Senin, 28 April 2014

Obsesi



Siska. Ya itulah namaku . Aku hanyalah seorang anak desa . Seorang anak yang terlahir  dari keluaga yang serba kekurangan . Ayahku telah lama pergi ketika aku berusia 3 tahun . Aku bahkan belum puas menikmati belaian kasih dari seorang ayah . Sepulang sekolah aku biasa membantu ibu berjualan makanan di warung kecil peninggalan ayahku .
 Dari kecil aku bercita – cita menjadi seorang dokter. Tetapi ibu selalu mematahkan semangatku . Ibu menganggap cita – citaku itu terlalu mengada – ada . “Jangan bermimpi terlalu tinggi nak, tidak perlu menjadi dokter , asal kau bisa tamat SMA saja itu sudah cukup membuat ibu bahagia . “  Kata-kata itu selalu menjadi iringan setiap kali aku mengutarakan keinginanku pada ibu. Sama seperti saat ini ketika aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta dengan beasiswa yang kuterima .
“ Nggak bu’ .. aku akan tetap pergi. Aku nggak ingin hanya pasrah menerima nasib untuk selamanya menjadi orang desa. Apa gunanya selama ini aku menuntut ilmu bertahun-tahun hanya kalau aku tetap tidak bisa menjadi orang sukses …” tandasku panjang lebar .
“Keras kepalamu itu mirip sekali dengan ayahmu, nak….ibu tidak tahu lagi harus berkata apa! “
Jawabnya dengan nada lemah .Aku tahu raut wajahnya tak menginginkan aku pergi
            Ayam jantan  tlah berkokok.Kusambut hari ini dengan sebuah seyuman. Sepotong semangat  perubahan . Usai shalat shubuh, kuseret koper lusuh berisikan barang-barang itu. Aku pergi dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibu. Aku tak ingin  ibu terus menghalangi langkahku. Dengan segenggam keyakinan aku menapaki jalan yang masih lengang menuju halte.
Suara kondektur tua itu menbuat aku terjaga. Sekarang aku benar-benar berada di kota metropolitan . Dengan beragam gedung pencakar langit yang menghiasi sudut-sudut keramaian. Begitu beda dengan pemandangan yang selalu kulalui saat di desa. Hanya gunung dan persawahan penduduk yang menghiasi lika-liku jalan yang becek .
Hari demi hari ku jalani .Dengan pahit manisnya kehidupan sebagai mahasiswa. Sepulang kuliah aku bekerja paruh waktu di restaurant yang terletak tak jauh dari kampusku. Aku juga sering  mengerjakan tugas kuliah teman-temanku demi mencukupi biaya kuliahku. Berbeda dengan teman kostan ku yang selalu berhura-hura dan menghabiskan waktunya untuk nongkrong ditempat-tempat ramai dikinjungi oleh muda-mudi lainnya.
Tanpa terasa hari berganti bulan.Bulan berganti tahun. Tujuh tahun sudah aku menjalani hidup dikota Jakarta dengan bermacam lika- liku yang mewarnai langkahku. Menghadang langkahku. Sampai tibalah hari ini . Hari dimana aku akan diwisuda dengan gelar S2 kedokteran. Hari yang begitu kunanti-nanti sejak lama. Inilah puncak perjuanganku selama ini. Hari ini akan kubuktikan pada dunia.Pada semua mata yang dulu merendahkanku. Bahwa aku BISA….!!!
Seraut wajah yang khas dengan lesung pipinya itu terngiang dibenakku.
 “Bagaimana kabarnya?” gumamku dalam hati . Aku rindu sekali dengan ibu. Orang yang selalu mencurahkan segala kasihnya padaku. Ku akui aku memang salah tlah pergi tanpa berpamitan padanya dahulu . Tapi sekarang aku bakal menebus semua itu .
Kupandangi sekelilingku penuh dengan para orangtua yang mengagung-agungkan keberhasilan anaknya penuh dengan suka cita … aku hanya sendiri ,,tak ada yang membanggakanku..menungguku atau memelukku… hampa rasanya…
Setelah serangkaian acara selesai ,,aku menangis haru, antara sedih dan senang… kupeluk erat tubuh sahabatku yang sedari tadi menemaniku, sahabat yang selama ini menenaniku menghabiskan hari-hari yang melelahkan , penuh pengorbanan, dan selingan kekonyolan…
Aku segera berlari menuju halte bis . tak sabar rasanya  untuk kembali ke kampung halaman  yang telah sekian lama ku tinggalkan ..sekelebat rasa rindu merasuk jauh kedalam tulang rusukku  bersama hembusan angin yang terasa menusuk..
Kulangkahkan kaki ini dengan cepat menuju  rumah yang tak jauh dari warung kecil tempat bunda biasa berjualan..namun semua terlihatbtlah berbeda, tak ada lagi gubuk kecil yang dulu berdiri dengan anggunnya didepan pohon rambutan yang rindang itu.. kemana???
“Bundaaaaaaaaaaaaaa……………….” Teriakku sekencang mungkin, namun yang kudapati bukanlah sosok yang kucari itu, melainkan sesosok pria angkuh dengan nadanya yang kasar
“Kurang kerjaan apa loe .. teriak-teriak depan rumah orang, pergi sana!” bentaknya.
Bulir-bulir bening mengalir dari kelopak mata ini,,, 
“Bunda dimana,, bunnn???”  bisikku lirih  dalam hati.
Seorang perempuan  dengan kerudung putih yang membalut wajahnya melintas didepanku.  
“Maaf bu, gubuk yang dulu disini sekarang orangnya pindah kemana ya ? “ Tanyaku pada perempuan itu..
“Orang yang tinggal di gubuk itu ,udah meniggal setahun yang lalu de’..” jawabnya  singkat.
“Nggak mungkinnnnnnnnnnnnnn……bundaaaaa,…!!! “ teriakku tak percaya.
Kususuri rumah-rumah berukuran 2x1 yang berjejer dikelilingi pohon kamboja putih itu. Begitu sepi, daun-daun putih berguguran menjadi kecoklatan..menimpa nisan yang tampak terpaku.Seperti jiwa yang rapuh menerima semua kenyataan yang terbentang didepan mataku….Hadiah yang telah kubingkiskan ini terasa sia-sia, tak berguna, bila kau telah tiada…bundaaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar