Air Selokan
"Air yang di
selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu
pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah
karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu
mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur
darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di
kamar mati.
Senja ini ketika dua
orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri
dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa
lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin
lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir
baunya itu, sayang sekali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan kata yang tak
sempat diucapkan
kayu kepada api yang
menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan
awan kepada hujan yang
menjadikannya tiada
Akulah Si Telaga
akulah si telaga:
berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan
riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil
memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang
sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku
yang menjaganya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Angin, 1
angin yang diciptakan
untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari
berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama
kali, "hei siapa ini yang mendadak di depanku?"
angin itu tersentak
kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia
terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai
terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa
Hawa
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Angin, 2
Angin pagi menerbangkan
sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat,
menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa
perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang
rumah itu tiba-tiba berair kembali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Angin, 3
"Seandainya aku
bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak
letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah
jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
"Seandainya aku .
. . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal
setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari
dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Atas Kemerdekaan
kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun
jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan
badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah
sibuk
mengusut rahasia
angka-angka
sebelum Hari yang
ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan
pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular
melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu,
nikmatkanlah
Horison
Thn III, No. 8 Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan
dan Nyanyian Tanah Air
Di Tangan Anak-Anak
Di tangan anak-anak,
kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung .
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak,
kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu
permainanku ini."
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Berjalan Ke Barat Waktu
Pagi Hari
waktu berjalan ke barat
di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti
bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak
bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang
tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
Bunga, 1
(i)
Bahkan bunga rumput itu
pun berdusta.
Ia rekah di tepi
padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca
berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang
itu;
malam hari ia mendengar
seru serigala.
Tapi katanya,
"Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput,
pilihan dewata!"
(ii)
Bahkan bunga rumput itu
pun berdusta.
Ia kembang di
sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa
tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium
bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
hutan terbakar dan setelah api ....
Teriaknya, "Itu
semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput:
pilihan dewata!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Bunga, 2
mawar itu tersirap dan
hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari
ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita
itu tak mengenal isaratnya -- tak ada
alasan untuk memahami
kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu
menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun
dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar
dan membiarkannya berjatuhan menjelma
pendar-pendar di
permukaan kolam
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Bunga, 3
seuntai kuntum melati
yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan
terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati
itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma
kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti
gema "hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Cara Membunuh Burung
bagaimanakah cara
membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang
tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan
seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke
cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka
mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Cermin, 1
cermin tak pernah
berteriak;
ia pun tak pernah
meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi
terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya
bisa bertanya:
mengapa kau seperti
kehabisan suara?
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Cermin, 2
mendadak kau mengabut
dalam kamar, mencari dalam cermin;
tapi cermin buram kalau
kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak
menetes dan tepercik ke mana-mana;
dan cermin menangkapmu
sia-sia
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Di Atas Batu
ia duduk di atas batu
dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan
kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling :
matahari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang
mendaki tebing kali, beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa
benar-benar berada di sini
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Pertapa
Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang
bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata -- ah, apa ada
bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan
benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Dua Peristiwa Dalam
Satu Sajak Dua Bagian
1
sehabis langkah-langkah
kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh
yang tersesat dan gagal menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak semula sudah
diikutinya jejakmu
padahal harus
lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu
2
seolah-olah kau harus
segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal
artinya,
yang membuatmu
terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit
kalau sarat berbunga
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Gonggong Anjing
untuk Rizki
gonggong anjing itu
mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon
cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah
menyusup lewat
celah-celah genting
bergema dalam kamar
demi kamar
tersuling lewat mimpi
seorang anak lelaki
siapa itu yang
bernyanyi bagai bidadari?" tanya sunyi
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Hatiku Selembar Daun
hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku
sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin
kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Kepompong Itu
kepompong yang
tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab
ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong itu juga
mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat
celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan
bermuatan bau bunga
dan kepompong itu hanya
bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma
kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Ketika Menunggu Bis
Kota, Malam-Malam
"Hus, itu bukan
anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan?
Capung tak suka ke tempat sampah
-- biasanya ia hinggap
di ujung daun rumput waktu pagi hari,
dan kalau ada gadis
kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara
"aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?
Sedangkan yang kulihat
tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah
yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di
sudutnya.
Hanya saja, aku memang
tak melihat ke mana gaibnya.
"Itu capung!"
katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana
tadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Kisah
Kau pergi, sehabis
menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat
alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak
pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda,
plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang
mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari
sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu
nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah
padaku tentang pengembaraanmu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Ku Kirimkan Padamu
kukirimkan padamu kartu
pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman
kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung
merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak
ada di antara mereka.
Namun ada.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Kuterka Gerimis
Kuterka gerimis mulai
gugur
Kaukah yang melintas di
antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan
isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang
meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai
rintik-rintik yang di luar itu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Lirik Untuk Lagu Pop
jangan pejamkan matamu:
aku ingin tinggal di hutan yang gerimis
-- pandangmu adalah
seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah
kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)
aku pun akan memecah
pelahan dan bertebaran dalam hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah
goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu tajam!)
aku akan berhamburan
dalam grimis dalam seru butir air dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan
mendadak gaib
jangan pejamkan matamu:
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Mata Pisau
mata pisau itu tak
berkejap menatapmu
kau yang baru saja
mengasahnya
berfikir: ia tajam
untuk mengiris apel
yang tersedia di atas
meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika
terbayang olehnya urat lehermu
Di Sebuah Halte Bis
Hujan tengah malam
membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak
pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak
putih.
Pagi harinya anak-anak
sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium
bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu.
Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil
melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak
kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang,
dan perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah
di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira,
pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun
menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu
itu.
Akhirnya kau dengar
juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
"Telah
kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di
sebuah bukit."
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Peristiwa Pagi Tadi
kepada GM
Pagi tadi seorang sopir
oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor
waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh
kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor
waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung
bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang,
membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu
setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin
sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Pesan
Tolong sampaikan kepada
abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak
panahnya.
Kami saling mencinta,
dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu
dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti
apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Pesta
pesta berlangsung
sederhana. Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada
tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul
dalam mimpi-mimpinya
. . . di sumur itu, si
Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Puisi Cat Air untuk
Rizki
angin berbisik kepada
daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, "aku rindu, aku ingin
mempermainkanmu! "
kabel telpon
memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas,
"jangan berisik, mengganggu .
hujan!"
hujan meludah di ujung
gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan
daun itu!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Sajak Nopember
Siapa yang akan
berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu
siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang
mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang
terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa
memahami bahasa kami
dan mengerti dengan
baik apa yang kami katakan
siapa yang akan
berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam
kubur
bukanlah pujian-pujian
kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah
upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup
bercakap-cakap dengan kami
siapa yang bisa paham
makna kehendak kami
kami yang telah lahir
dari ibu-ibu yang baik dan sederhana
ibu-ibu yang rela
melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih
besar dan agung :
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari
pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan
seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih
dahulu
apakah kau dengan para
bunda itu mencari kubur kami
apakah kau dengar para
bunda itu memanggil nama kami
mereka hanya berkaata :
akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik
tanpa mengeluh serta
putus asa
di Solo dua orang dalam
satu kuburan
di Makasar sepuluh
orang dalam satu kuburan
di Surabaya seribu
orang dalam satu kuburan
dan kami tidak menuntut
nisan yang lebih baik
tapi katakanlah kepada
anak cucu kami;
di sini telah dikubur
pamanmu, ayahmu, saudaramu
bertimbun dalam satu
lobang
dan tiada yang tahu
siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling
besar telah ditabuh
dan orang-orang pun
keluar untuk mengenangkan kami
terompet yang paling
lantang ditiup
dan mereka berangkat
untuk menangiskan nasib kami dulu
kami pun bangkit dari
kubur
memeluki orang-orang
itu dan berkata : pulanglah
kami yang mati muda
sudah tentram, dan jangan
diusik oleh sesal yang
tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi
dan sudah itu : mati
kami hanya berkelahi
untukmu, untuk mereka
dan hari depan, sudah
itu : mati
orang-orang pun
menyiramkan air bunga yang wangi saat itu
tanpa tahu siapa kami
ini
tiada mereka dengarkan
ucapan terimakasih kami yang tulus
tiada mereka dengarkan
salam kami bagi yang tinggal
tiada mereka lihatkah
senyum kami yang cerah
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa
kami telah musnah
siapa berkata
kami kenal nama-namamu
di mesjid di gereja di jalan di pasar
kami kenal nama-namamu
di gunung di lembah di sawah
di ladang dan di laut,
meskipun kalian
tiada menyadari kehadiran
kami
siapa berkata bahwa
kami telah musnah
siapa berkata
tanah air adalah sebuah
landasan
dan kami tak lain baja
yang membara hancur
oleh pukulan
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami
tapi besok mesti tiba
giliranmu
kalau saja kau masih
mau tahu ucapan terimakasih
terhadap tanah tempatmu
selama ini berpijak
hidup dan mengerti
makna kemerdekaan
dan kami adalah baja
yang membara di atas landasan
dibentuk oleh pukulan :
ialah kemerdekaan
(mungkin besok tiba
giliranmu)
siapa yang tahu cinta
saudara, paman dan bapa
siapa yang bisa merasa
kehilangan saudara, paman dan bapak
ingat untuk apa kamu
pergi
siapa yang pernah
mendengar bedil, bom dan meriam
siapa yang sempat
melihat luka, darah dan bangkai manusia
ingat kenapa kami tak
kembali
begitu hebatkah kemerdekaan
itu hingga kami korbankan
apa saja untuknya
jawablah : ya
begitu agungkah ia
hingga kami tak berhak menuntut apa-apa
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah
suara sepatu kami tengah malam hari
datang untuk memberkati
anak-anak yang tidur
sebab merekalah yang
kelak harus bisa mempergunakan
bahasa dan kehendak
kami
sudah kau dengarkah
suara napas kami
menyusup ke dalam
setiap rahim bunda yang subur
sebab kami selalu dan
selalu lahir kembali
selalu dan selalu
berkelahi lagi
mungkin pernah kau
kenal kami dahulu, mungkin juga tidak
mungkin pernah kau
jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak
tapi toh tak ada
bedanya:
kami telah memulainya
dan kalian sekarang
yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada
bedanya :
kalau hari itu bagi
kami adalah saat penghabisan
bagimu adalah awal
pertaruhan
awal dari apa yang
terlaksana kemarin, kini besok pagi
meski kami pernah kau
kenal atau tidak
meski kami pernah kau
jumpa atau tidak
kami adalah buruh,
pelajar, prajurit dan bapa tani
yang tak sempat
mengenal nama masing-masing dengan baik
kami turun dari
kampung, benteng, ladang dan gunung
lantaran satu harapan
yang pasti
walau tak pernah
kembali
kami hanyalah kubur
yang rata dengan tanah dan tak bertanda
kami hanyalah
kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama
tapi hari ini doakan
sesuatu yang pantas bagi kami
agar Tuhan yang selalu
mendengar bisa mengerti dan
mengeluarkan ampun
kami adalah mayat-mayat
yang sudah lebur dalam bumi
tapi adukan segala yang
pantas tentang diri kami ini
agar tak lagi
mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup
dan berkelahi : dan mati
kami telah mati
lahir dari para ibu
yang mengerti untuk apa kami lahir di sini
hidup di bumi yang
mengerti semangat yang menjalankan kami
kami telah berkelahi;
dan mati
tapi siapakah yang bisa
menterjemahkan bahasa hati kami
dan mengatakannya
kepada siapa pun
tapi siapakah yang bisa
menangkap bahasa jiwa kami
yang telah mati pagi
sekali
dan berjalan tanpa nama
dan tanda
dalam satu lobang kubur
kami telah lahir dan
selalu lahir
selalu dan selalu lahir
dari para bunda yang tabah
selalu dan selalu
berkelahi
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara
lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu
puja hari ini
biarkanlah kami bicara
lewat kesunyian suasana
dari orang-orang yang
mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang
kami tegakkan dahulu berkibar
atas rasa bangga kami
yang sederhana
biarkanlah kami bicara
hari ini
lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu puja
lewat kesunyian suasana
orang-orang yang mengheningkan cipta
Gelora
Th III, No 19 ( Nopember 1962)
Sajak-sajak Perjuangan
dan Nyanyian Tanah Air
Tuan
Tuan Tuhan, bukan?
Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Sajak Subuh
Waktu mereka membakar
gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka
berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia
tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan
mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka
membakar tempat tinggalnya.
"Jangan
bermimpi!" gertak mereka.
Suara itu terpantul di
bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar,
lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka
memukulnya, "Jangan bermimpi! "
Ia rubuh dan kembali
bermimpi tentang mata air dan .....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Sajak Telur
dalam setiap telur
semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam
setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari
memecah udara dingin
memuncak ke lengkung
langit menukik melintas sungai
merindukan telur
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Selamat Pagi Indonesia
selamat pagi,
Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil
buatmu.
aku pun sudah selesai,
tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi
untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa
mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus
untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di
wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan
yang sabar,
di telapak tangan yang
membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat
dengan kenyataan
untuk diam-diam
mencintaimu.
pada suatu hari tentu
kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau
melahirkanku.
seekor ayam jantan
menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan
sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja,
menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi
batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada
setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang
ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh
anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan
menyalakan api,
dan di telapak tangan
para lelaki yang tabah
telah hancur
kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi,
Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si
anak kecil;
terasa benar : aku tak
lain milikmu
Basis
Thn. XV – 4 Januari 1965
Sajak-sajak Perjuangan
dan Nyanyian Tanah Air
Seruling
Seruling bambu itu
membayangkan ada yang meniupnya, menutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan
pangeran dan putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdunya
....
Ia meraba-raba
lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa menganga.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Setangan Kenangan
Siapakah gerangan yang
sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah
malam ketika seluruh kota kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti
menggelepar- gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang
rencana ....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Sihir Hujan
Hujan mengenal baik
pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa
dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya
meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau
matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar
membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar
sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Sudah Kutebak
Sudah kutebak
kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang
sepasang ikan yang menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan
tubuh di karang-karang,
menyambar,
berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabok
membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail
masih terkantuk-kantukdi tepi sungai itu.
Sendirian.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Tajam Hujanmu
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur
mencintaimu:
payung terbuka yang
bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari
pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di
bawah sepatu,
arloji yang buram
berair kacanya,
dua-tiga patah kata
yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Tekukur
Kautembak tekukur itu.
Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar di
sela-sela jari angin, satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar
pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.
Selembar bulunya ingin
sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir, namun angin
hanya meletakkannya di tebing sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka
itu?" gerutumu.
Tetes-tetes darahnya
melayang : ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar matahari, membiaskan
wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.
"Merdu benar suara
tekukur itu," kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia
merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Telinga
"Masuklah ke
telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke
telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa
pun
secara terperinci --
setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
"Masuklah,"
bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa
menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Tentang Matahari
Matahari yang di atas
kepalamu itu
adalah balonan gas yang
terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah
bola lampu
yang di atas meja
ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima
dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang
berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak
kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini
matahari!"
Matahari itu? Ia memang
di atas sana
supaya selamanya kau
menghela
bayang-bayanganmu itu.
Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi:
memungut detik demi
detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana
adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
1989
Sajak Kecil Tentang Cinta
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
Pada Suatu Hari Nanti
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
Nokturno
kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya
gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap…
Ketika Jari-Jari Bunga Terluka
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…
Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
Hutan Kelabu
kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian
Buat
Ning
pasti
datangkah semua yang ditunggu
detik-detik
berjajar pada mistar yang panjang
barangkali
tanpa salam terlebih dahulu
januari
mengeras di tembok itu juga
lalu
desember…
musim
pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba
kita bergegas pada jemputan itu
Gadis
Kecil
Ada
gadis kecil diseberangkan gerimis
di
tangan kanannya bergoyang payung
tangan
kirinya mengibaskan tangis
di
pinggir padang,ada pohon
dan
seekor burung…
Dalam
Diriku
dalam
diriku mengalir
sungai
panjang
darah
namanya…
dalam
diriku menggenang
telaga
darah
sukma
namanya…
dalam
diriku meriak
gelombang
suara
hidup
namanya…
dan
karena hidup itu indah
aku
menangis sepuas-puasnya…
Tiba-Tiba
Malam pun risik
tiba-tiba
malam pun risik
beribu
Bisik
tiba-tiba
engkau pun lengkap menerima
satu-satunya
Duka
Percakapan
Malam Hujan
Hujan,
yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang
listrik.
Katanya
kepada lampu jalan,
“Tutup
matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”
“Kau
hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;
asalmu
dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah,
jangan menggodaku tidur.
Aku
sahabat manusia. Ia suka terang.”
[Hujan Bulan Juni, 1973]
Bunga-Bunga
di Halaman
mawar
dan bunga rumput
di
halaman: gadis yang kecil
(dunia
kecil, jari begitu
kecil)
menudingnya…
mengapakah
perempuan suka menangis
bagai
kelopak mawar; sedang
rumput
liar semakin hijau suaranya
di
bawah sepatu-sepatu…
mengapakah
pelupuk mawar selalu
berkaca-kaca;
sementara tangan-tangan lembut
hampir
mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)…
[1968]
Sonet:
X
siapa
menggores di langit biru
siapa
meretas di awan lalu
siapa
mengkristal kabut itu
siapa
mengertap di bunga layu
siapa
cerna di warna ungu
siapa
bernafas di detak waktu
siapa
berkelebat setiap kubuka pintu
siapa
mencair di bawah pandangku
siapa
terucap di celah kata-kataku
siapa
mengaduh di baying-bayang sepiku
siapa
tiba menjemputku berburu
siapa
tiba-tiba menyibak cadarku
siapa
meledak dalam diriku
:
Siapa aku
Dalam
Doa
saat
tiada pun tiada
aku
berjalan (tiada
gerakan,
serasa
isyarat)
kita pun bertemu
sepasang
tiada
tersuling
(tiada
gerakan,
serasa
nikmat):
Sepi meninggi.
Kami
Bertiga
dalam
kamar ini kami bertiga :
Aku,
pisau dan kata –
kalian
tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak
peduli darahku atau darah kata
Pada
Suatu Pagi
maka
pada suatu pagi hari
ia
ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia
ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik
dan
lorong sepi
agar
ia bisa berjalan sendiri saja
sambil
menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia
tidak ingin menjerit-jerit
berteriak-teriak
mengamuk
memecahkan cermin
membakar
tempat tidur.
Ia
hanya ingin menangis lirih saja
sambil
berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di
lorong sepi pada suatu pagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar