tanggal kemungkinan menyihir, menjampi,
memeletnya untuk jadi tergila-gila pada suatu hari nanti.
“Hantu apa lagi yang jatuh cinta kepadaku,” Tonto bangkit, “kenapa bukan gadis di Malioboro.”
Dengan hati-hati, dipitingnya amplop yang diambil dari dalam tas. Ia letakan ke muka kasur.
Dan suara itu masih tersedu dibarengi halauan angin
gila. Dan sesekali ada muncul cericit burung, peluit antar mobil,
rem-rem mendadak, juga lagu dangdut dan suara serak lelak perindu yang
berdendang tentang alun-alun dan pertemuan saat hujan gerimis memayungi;
komposisi suara yang sangat dikenal Tonto setiap berangkat menuju
Gedung Societ TB, Yogyakarta tepatnya setelah perempatan.
Di gedung itu, seminggu sekali dia membantu pesulap Hong
Ciang Ciang (sebuah nama palsu), keturunan Mandarin, yang mengisi acara
malam sabtu dengan sulap-sulap sederhana namun membuat orang
bertanya-tanya. Adakalanya Bah Hong mengeluarkan jeruk dalam bentuk
utuhnya, setelah sebelumnya ia memakan dan mengunyahnya remuk. Bah Hong
akan tertawa-tawa, kemudian melemparkan jeruk yang dikeluarkan dari
mulutnya itu ke arah penonton yang riuh bertepuk. Dan, dia akan berkata,
inilah yang dilakukan Kumbokarno, anak Wisrawa dan Sukesi, dengan
ajinya gedongmengo, dengan menelan dan mengeluarkan makanan kembali saat
Duryudana meminta pertanggung jawaban atas apa yang dimakannya selama
tinggal di kerajaan.
“O, apakah kita mampu mengembalikan apa yang telah kita
makan dari alam, wahai penonton?” Bah Hong berdeklamasi, Tonto hapal
selanjutnya puisi paling bodoh itu, puisi paling tak berarti
dibandingkan apapun, “apakah kita mampu mengembalikan apa-apa yang kita
telan dari Kerajaan Tuhan Semesta Raya ini? Kalau tidak, mengapa kita
angkuh, mengapa kita sombong, mengapa kita merasa kaya, mengapa kita
merasa memiliki, menindas yang lain, menguasai yang lain, membinasakan
yang lain?”
Semua diam. Lampu meredup. Mereka yang meribut lemparan jeruk terkesima, atau, mungkin cuma pura-pura.
Dan saat itulah, pekerjaan Tonto dimulai. Dia menarik
tirai setelah gelap, seusai penonton dibiarkan tentatif dengan dirinya
sendiri. Diberesinya panggung, lalu disiapkan properti berikutnya.
Demikian seterusnya sampai menjelang pukul sebelas malam. Tak jarang ia
memilih tidur di sana. Pulang pagi, atau menjelang siang, setelah
sarapan dengan soto dekat gudang, dan penjual cendol Banjarnegara,
sebelum pasar Bringharjo dari arah Progo.
Dan siang tadi dia menaiki motor bebeknya, berhenti di
perempatan, dan memerhatikan tiga warna lampu dengan umpatan dalam hati.
Beberapa anak, seperti biasa, menawarkan amplop untuk sumbangan.
Di pipi amplop bertulis; “Mohon bantuannya untuk membeli
peralatan sekolah, atau; mohon keikhlasannya menolong ibu saya
membelikan obat, atau yang sejenisnya.”
“Makin pandai saja peminta-minta zaman sekarang,” seseorang bicara pada seorang lain yang diboncengnya.
Ada respons, “Di Australia malah ada pengemis terkaya di dunia yang bersitawa pada sudut kota Sidney, di Aceh juga….”
Tonto diam. Dan lampu hijau.
Anak-anak itu bergegas melarut, berlarian, sicepat,
menjujal-jujal. Tapi kendaraan selalu lebih tergesa di saat seperti itu.
Amplop itu terbawa tangan Tonto.
Dan sekarang, mengeluarkan suara tangis, di saat ia terserang angina pektoris.
“Hantu apa dalam amplop anak jalanan,” Tonto bertanya,
ia berpengalaman tentang hantu, ia pebisnis hantu, setidaknya mantan
pebisnis, “hei, apa kau bagian dari mereka?” Tonto mengupingnya sebelum
dibuka. Semakin dikuping semakin pilu dan menyayat ratapan tangis.
Ratapan kanak kecil yang serasa lima balonnya meletus semua, balon dan butir-butinya.
Tonto memutuskan memindahnya ke meja. Ditekuknya lampu
baca. Dia sobek ujungnya. Dia buka. Isinya air. Dia perhatikan dengan
seksama; air yang seperti air mata, dilihat dari keruhnya, berbentuk
pipih seperi sel darah raksasa yang berkerumpul, berguncang-guncang, dan
terus menerus menyuarakan tangis. Di sela-sela tangis itu, ada angin
yang sesekali berbagi dingin, cericit burung-burung gereja di kejauhan,
peluit antar mobil, rem-rem mendadak, juga lagu dangdut dan suara serak
lelaki perindu yang berdendang tentang alun-alun dan pertemuan saat
hujan gerimis memayungi. Ada teriakan di sana-sini, ada sela suara
memelas, suara malu, lalu suaranya sendiri yang mengumpati cuaca dan
musim.
“Kuharap ini bukan mimpi, dan kau adalah hantu air mata berharga tinggi.” Tonto ambil gelas.
Dia tuang dengan cermat. Satu dua gumpal air mata,
runtuh, jatuh, menempuh tebing gelas, turun, mengumpul dengan
gumpal-gumpal yang enggan mencari pada tepi gelas; aroma keringat, bau
got, asap, dan debu, mulai tercium dari lingkaran gelas.
“Apa Bah Hong sedang uji coba sulap terbarunya padaku?” Dia bertanya. Dan jam telah sepuluh malam.
Baru saja dia nyalakan motor, hendak pergi memastikan,
ketika dia mendengar suara tangis muncul dari balik pagar rumah
kontrakannya. Tangis yang sama persis nada, rintih, giris, dan ngilunya.
Tonto melongok sebalik ruji pagar, dan itu dari arah selatan.
Mungkin orang di selatan juga mendapatkan bungkusan sulap yang sama dari Bah Hong.
Dia menuju arah tangis lain itu, dengan membawa gelas
air mata yang terus menerus menangiskan ratapan paling pilu dan
suara-suara latar. Belum jauh, dari arah belakang, suara tangis yang
sama muncul.
Tak lama, orang-orang sekitar perumahan ke luar dengan wajah ketakutan.
Tangan satu memegang baterai, yang lain lilin, yang lain
kitab suci, di tangan lain; ada gelas, pucuk surat, atau cawan. Mereka
nampak bertukar wajah dan suara takut, tanya, dan tentu, selalu ada
curiga di saat-saat yang tidak menyenangkan.
“Ini dari pesulap Hong!”
“Aih, bukan! Bukan! Aku sudah menghubunginya.”
“Bohong!” sahut yang lain.
“Tunggu, mungkin ini ulah para dukun.”
“O, Tuhan, pengemis menggunakan dukun untuk mengemis.
Perampok menggunakan dukun untuk merampok. Pejabat menggunakan dukun
untuk menjabat.”
“Husy! Bunda Salma, jangan meracau.”
“Dia takut. Aku takut. Aku penat. Aku tak kuat mendengar ini.”
“O, tangisnya, ratapnya. Aku benci. Aku benci para peratap.”
“Minta sekolah, tak mau kerja, tak mau ngamen. Kau dengar itu juga?”
“Memuakkan! Omong kosong. Sinetron.”
“Kita buang, kita buang saja ke got-got ini!”
“O, Tuhan, kutuklah para peminta.”
“Hush! Anda pun meminta pada Tuhan.”
“Mana?”
“Itu tadi.”
“Maksudku para peminta-minta. Peminta yang mendukunkan air mata ini untuk meneror kebahagiaan hidup kita.”
“Sudah! Jadi bagaimana ini?!”
“Buang!”
“Tuang!”
“Buang, tuang….”
“Lemparkan ke got. Biar tangisnya reda, biar terbawa air, ke sungai, ke laut, dan kita tenang.”
“Buang, tuang… ayo, tetangga-tetangga!”
Tonto makin dekat dengan kerumunan. Disempatkan bertanya pada seseorang.
“Maaf, dari mana Nyonya mendapat air mata yang terus menangis itu?”
“Mana kutahu, sudah ada di dalam mobil! Ah, sudah, ayo tuang!”
“Kalau Anda, Kek?”
“Dari kotak pos, Nak,” Kakek bicara tanpa bijak,
“seseorang mengirimkannya pada alamatku. Sungguh, aku tak kuasa
mendengar tangis anak kecil. Rasanya seperti melihat kematian di mataku,
melihat anak cucuku menangis di samping peti dan proses pemakamanku….”
Tonto menyela, “Kakek akan membuangnya ke got juga? Dan
kakek juga yakin semua yang tak mungkin adalah sihir? Barangkali ini
hantu, atau apa begitu?”
Mata kakek itu mau nyalak, “Aku tak ingin merasa mati,
takut mati sebelum mati; mati dalam teror kematian. Aku mau hidup
bertahun lagi. Ayo, Nak, semua sudah menuang dan bergegas kembali. O,
aku benci bising, kota ini jadi bising dengan air mata dari dukun
murahan.”
Dan 15 menit setelah itu, hujan turun berwarna merah selama 24 jam yang cemas dan mencurigakan. (*)
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar