Untuk semua teman-teman terutama kelas XII IPA 1 dan semua angkatan
tahun 2014. Semoga kita lulus maksimal 100%. Terimakasih untuk semua
guru-guruku di MAN Model Pangkalpinang. I love you all...
Aku, Rya, dan Fai duduk santai di bawah pohon ketapang yang tak terlalu rindang itu. Menikmati sepoi
angin di tengah rerumputan yang menghijau. Rya masih asyik menulis di buku
hariannya. Fai yang sedikit jahil hanya mencabut rumput disekitarnya. Aku
tertawa melihatnya. Benar-benar konyol..!
“Gak nyangka ya kita udah kelas 3..” ucapku memecah kesunyian.
“Rasanya baru aja dulu kelas X...!” sambung Fai
“Biasa tanda-tanda akhir zaman, waktu akan terasa semakin cepat
berlalu..” sahut Rya yang masih setia dengan pena ditangannya.
Aku menatap lurus ke arah kelasku. Ruangan yang tidak terlalu besar
yang di cat berwarna biru muda, lalu ku alihkan pandanganku mengitari
sekeliling Madrasah karena kelas kami tepat berada ditengah. Ada begitu banyak
kenangan dan pelajaran disini. Di Madrasah ini. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Pangkalpinang
Pertama kali masuk kesini ada rasa
kecewa yang sangat mendalam dalam diriku. “Ah, yang benar saja aku harus masuk
MAN..? Tak ada seorangpun temanku yang mendaftar disini...!” aku benar-benar
merasa putus asa. Sebenarnya, aku ingin masuk ke SMAN 1 Pemali, tapi ide
tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh ibuku. Kemudian aku berniat masuk
SMKN 2 mengambil jurusan multimedia, tapi lagi-lagi aku mendapat penolakan yang
sama dengan berbagai alasan yang tak bisa kuterima. Aku benar-benar merasa
kesal..! Dan akhirnya mengikuti titah mereka untuk masuk kesini, walaupun
sebenarnya aku tak menerima keputusan ini dengan sepenuhnya. Aku hanya lelah
jika harus terus berdebat dengan apa yang mereka inginkan, dan terpaksa
menurutinya. Hari-hari pertama di Madrasah kurasakan sangat membosankan,
mungkin karena aku masih setengah hati disini, ditambah lagi dengan pelajaran
bahasa Arab yang sukses membuatku pusing 7 keliling karena memang tak memiliki
dasar pengetahuan bahasa Arab sedikitpun, wajar saja karena aku berasal dari
SMP, bukan MTs yang notabenenya memang mendalami ilmu agama.
Tiga bulan berlalu, aku merasa cukup
baikan dari semua rasa kesalku selama ini. Aku punya cukup banyak teman yang
membuatku merasa nyaman, dan mulai bisa beradaptasi dengan banyaknya pelajaran
yang disuguhkan, kecuali bahasa Arab yang belum ada kemajuannya. Tapi satu hal
yang cukup mengejutkan adalah disini aku mulai menyukai pelajaran Bahasa
Inggris, pelajaran yang sedari dulu menjadi musuhku. Benar-benar aneh. Mungkin
benar adanya pepatah yang mengatakan “Janganlah kamu terlalu mencintai
sesuatu, karena bisa jadi suatu hari nanti kami akan membencinya, dan janganlah
kamu terlalu membenci sesuatu bisa jadi suatu hari nanti kamu justru
mencintainya.”
Dari beragam eksul yang ada disekolah, aku hanya bergabung dalam
ekskul jurnalis, karena aku memang senang menulis. Aku mendapatkan banyak teman
dari ekskul jurnalis, karena disini kami bisa bertemu dan kenal dengan banyak
orang dalam kegiatan peliputan berita. Tak heran meskipun hanya aktif diekskul
jurnalis aku punya banyak kenalan di eskul rohis, marching band, teater maupun
ekskul lainnya atau dengan siswa-siswa berprestasi yang biasa menjuarai
berbagai perlombaan. Benar-benar menyenangkan,lama kelamaan aku merasa bahwa
MAN tidaklah seperti apa yang kubayangkan dulu, MAN punya banyak keunggulan
yang tidak dimiliki sekolah umum seperti SMA, dan aku benar-benar merasa
beruntung menjadi bagian dari Madrasah ini. Aku juga menemunkan guru-guru yang
sangat baik dan sabar disini, ada juga guru yang sangat senang bercerita dan
memotivasi kami. Ah, pokoknya seru dech..!
Di kelas XI dan XII aku menemukan teman-teman yang sangat
menyenangkan dengan beragam sifat dan karakter, tapi kami selalu kompak dalam
berbagai hal. Persaingan yan ketat, senda gurau, kenakalan dan tingkah konyol
lainnya mewarnai persahabatan kami yang hampir berjalan 2 tahun. Ah, ada begitu
banyak kenangan yang terukir disetiap sudut-sudut madrasah ini, keributan
didalam kelas, bolos ke kantin, ataupun sorak-sorakkan dilapangan olahraga saat
pertandingan class meeting semuanya menjadi momen tersendiri yang mungkin akan
sangat kami rindukan nantinya.
“ Ngelamunin apaan Zhie...?” tanya Rya yang melihatku bengong
sedari tadi.
“ Gak ada, aku sayang kalian...!” aku melempar senyuman ke arah Fai
dan Rya.
“ Lebay....!” protes Fai yang memang suka asal.
“Hhaahaaa...!’ kami tertawa bersama dibawah lukisan biru yang
terhampar begitu luas, jauh diketinggian sana.
Ada sejuta kenangan disini, ada begitu banyak pelajaran yang kami
dapatkan, pengalaman, persahabatan dan juga cinta yang menghiasi masa putih
abu-abu di Madrasah ini. Semuanya terasa kian sempurna. Bersyukurlah karena
hari ini kita masih menikmati masa-masa akhir dikelas 3 aliyah. Masa-masa yang
menjadi penentuan masa depan kita nantinya. Aku kembali teringat wejangan
mengenai Ujian Nasional dari guru-guru diminggu pertama ini. “Belajarlah
jika ingin lulus, yakinlah Allah itu Maha Adil. Ia akan memberikan yang terbaik
atas apa yang kita usahakan...”
Rizky Rahmayani
10
Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar