Senin, 28 April 2014

Sebuah Kepercayaan

Gelap mengurungku dalam kesepian. Ah, aku tidak sedang bermajas kawan, ya malam ini listrik padam. Peristiwa yang sangat tidak ku harapkan. Rumah kecil kami hanya diterangi beberapa lilin yang hampir sekarat. Benar – benar tidak bersahabat padahal besok ada ulangan biologi dan kuis Bahasa Inggris.
            “Arghhh.....” aku merutuk sendiri.
Aku hanya membolak – balik catatanku, berusaha untuk membacanya dengan cahaya dari handphoneku. Nihil, aku tidak mendapatkan apa – apa.
                                                                        ***
            Jam pelajaran kedua dimulai. Biologi. Kertas putih yang dipenuhi dengan tulisan itu dibagikan satu persatu kepada kami. Aku menghela nafas, mencari sedikit ketenangan, namun tak ku jumpai hal itu. Bismillahirrahmanirrahim. Hanya satu kata itu yang terucap. Soal – soal berbaris rapi diatas kertas putih tadi, dan semuanya berjumlah 50 soal seakan siap bertarung di alam pikiranku. Search, find.. aku berusaha mengingat materi yang telah kami pelajari, namun soal – soal yang berjejer ini begitu sulit tuk ditaklukkan. Suci tak kalah pusingnya, aku bisa menangkap itu dari air mukanya. Kami saling bertatapan dalam diam seakan berkata “ Susah banget yah...”
            30 menit berlalu. Hanya setengahnya yang bisa kujawab. Aku benar – benar merasa kalah, bahkan sebelum waktunya usai. Kesunyian dalam kelas mulai pecah, dan ritual wajib itu pun dimulai dengan segera. Apalagi kalau bukan pencontekan masal...? Hatiku teriris melihat realita pendidikan tepat didepan mataku. Dengan santainya mereka mencabik – cabik kehormatan dari sebuah ilmu pengetahuan dengan aksi nakalnya.
            “Inikah pendidikan...?, lalu dimana harga sebuah kejujuran..?” aku hanya bertanya dalam hati, meski jawaban yang kucari tak kunjung kutemui. Pendidikan sekan menjadi formalitas belaka, dan nilai adalah suatu tujuan, tak heran jika segala carapun kemudian dihalalkan. Menurutku, seorang siswi yang bodoh ini, pendidikan bukanlah masalah kuantitas atau nilai semata kawan, namun masalah kualitas dan ilmu yang kita dapati. Jika langkah awal yang kita mulai saja sudah diwarnai dengan sebuah kecurangan, maka lama kelamaan kecurangan itu terus membututi dan semakin bertambah jika kita tidak berusaha mengubahnya. Kebohongan yang menumpuk membuat kita tak lagi segan melakukan kebohongan yang lebih besar lagi, lihatlah orang – orang terhormat disana yang masih bisa tersenyum didepan media setelah mencuri harta rakyatnya. Ah, sungguh memalukan.
***
        Kamis, 12 September 2013
        Seperti dugaan, nilai ulanganku seperti sebuah apel yang dibelah dua. Aku hanya menatap kosong ke kertas itu.
        “Pinjem catatan mtk Kier..” Riris mengejutkanku.
        “Eh, nich...” jawabku seraya memberikan buku berwarna hijau itu.
        “Ngelamun mulu...” tambahnya berkata dengan nada juteknya. Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Ia membolak – balik halaman buku yang aku pinjami.
        “Huh, sombong amat sich Kier..” ucapnya tiba – tiba.
        “Maksudnya..? “ aku berusaha mencerna perkataannya yang tiba – tiba.
        “Ulangan masih remedial aja belagu mau masuk kampus ternama di Jogja, tinggi banget impian loe..”
Aku hanya terdiam. Mungkin ia benar. Aku tak membalasnya, karena takkan ada gunanya. Duarrrr....! Seketika itu aku seperti dijatuhi bom atom yang meluluh lantakkan rasi impianku dalam hitungan detik.
***
        “Lesu amat sich..” Suci seakan bisa menebak perasaanku. Aku tak menjawabnya. Ia tahu, akan percuma menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ia membuka agendaku, dan ya itu masalahnya. Ia tersenyum kepadaku. Senyum yang seakan memberiku kepercayaan. Ia menatapku lama.
        “ Yakinlah, yang kamu butuhkan bukanlah rasa kepercayaan dari orang lain, bukan pula rasa percayamu kepada orang lain. Yang harus kamu percayai hanyalah dirimu sendiri.”
                                                                                                            Bintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar