Senin, 28 April 2014

Bertepuk Sebelah Tangan



           
Bulan sabit yang benderang tersenyum kearahku, dari kejauhan ku lihat setitik cahaya yang berkilau, ya sang bintang yang malam ini tak seramai biasanya. Entah mengapa aku selalu mengagumi langit dan semua yang bertahta disinggasananya yang megah. Indah dan memesona, hingga mataku tak pernah lelah tuk memandangnya.
            “Gak ada kerjaan lain apa selain liatin langit..?” Rena mengusik aku yang sedang asyik.
            Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
            “ Lebih baik tidur, yang ada juga cuma hitam doank dilangit..”
            “ Tidur aja duluan...” jawabku.
            Aku mengalihkan pandangan ke arah Rena. Wajahnya terlihat lebih kusut dari biasanya.
            “ Setrika kek tu muka, kusut amat...”
            “ Tau, pusing gw Za”
            “Oke,,oke.. trus..? lagi galau nich ceritanya..?”
            Ia bercerita panjang lebar, membagi kegundahan yang bersarang didadanya.  Seperti dugaanku. Ini tentang cinta, satu rasa yang pasti ada dalam diri anak manusia. Entahlah aku kurang mengerti tentang yang satu ini, yang ku tahu sahabatku ini tengah diserang virus merah jambu yang menginfeksi hatinya. Fall in love, mungkin itu bahasa latinnya. Telah lama ia menyimpan rapat – rapat rasanya itu pada seorang pangeran tampan yang selalu ia dambakan disetiap mimpinya. Namanya Noki. Orang yang bahkan tak pernah memperdulikannya sedikitpun. Sedingin batu es yang sulit tuk dicairkan, bahkan untuk mendapat posisi sebagai sahabat dihati pangerannya itu pun terlalu sulit. Entahlah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Penuh tanda tanya dan sulit dimengerti, mungkin lebih kompleks dari rumus fisika atau matematika sekalipun.
            “Aku emang gak ngerti tentang cinta, tapi jangan biarkan itu merubahmu atau bahkan membuatmu menjadi lemah...” kataku seraya memberikan senyuman kearahnya.
            “Gak semudah itu Za..”
            “Susah bukan berarti harus nyerah kan...?”
Ia berusaha untuk tersenyum, meski ku tahu bimbang masih menyelimuti hantinya. Langit – langit kamar hanya diam membisu. Aku mematikan lampu dan kami mulai berlayar ke alam mimpi, dunia yang begitu indah yang mungkin bisa sedikit menghibur kehidupan nyata yang tak selalu indah.
                                                            ******
            Disekolah..
Bunyi bel terdengar merdu. Aku, Rena dan Fei duduk santai menikmati semilir angin yang bertiup lembut dibawah pohon mangga yang terletak didepan kelas. Pohon tersebut tidak terlalu besar, namun cukup untuk memberi sedikit keteduhan. Aku masih asyik membaca poket biologiku. Fei masih sibuk membolak – balikkan buku agenda Rena, membaca puisi – puisi yang ditulis Rena untuk menuangkan apa yang ia rasakan. Rena tertunduk dan merebahkan kepalanya ke pundak Fei. Air matanya jatuh membasahi buku yang ku pegang. Aku berada tepat disampingnya. Aku dan Fei menoleh ke arah Rena bersamaan. Ada gelagat muram yang ku tangkap dari sorot matanya. Ku alihkan pandanganku mengitari sekeliling, mencari sumber permasalahnnya. Tap.. aku terkesiap mendapati sebuah potret dua anak manusia didepan kelasku. Itu dia masalahnya. Noki sedang bersenda gurau dengan Chefa. Tak pernah ku lihat ia tersenyum seperti itu. Wajah cuek dan yang selalu ia jajakan kepada kami beubah 180 derajat, yang lebih menyakitkan lagi, Chefa adalah teman dekat Rena sendiri. Ah, terlalu naif rasanya...! Menggerogoti teman diam – diam.
“Menangislah kalo emang itu bisa ngebuat kamu sedikit lebih baik...” ucapku padanya.
“Tapi Cuma boleh lima menit aja ya, abis itu langsung senyum lagi..” tambah Fei
Rena hanya terdiam. Ia masih larut dalam pikirannya.
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar