Siska. Ya itulah namaku . Aku hanyalah seorang anak desa . Seorang
anak yang terlahir dari keluaga yang
serba kekurangan . Ayahku telah lama pergi ketika aku berusia 3 tahun . Aku
bahkan belum puas menikmati belaian kasih dari seorang ayah . Sepulang sekolah
aku biasa membantu ibu berjualan makanan di warung kecil peninggalan ayahku .
Dari kecil aku bercita – cita menjadi
seorang dokter. Tetapi ibu selalu mematahkan semangatku . Ibu menganggap cita –
citaku itu terlalu mengada – ada . “Jangan bermimpi terlalu tinggi nak, tidak
perlu menjadi dokter , asal kau bisa tamat SMA saja itu sudah cukup membuat ibu
bahagia . “ Kata-kata itu selalu menjadi
iringan setiap kali aku mengutarakan keinginanku pada ibu. Sama seperti saat
ini ketika aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta dengan beasiswa yang
kuterima .
“ Nggak bu’ .. aku akan tetap pergi. Aku nggak ingin hanya pasrah
menerima nasib untuk selamanya menjadi orang desa. Apa gunanya selama ini aku
menuntut ilmu bertahun-tahun hanya kalau aku tetap tidak bisa menjadi orang
sukses …” tandasku panjang lebar .
“Keras kepalamu itu mirip sekali dengan ayahmu, nak….ibu tidak tahu
lagi harus berkata apa! “
Jawabnya dengan nada lemah .Aku tahu raut wajahnya
tak menginginkan aku pergi
Ayam jantan tlah berkokok.Kusambut hari ini dengan sebuah
seyuman. Sepotong semangat perubahan .
Usai shalat shubuh, kuseret koper lusuh berisikan barang-barang itu. Aku pergi
dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibu. Aku tak ingin ibu terus menghalangi langkahku. Dengan
segenggam keyakinan aku menapaki jalan yang masih lengang menuju halte.
Suara kondektur tua itu menbuat aku terjaga. Sekarang aku benar-benar
berada di kota metropolitan . Dengan beragam gedung pencakar langit yang menghiasi
sudut-sudut keramaian. Begitu beda dengan pemandangan yang selalu kulalui saat
di desa. Hanya gunung dan persawahan penduduk yang menghiasi lika-liku jalan
yang becek .
Hari demi hari ku jalani .Dengan pahit manisnya
kehidupan sebagai mahasiswa. Sepulang kuliah aku bekerja paruh waktu di
restaurant yang terletak tak jauh dari kampusku. Aku juga sering mengerjakan tugas kuliah teman-temanku demi
mencukupi biaya kuliahku. Berbeda dengan teman kostan ku yang selalu
berhura-hura dan menghabiskan waktunya untuk nongkrong ditempat-tempat ramai
dikinjungi oleh muda-mudi lainnya.
Tanpa terasa hari berganti bulan.Bulan berganti tahun. Tujuh tahun
sudah aku menjalani hidup dikota Jakarta dengan bermacam lika- liku yang
mewarnai langkahku. Menghadang langkahku. Sampai tibalah hari ini . Hari dimana
aku akan diwisuda dengan gelar S2 kedokteran. Hari yang begitu kunanti-nanti
sejak lama. Inilah puncak perjuanganku selama ini. Hari ini akan kubuktikan
pada dunia.Pada semua mata yang dulu merendahkanku. Bahwa aku BISA….!!!
Seraut wajah yang khas dengan lesung pipinya itu terngiang dibenakku.
“Bagaimana kabarnya?” gumamku
dalam hati . Aku rindu sekali dengan ibu. Orang yang selalu mencurahkan segala kasihnya
padaku. Ku akui aku memang salah tlah pergi tanpa berpamitan padanya dahulu .
Tapi sekarang aku bakal menebus semua itu .
Kupandangi sekelilingku penuh dengan para orangtua yang
mengagung-agungkan keberhasilan anaknya penuh dengan suka cita … aku hanya
sendiri ,,tak ada yang membanggakanku..menungguku atau memelukku… hampa
rasanya…
Setelah serangkaian acara
selesai ,,aku menangis haru, antara sedih dan senang… kupeluk erat tubuh
sahabatku yang sedari tadi menemaniku, sahabat yang selama ini menenaniku
menghabiskan hari-hari yang melelahkan , penuh pengorbanan, dan selingan
kekonyolan…
Aku segera berlari menuju
halte bis . tak sabar rasanya untuk
kembali ke kampung halaman yang telah
sekian lama ku tinggalkan ..sekelebat rasa rindu merasuk jauh kedalam tulang
rusukku bersama hembusan angin yang
terasa menusuk..
Kulangkahkan kaki ini dengan
cepat menuju rumah yang tak jauh dari
warung kecil tempat bunda biasa berjualan..namun semua terlihatbtlah berbeda,
tak ada lagi gubuk kecil yang dulu berdiri dengan anggunnya didepan pohon
rambutan yang rindang itu.. kemana???
“Bundaaaaaaaaaaaaaa……………….”
Teriakku sekencang mungkin, namun yang kudapati bukanlah sosok yang kucari itu,
melainkan sesosok pria angkuh dengan nadanya yang kasar
“Kurang kerjaan apa loe ..
teriak-teriak depan rumah orang, pergi sana!” bentaknya.
Bulir-bulir bening mengalir
dari kelopak mata ini,,,
“Bunda dimana,,
bunnn???” bisikku lirih dalam hati.
Seorang perempuan dengan kerudung putih yang membalut wajahnya
melintas didepanku.
“Maaf bu, gubuk yang dulu
disini sekarang orangnya pindah kemana ya ? “ Tanyaku pada perempuan itu..
“Orang yang tinggal di gubuk
itu ,udah meniggal setahun yang lalu de’..” jawabnya singkat.
“Nggak
mungkinnnnnnnnnnnnnn……bundaaaaa,…!!! “ teriakku tak percaya.
Kususuri rumah-rumah berukuran 2x1 yang berjejer dikelilingi pohon
kamboja putih itu. Begitu sepi, daun-daun putih berguguran menjadi
kecoklatan..menimpa nisan yang tampak terpaku.Seperti jiwa yang rapuh menerima
semua kenyataan yang terbentang didepan mataku….Hadiah yang telah kubingkiskan
ini terasa sia-sia, tak berguna, bila kau telah tiada…bundaaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar