Bulan
sabit yang benderang tersenyum kearahku, dari kejauhan ku lihat setitik cahaya
yang berkilau, ya sang bintang yang malam ini tak seramai biasanya. Entah
mengapa aku selalu mengagumi langit dan semua yang bertahta disinggasananya
yang megah. Indah dan memesona, hingga mataku tak pernah lelah tuk
memandangnya.
“Gak
ada kerjaan lain apa selain liatin langit..?” Rena mengusik aku yang sedang
asyik.
Aku
hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
“
Lebih baik tidur, yang ada juga cuma hitam doank dilangit..”
“
Tidur aja duluan...” jawabku.
Aku
mengalihkan pandangan ke arah Rena. Wajahnya terlihat lebih kusut dari
biasanya.
“
Setrika kek tu muka, kusut amat...”
“
Tau, pusing gw Za”
“Oke,,oke..
trus..? lagi galau nich ceritanya..?”
Ia
bercerita panjang lebar, membagi kegundahan yang bersarang didadanya. Seperti dugaanku. Ini tentang cinta, satu rasa
yang pasti ada dalam diri anak manusia. Entahlah aku kurang mengerti tentang
yang satu ini, yang ku tahu sahabatku ini tengah diserang virus merah jambu
yang menginfeksi hatinya. Fall in love, mungkin itu bahasa latinnya. Telah
lama ia menyimpan rapat – rapat rasanya itu pada seorang pangeran tampan yang selalu
ia dambakan disetiap mimpinya. Namanya Noki. Orang yang bahkan tak pernah memperdulikannya
sedikitpun. Sedingin batu es yang sulit tuk dicairkan, bahkan untuk mendapat
posisi sebagai sahabat dihati pangerannya itu pun terlalu sulit. Entahlah.
Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Penuh tanda tanya dan sulit dimengerti,
mungkin lebih kompleks dari rumus fisika atau matematika sekalipun.
“Aku
emang gak ngerti tentang cinta, tapi jangan biarkan itu merubahmu atau bahkan
membuatmu menjadi lemah...” kataku seraya memberikan senyuman kearahnya.
“Gak
semudah itu Za..”
“Susah
bukan berarti harus nyerah kan...?”
Ia berusaha untuk tersenyum, meski
ku tahu bimbang masih menyelimuti hantinya. Langit – langit kamar hanya diam
membisu. Aku mematikan lampu dan kami mulai berlayar ke alam mimpi, dunia yang
begitu indah yang mungkin bisa sedikit menghibur kehidupan nyata yang tak
selalu indah.
******
Disekolah..
Bunyi
bel terdengar merdu. Aku, Rena dan Fei duduk santai menikmati semilir angin
yang bertiup lembut dibawah pohon mangga yang terletak didepan kelas. Pohon
tersebut tidak terlalu besar, namun cukup untuk memberi sedikit keteduhan. Aku
masih asyik membaca poket biologiku. Fei masih sibuk membolak – balikkan buku
agenda Rena, membaca puisi – puisi yang ditulis Rena untuk menuangkan apa yang
ia rasakan. Rena tertunduk dan merebahkan kepalanya ke pundak Fei. Air matanya
jatuh membasahi buku yang ku pegang. Aku berada tepat disampingnya. Aku dan Fei
menoleh ke arah Rena bersamaan. Ada gelagat muram yang ku tangkap dari sorot
matanya. Ku alihkan pandanganku mengitari sekeliling, mencari sumber
permasalahnnya. Tap.. aku terkesiap mendapati sebuah potret dua anak manusia
didepan kelasku. Itu dia masalahnya. Noki sedang bersenda gurau dengan Chefa.
Tak pernah ku lihat ia tersenyum seperti itu. Wajah cuek dan yang selalu ia
jajakan kepada kami beubah 180 derajat, yang lebih menyakitkan lagi, Chefa
adalah teman dekat Rena sendiri. Ah, terlalu naif rasanya...! Menggerogoti
teman diam – diam.
“Menangislah
kalo emang itu bisa ngebuat kamu sedikit lebih baik...” ucapku padanya.
“Tapi
Cuma boleh lima menit aja ya, abis itu langsung senyum lagi..” tambah Fei
Rena
hanya terdiam. Ia masih larut dalam pikirannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar