Gelap
mengurungku dalam kesepian. Ah, aku tidak sedang bermajas kawan, ya malam ini
listrik padam. Peristiwa yang sangat tidak ku harapkan. Rumah kecil kami hanya
diterangi beberapa lilin yang hampir sekarat. Benar – benar tidak bersahabat padahal
besok ada ulangan biologi dan kuis Bahasa Inggris.
“Arghhh.....”
aku merutuk sendiri.
Aku hanya membolak – balik
catatanku, berusaha untuk membacanya dengan cahaya dari handphoneku. Nihil, aku
tidak mendapatkan apa – apa.
***
Jam
pelajaran kedua dimulai. Biologi. Kertas putih yang dipenuhi dengan tulisan itu
dibagikan satu persatu kepada kami. Aku menghela nafas, mencari sedikit
ketenangan, namun tak ku jumpai hal itu. Bismillahirrahmanirrahim. Hanya satu
kata itu yang terucap. Soal – soal berbaris rapi diatas kertas putih tadi, dan
semuanya berjumlah 50 soal seakan siap bertarung di alam pikiranku. Search,
find.. aku berusaha mengingat materi yang telah kami pelajari, namun soal –
soal yang berjejer ini begitu sulit tuk ditaklukkan. Suci tak kalah pusingnya,
aku bisa menangkap itu dari air mukanya. Kami saling bertatapan dalam diam
seakan berkata “ Susah banget yah...”
30
menit berlalu. Hanya setengahnya yang bisa kujawab. Aku benar – benar merasa
kalah, bahkan sebelum waktunya usai. Kesunyian dalam kelas mulai pecah, dan
ritual wajib itu pun dimulai dengan segera. Apalagi kalau bukan pencontekan
masal...? Hatiku teriris melihat realita pendidikan tepat didepan mataku. Dengan
santainya mereka mencabik – cabik kehormatan dari sebuah ilmu pengetahuan dengan
aksi nakalnya.
“Inikah
pendidikan...?, lalu dimana harga sebuah kejujuran..?” aku hanya bertanya dalam
hati, meski jawaban yang kucari tak kunjung kutemui. Pendidikan sekan menjadi
formalitas belaka, dan nilai adalah suatu tujuan, tak heran jika segala carapun
kemudian dihalalkan. Menurutku, seorang siswi yang bodoh ini, pendidikan
bukanlah masalah kuantitas atau nilai semata kawan, namun masalah kualitas dan
ilmu yang kita dapati. Jika langkah awal yang kita mulai saja sudah diwarnai
dengan sebuah kecurangan, maka lama kelamaan kecurangan itu terus membututi dan
semakin bertambah jika kita tidak berusaha mengubahnya. Kebohongan yang
menumpuk membuat kita tak lagi segan melakukan kebohongan yang lebih besar
lagi, lihatlah orang – orang terhormat disana yang masih bisa tersenyum didepan
media setelah mencuri harta rakyatnya. Ah, sungguh memalukan.
***
Kamis, 12 September 2013
Seperti dugaan, nilai ulanganku seperti
sebuah apel yang dibelah dua. Aku hanya menatap kosong ke kertas itu.
“Pinjem catatan mtk Kier..” Riris mengejutkanku.
“Eh, nich...” jawabku seraya memberikan
buku berwarna hijau itu.
“Ngelamun mulu...” tambahnya berkata
dengan nada juteknya. Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Ia
membolak – balik halaman buku yang aku pinjami.
“Huh, sombong amat sich Kier..” ucapnya
tiba – tiba.
“Maksudnya..? “ aku berusaha mencerna
perkataannya yang tiba – tiba.
“Ulangan masih remedial aja belagu mau
masuk kampus ternama di Jogja, tinggi banget impian loe..”
Aku
hanya terdiam. Mungkin ia benar. Aku tak membalasnya, karena takkan ada
gunanya. Duarrrr....! Seketika itu aku seperti dijatuhi bom atom yang meluluh
lantakkan rasi impianku dalam hitungan detik.
***
“Lesu amat sich..” Suci seakan bisa
menebak perasaanku. Aku tak menjawabnya. Ia tahu, akan percuma menanyakan hal
yang sama untuk kedua kalinya. Ia membuka agendaku, dan ya itu masalahnya. Ia
tersenyum kepadaku. Senyum yang seakan memberiku kepercayaan. Ia menatapku
lama.
“ Yakinlah, yang kamu butuhkan bukanlah rasa
kepercayaan dari orang lain, bukan pula rasa percayamu kepada orang lain. Yang
harus kamu percayai hanyalah dirimu sendiri.”
Bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar